Jumat, 10 April 2026

Internasional

Perdana Menteri Inggris, Dari Mendukung Trump Jadi Berbalik Arah

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson awalnya memberi dukungan kepada Presiden AS Donald Trump jadi berbalik arah.

Editor: M Nur Pakar
AP
Presiden Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, berbicara kepada media sebelum sarapan pagi di Hotel du Palais di sela-sela KTT G-7 di Biarritz , Prancis pada 25 Agustus 2019. 

SERAMBINEWS.COM, LONDON - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson awalnya memberi dukungan kepada Presiden AS Donald Trump jadi berbalik arah.

Johnson sempat mengatakan banyak hal baik tentang Donald Trump selama bertahun-tahun.

Mulai dari mengungkapkan kekaguman kepada presiden AS itu, hingga menyarankan dia mungkin layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian.

Dilansir AP, Kamis (14/1/20210), tetapi setelah kerumunan pendukung Trump menyerbu Capitol AS pada 6 Januari, Johnson mengubah nadanya.

Baca juga: Inggris Keluar Uni Eropa, Irlandia Utara Mulai Kekurangan Bahan Makanan

Trump, katanya, telah mendorong pemberontakan dengan kekerasan.

Untuk mempermasalahkan hasil dari pemilihan yang bebas dan adil dan sepenuhnya salah.

Itu adalah poros dramatis bagi seseorang yang sering dibandingkan dengan Trump.

Bahkan, selama bertahun-tahun menahan diri untuk tidak mengkritiknya secara terbuka.

Para pemimpin dunia lainnya juga menghadapi dilema dalam berurusan dengan presiden yang mudah berubah.

Bahkan, tidak dapat diprediksi dengan janji menghancurkan dan institusi internasional diabaikan.

Tetapi para kritikus mengatakan pujian Johnson bertahun-tahun telah merugikan otoritas internasional Inggris.

Bahkan, beberapa pemimpin yang berupaya meniru gaya Trump telah meracuni budaya politiknya sendiri.

Baca juga: Inggris Sorot Pelanggaran HAM di Xinjiang, Minta China Beri Akses PBB

Leslie Vinjamuri, Direktur Program AS dan Amerika di lembaga pemikir Chatham House mengatakan masalah menangani Trump telah menjadi pertanyaan terbesar.

Khususnya para diplomat Barat dalam empat tahun terakhir kekuasaan Trump.

"Dan saya akan mengatakan bahwa Inggris berada di pihak yang salah," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved