Breaking News:

Berita Pidie

Jamaah Safari Subuh Sambangi Kediaman Bocah Gagal Ginjal

Selama ini Susi bersama kedua anaknya Shakira Wilda (7) dan Muhammad Luthfi (2,4) tinggal di gubuk reyot beratap daun rumbia dengan luas  3x4,5 meter.

Penulis: Idris Ismail | Editor: Taufik Hidayat
Serambinews.com
Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud ST (tiga kiri) bersama Koorsinato, Dr Tgk Amri Fatmi LC MA (dua kanan) serta ketua Jamaah Safari Subuh Ahad Baraqah, Tgk H Jamal Abadi (dua kiri) serta rombongan menyambangi rumah bivah gagal ginjal di Gampong Sagoe Teumpuen, Kemukiman Jeurat Mayang, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Minggu (21/2/2021) 

Laporan Idris Ismail | Pidie

SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Ratusan jamaah Safari Subuh Kabupaten Pidie bersama Jamaah Safari Ahad Al-Baraqah Kecamatan Mutiara menyambangi kediaman bocah gagal ginjal, Muhammad Luthfi (2,4) di Gampong  Sagoe Teumpuen, Kemukiman Jeurat Mayang, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie,.Minggu (21/2/2021).

Dalam kunjungan itu turut didampingi Wakil Bupati Pidie, Fadhlullah TM Daud ST bersama koordinator ketua Safari Subuh Pidie, Dr Amri Fatmi LC MA serta ketua Safari Subuh Ahad Al-Baraqah Kecamatan Mutiara, Tgk H Jamal Abadi, dan Ketua verifikasi Tgk Ikhsan Sulaiman.

"Dengan kondisi sosial memprihatinkan terhadap bocah gagal ginjal ini kami turut memberikan empati sumbngan sekaligus mencari solusi untuk pembangunan rumah layak huni secara bersama sama dengan Jamaah Safari Ahad Al-Baraqah," sebut Fadhlullah TM Daud ST kepada Serambinews.com, Minggu (21/2/2021)..

Selama ini rumah gubuk reot itu ditempati oleh Susi Susanti selaku ibu kandung Muhammad Luthfi serta Shakira Wilda (7) selaku kakak kandung. Kondisi memprihatinkan.

Maka pihak kedua Jamaah Safari Subuh Kabupaten Pidie serta Jamaah Safari Subuh Ahad Al-Baraqah Mutiara dalam waktu dekat akan membangun kembali rumah tersebut agar layak huni.

Tgk H Jamal Abadi selaku ketua Jamaah Safari Subuh Ahad Al-Baraqah kepada Serambinews.com, Minggu (21/2/2021) secara terpisah mengatakan, dengan kondisi serba terbatas baik dalam keuangan serta tempat tinggal maka rumah masyarakat misin ini lebih layak untuk di bangun kembali rumah layak huni dengan disertai fasilitas pendukung.

"Menindaklanjut ini kami dalam waktu dekat segera melakukan koordinasi baik dengan para jamaah kecanatan serta kabupaten dalam menggalang donasi demi meringankan beban derita ibunda Muhammad Lufhfi," ujarnya.

Baca juga: Anak Simpan Jenazah Ibunya Selama 30 Tahun, Begini Alasannya Kepada Polisi

Baca juga: VIDEO - Pria Berdiri di Tiang Fly Over Berencana Loncat, Aksinya Gagal, Mantan Istri Datang Membujuk

Baca juga: Foto Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Yogyakarta, Lava Mengalir Turun dari Kawah

Baca juga: CPNS 2021 Dibuka, Terbanyak Formasi Guru & Tenaga Kesehatan, Jangan Lupa Siapkan Syarat Wajib Ini

Putra kedua dari pasangan Razibullah bin Samuddin (Almarhum) - Susi Susanti (27) ini sejak delapan bulan telah diketahui menderita gagal ginjal sehingga sampai saat ini pihak keluarga miskin ini secara kontiyu terus berobat walau dengan segala keterbatasan dana.

Saat usia delapan bulan, ayahnya, Razibullah bin Samuddin meninggal dunia sehingga segala tanggung jawab kehidupan terpundak pada ibunya, Susi.

"Saya menghadapi ujian ini dengan penuh kesabaran," tutur Susi Susanti kepada Serambinews.com, Minggu (7/2/2021) lalu  dengan nada suara tertahan sembari dengan raut wajah tertunduk saat di sambangi Serambi ke rumah kediamannya.

Selama ini Susi bersama kedua anaknya Shakira Wilda (7) dan Muhammad Luthfi (2,4) tinggal di gubuk reyot beratap daun rumbia dengan luas  3 x 4,5 meter. Saban hari sang ibu Luthfi menyambung harapan hidup dengan menjadi buruh pengrajin emping biji melinjo.

Baca juga: CPNS 2021 Dibuka, Terbanyak Formasi Guru & Tenaga Kesehatan, Jangan Lupa Siapkan Syarat Wajib Ini

Baca juga: VIDEO - Viral Nenek Penjual Piring Ditipu Pembeli, Dibayar Pakai Amplop Berisi Potongan Koran

Baca juga: Tim BPKP Aceh Audit Investigasi Proyek Pengaman Pantai Cunda - Meuraksa Lhokseumawe Rp 4,9 Miliar

Dalam setiap hari hanya mampu menyelesaikan upahan rata-rata dua bambu. Praktis, dalam setiap hari hanya mampu menghasilkan jerih  usaha Rp 24.000. Artinya, setiap bambu ia hanya mendapat upah Rp 12.000. 

Dari hasil peras keringat inilah Susi Susanti mengasapi dapur untuk kedua buah hatinya. Dala. Iapun tak patah arang dengan kesetian ibu mertuanya, Maimunah (54) yang senasib hidup dengannya (menjadi buruh tani upahan) menjadi 'Sahabat Hidup' dalam terus bergelut dengan kehidupan pas-pasan. 

"Jujur saja, dalam setiap pekan, Luthfi  wajib diboyong  ke Rumah Sakit Umum (RSU) Mufid Sigli pada setiap Jumat sore guna mengontrol kondisi kesehatan ginjalnya secara rutin demi tahapan penyebuhan,"demikian Susi Susanti.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved