Banjir di Aceh Tamiang
Setiap Tahun, Daratan di Telukhalban Berkurang karena Tergerus Banjir
Setiap tahun, kawasan pesisir ini memang kerap disinggahi banjir, baik karena kiriman dari hulu atau disebabkan air pasang laut.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Taufik Hidayat
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Kampung Telukhalban, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang sudah tidak asing dengan banjir.
Setiap tahun, kawasan pesisir ini memang kerap disinggahi banjir, baik karena kiriman dari hulu atau disebabkan air pasang laut.
Tingginya debit air ini tidak didukung dengan ketersediaan tanggul permanen yang mampu menghalau arus sungai.
Tebing sungai yang masih alami atau berupa tanah, membuat air sungai secara leluas menggerus daratan hingga membuat bibir sungai semakin dekat dengan pemukiman.
“Dulu sungai jauh dari rumah, tapi karena setiap tahun terus banjir, makin lama makin kemari (ke rumah), semakin dekat ke rumah,” kata Tajuddin (71) warga yang sudah menerap di Telukhalban sejak 1977, Minggu (24/1/2021).
Meski sudah terbiasa dengan banjir, Tajuddin menilai banjir kali cukup parah. Selain ketiggian air merendam jalan aspal, juga terjadi tiga kali sepanjang Januari 2021.
“Ini yang ketiga kali di bulan ini, habis semua sawah kami. Tidak ada yang bersisa,” ungkapnya.
Siang itu, pemukiman tempat Tajuddin tinggal mendapat tamu istimewa karena dikunjungi istri Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati dan rombongan Forkopimda Aceh Tamiang. Namun tidak terlihat ekspresi bahagia di raut pria tua ini, dia tetap memilih duduk di teras rumah panggung kayunya.
Padahal halaman samping rumahnya dijadikan hilir mudik pejabat meninjau tanggul yang jebol, termasuk Dyah Erti Idawati.
“Setahun lalu lebih ramai lagi, ada Gubernur, Pangdam, Kapolda, macam-macam yang datang. Berdiri pas di depan rumah, tidak ada juga perbaikan,” ujarnya pesimis.
Baca juga: Istri Gubernur Aceh Kunjungi Lokasi Banjir di Aceh Tamiang
Baca juga: Antar Bantuan Korban Banjir di Aceh Tamiang, Istri Gubernur Sempat Cek Kerusakan Tanggul
Baca juga: Pemburu Harta Karun Inggris dan Prancis Berburu Kunci Kotak Emas Entente Cordiale
Baca juga: Polisi Tetapkan Satu Staf Disdik Bener Meriah jadi Tersangka Kasus Dugaan Peredaran Ijazah Palsu
Hal serupa disampaikan Sekretaris Mukim Bendahara Hilir, Muhammad Daud yang meminta Pemerintah Aceh datang dengan sebuah solusi.
Bukan bermaksud menolak bantuan, Daud menegaskan bila persoalan tanggul bisa diselesaikan, masyarakat bisa mendapatkan hal lebih baik dibandingkan telur dan beras.
“Kemari jangan bawa telur dan beras, tapi selesaikan persoalan tanggul kami. Kalau tanggul beres, masyarkat kami bisa menghasilkan lebih dari telur dan beras,” kata Daud.
Daud mengatakan akibat banjir beruntun sepanjang Januari 2021, ekonomi masyarakat mati sepenuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/duduk-santai.jpg)