Breaking News:

Salam

Dalam Kondisi Apapun, Sikap Kritis Harus Tetap Tumbuh

Tenaga ahli Kepala Staf Presiden (KSP) Ade Irfan Pulungan menilai Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) terkesan ingin memprovokasi

CHRISTOFORUS RISTIANTO/KOMPAS.com
Ade Irfan Pulungan 

Tenaga ahli Kepala Staf Presiden (KSP) Ade Irfan Pulungan menilai Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK) terkesan ingin memprovokasi keadaan usai melontarkan pertanyaan bagaimana cara masyarakat bisa mengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) tanpa harus dipanggil polisi.

"Jadi sangat ironis sekali saya katakan, jika Pak Jusuf Kalla menyampaikan itu, dan disampaikannya dalam forum suatu partai, sepertinya dia ingin memanas-manasi atau memprovokasi keadaan untuk bisa memberikan arah kepada partai tersebut," kata Ade. Sebelumnya, dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional, Presiden Jokowi meminta masyarakat aktif mengkritik pemerintah. Lalu, seruan kritik dari Presiden itu mendapat tanggapan dari berbagai kalangan, antara lain Jusuf Kalla.

JK berpandangan bahwa pernyataan Jokowi untuk dikritik seperti tidak berbanding lurus dengan kenyataanya. Mantan wakil presiden dua periode itu mengatakan kritik dari masyarakat acap kali berujung pelaporan ke pihak kepolisian. "Beberapa hari lalu Bapak Presiden mengumumkan silakan kritik pemerintah. Tentu banyak yang ingin melihatnya bagaimana caranya mengkritik pemerintah tanpa dipanggil polisi?" kata JK saat menjadi pembicara diskusi 'Mimbar Demokrasi Kebangsaan' yang digelar sebuah partai nasional.

Komentar itulah yang dianggap KSP sebagai terkesan memprovokasi. Dan, tanggapan KSP itu kemudian dikomentari banyak kalangan. Anggota Komisi III DPR RI, Didik Mukrianto, merasa kasihan pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo. Saat Jokowi meminta dikritik oleh publik, pihak-pihak di lingkaran Istana justru cenderung 'berkuping tipis'. "(Tanggapan KSP itu) Bukan hanya protektif, tapi berpotensi menjauhkan logika publik terhadap pemaknaan demokrasi dan kebebasan sipil," imbuhnya.

Sedangkan Ray Rangkuti, seorang aktivis LSM, mengatakan, "Pernyataan JK tersebut juga memperlihatkan keheranan beliau akan situasi yang berubah itu. Mengapa sikap kritis begitu cepat dipolisikan, dan polisi juga terlihat begitu cepat memprosesnya."

Menurut Koordinator Gerakan Nasional Rakyat Bersama Jokowi (GN-RBJ), Adi Kurniawan, jika Presiden Jokowi mau dikritik harus menertibkan dulu para buzzer. Sebab para buzzer selalu jadi penghalang pihak-pihak yang mengkritik pemerintahan. "Bagi saya percuma juga Presiden mempersilakan masyarakat mengkritik jika para buzzer itu tidak ditertibkan. Terutama yang suka lapor sana lapor sini," ujar Adi Kurniawan.

Politikus PDI Perjuangan Ruhut Sitompul mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi termasuk dalam menyampaikan kritik dibenarkan dalam iklim demokrasi. Namun, katanya, kritik yang disampaikan harus bisa dipertanggungjawabkan. Selain itu dibedakan antara kritik dengan caci maki, dan ujaran kebencian. “Jadi, tolong, jangan ada yang merasa, kok sedikit-sedikit lapor polisi. Kan ada dasar hukumnya."

Kita menyambut positif harapan Jokowi agar masyarakat aktif mengkritik pemerintahan yang sedang dipimpinnya. Toh, salah satu prinsip yang ditetapkan dalam pemerintahan di manapun adalah prinsip pengawasan. Pemerintah yang baik adalah jika terdapat sistem pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Salah satu yang berfungsi sebagai pengawas adalah rakyat. Oleh karenanya, sebagai bentuk pengawasan rakyat pada pemerintah adalah memberikan kritik pada pemerintah apabila terdapat kekeliruan atau suatu kebijakan yang dirasa kurang berpihak pada rakyat.

Intinya, pemerinahan yang baik dan demokratis itu memang harus terbuka terhadap kritik. Dan, masyarakat yang hidup di alam demokrasi juga harus berani mengeluarkan pendapat sebagai masukan untuk perbaikan pemerintahan.

Seorang cendikiawan muslim pernah menulias bahwa, “Dalam ajaran Islam, kritik termasuk dalam ajaran amar makruf nahi mungkar (QS Ali-Imran: 110). Oleh karena itu, secara umum, Islam mengatur etika dalam menyampaikan kritikan, di antaranya: Pertama, memberi kritikan dengan ikhlas. ... Artinya, kritikan yang disampaikannya benar-benar didasari dengan ilmu di bidangnya.6 Agu 2020.” Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved