Breaking News:

Kisah Inspiratif

Kisah Miswardi, Warga Aceh yang Jadi Transmigran di Sumsel, Hijrah Karena Konflik Hingga Jadi Ustaz

Miswardi MA kini menjabat Ketua Umum Pengurus Masjid Jamik Nurul Huda Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR
Miswardi MA, tokoh masyarakat Teluk Betung Pulau Rimau Sumsel asal Aceh. 

SERAMBINEWS.COM – Peristiwa kontak senjata antara prajurit TNI dan gerilyawan GAM di Pasar Panton Labu, Aceh Utara, tahun 1988, benar-benar mengubah perjalanan hidup Iswar, pemuda asal Gampong Aree, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie.

33 tahun kemudian, pria kelahiran tahun 1968 yang dulu hanya seorang pekerja di warung nasi di Panton Labu Aceh Utara, telah menjadi tokoh masyarakat di Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Iswar, yang kini bernama Miswardi MA saat ini menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Masjid Jamik Nurul Huda Teluk Betung, Kecamatan Pulau Rimau, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Saya hijrah dari Aceh pada tahun 1988. Sempat beberapa bulan di Medan, kemudian pindah ke Palembang. Dua tahun kemudian saya terdampar ke sini, sebuah wilayah yang dulu sangat tertinggal dalam segala bidang,” kata Miswardi membagi kisahnya kepada Serambinews.com.

Pada Jumat (29/1/2021) lalu, kami sengaja datang dari Jakarta ke Pulau Rimau untuk bertemu Miswardi.

Saat kami datang, jalanan menuju ke Pulau Rimau telah jauh lebih baik.

“Dulu ketika saya pertama kali datang ke sini, jalanan ini tidak bisa dilewati dengan mobil minibus. Hanya truk pengangkut sawit yang bisa lewat,” ungkap Miswardi, pria jebolan SD Redelong Aceh Tengah (kini Kabupaten Bener Meriah) dan sempat mengecap pendidikan MTsN di Gampong Aree Pidie.

Pria kocak ini bercerita, saat pertama kali datang ke Pulau Rimau, dia hanya membawa modal awal sebesar Rp 400 ribu, tabungan hasil kerja selama sekitar satu tahun di Pasar Cinde Palembang.

“Saat di Pasar Cinde, saya bekerja atau tepatnya mencari pengalaman pada pedagang asal Gampong Aree yang telah duluan berdagang di sana. Saya memang tidak minta digaji, tapi hanya meminta diturunkan ilmu dan pengalaman berdagang,” ujar Miswardi.

Dengan modal hanya Rp 400 ribu, tak ada pilihan bagi Miswar selain mencoba peruntungan di kawasan pedalaman yang masih terbelakang.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved