Breaking News:

Jaksa Tuntut Keuchik Enam Tahun Penjara , Kasus Bacok Warganya

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Utara menuntut Keuchik Pulo Kitou, Kecamatan Meurah Mulia, M Yusuf Doni

Editor: bakri
For Serambinews.com
Korban pembacokan oleh oknum keuchik mendapat perawatan medis di RSUD Cut Meutia Aceh Utara, Sabtu (29/8/2020) malam. 

LHOKSUKON – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Utara menuntut Keuchik Pulo Kitou, Kecamatan Meurah Mulia, M Yusuf Doni enam tahun penjara atas perbuatannya membacok warganya, Zulkarnain. Materi tuntutan tersebut dibacakan JPU, Mulyadi SH dan Simo SH dalam sidang lanjutan kasus itu PN Lhoksukon, Kamis (28/1/2021).

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Keuchik Pulo Kitou, pada 29 Agustus 2020, menyerahkan diri ke Mapolsek Meurah Mulia, Aceh Utara setelah membacok warganya, Zulkarnaini (34)  di lintasan line pipa, kawasan Desa Ujong Reuba, Kecamatan Meurah Mulia.

Lalu, M Yusuf Doni dijemput delapan personel Polres Lhokseumawe dari Mapolsek untuk diamankan ke Mapolres guna menghindari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedangkan korban saat itu langsung dibawa ke RSU Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara untuk mendapat perawatan medis.

Materi yang dibacakan JPU antara lain menguraikan kronologis kejadian pemacokan yang terjadi pada malam hari tersebut. Akibatnya, kata jaksa, korban mengalami luka berdasarkan hasil visum, luka robek di atas pergelangan tangan kanan bagian luar, luka robek di siku tangan kanan, dan luka robek di tangan kiri.

Jaksa juga menyampaikan hal-hal yang memberatkan bagi terdakwa dalam kasus itu, antara lain perbuatan terdakwa menyebabkan korban menderita luka yang permanen. Selain itu, perbuatan terdakwa dapat menghilangkan nyawa orang lain. Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa mengaku menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

Menurut jaksa, perbuatan terdakwa tersebut melanggar Pasal 338 ayat (2) juncto Pasal 53 KUHPidana. Karena itu, jaksa meminta supaya majelis hakim yang menangani perkara tersebut dapat menjatuhkan hukuman dengan penjara selama enam tahun, dikurangi dengan masa tahanan yang sudah dijalani.

Karena, setelah kejadian tersebut terdakwa langsung ditahan. Penahanan pertama terhadap terdakwa dilakukan pada 30 Agustus sampai 18 September ketika kasus itu ditangani penyidik Polres Lhokseumawe. Lalu, perpanjangan kedua dari 26 Oktober sampai dengan 14 November 2020. Kini terdakwa masih menjalani penahanan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Lhoksukon.

Selain itu, jaksa juga meminta kepada hakim untuk membebankan biaya perkara dalam kasus tersebut kepada terdakwa. Usai mendengar materi tuntutan tersebut, hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk mengajukan pembelaan pada sidang pekan depan.

Sementara korban, Zulkarnain kepada Serambi, menyebutkan, pada hari tuntutan terdakwa juga hadir ke PN Lhoksukon untuk mendengarnya. Sidang tersebut diadakan secara online, majelis hakim dan pengacara terdakwa Taufik M Noer SH mengikuti sidang di Pengadilan. Sedangkan Jaksa di Kantor Kejari dan terdakwa di Lapas Kelas IIB Lhoksukon.

Zulkarnain mengaku kedua tangannya sekarang tidak berfungsi secara normal lagi setelah pembacokan tersebut. Bahkan sampai sekarang masih pen dalam tangannya yang dipasang petugas medis. “Jangankan untuk mengangkat benda berat, untuk mengendarai sepeda motor saja sekarang susah. Memang tangan saya tidak bisa berfungsi secara normal lagi,” ujar Zulkarnaini.

Sementara pengacara terdakwa, Taufik M Noer SH dalam sidang tersebut menyebutkan, dirinya akan mengajukan pembelaan terhadap kliennya secara tertulis dalam sidang pekan depan. “Saya sudah meminta waktu sepekan kepada hakim untuk menyusun maeteri pembelaan, dan pekan depan akan saya sampaikan,” pungkas Taufik.(jaf)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved