Breaking News:

Salam

Berhentilah Percaya pada Bisnis Sejenis MLM

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin mewartakan bahwa Rosmawati, seorang reseller atau penjual produk-produk Yalsa Boutique

Editor: hasyim
SERAMBINEWS.COM/HENDRI ABIK
Pemilik Yalsa Boutique, Siti Hilmi Amirulloh menyerahkan bingkisan kepada Ketua Dekranasda Banda Aceh, Hj Nurmiaty AR pada acara Peluncuran Busana Muslim milik Yalsa Boutique, di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, Sabtu (23/1/2021). 

Harian Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin mewartakan bahwa Rosmawati, seorang reseller atau penjual produk-produk Yalsa Boutique mengaku sempat diancam bacok oleh member butik muslimah tersebut saat meminta uang mereka kembali.

Ancaman itu diterima Rosmawati menyusul terbongkarnya dugaan investasi bodong yang dijalankan oleh Yalsa Boutique. Kasus ini pun sekarang sedang ditangani oleh Dit Reskrimsus Polda Aceh setelah dilapor oleh para membernya beberapa waktu lalu. Ia diancam bacok oleh member saat meminta uang mereka untuk dikembalikan. "Tapi bagaimana saya mau mengembalikannya, sedangkan tips belum ada, pencairan juga tidak ada," kata Rosmawati didampingi temannya, Nur Cahaya dalam konferensi pers di Banda Aceh Sabtu (27/2/2021). Nur Cahaya dan Rosmawati tak bisa menahan amarah dan rasa takutnya saat bercerita tentang kasus tersebut. Mereka bahkan sempat menangis sambil meluapkan emosi saat menjelaskan nasibnya yang harus berurusan dengan polisi karena tersangkut dugaan investasi bodong yang dijalankan Yalsa Boutique.

Polda Aceh sampai kini terus memeriksa pemilik (owner), admin hingga reseller produk Yalsa Boutique. Oleh karena itu, Nur Cahaya dan Rosmawati sebagai reseller di butik tersebut mau tidak mau harus ikut terseret dalam pusaran masalah yang dialami Yalsa Boutique. Rosmawati mengaku sekarang siang malam ia selalu dicari members. Mereka bahkan datang langsung ke rumah untuk menagih uang. "Kami takut member-member kami banyak yang mengancam. Saya sangat trauma, tidur saja sudah enggak bisa, kerja juga enggak bisa, karena dicari-cari terus tambah," Nur Cahaya.

Nah, wajar saja kalau Rosmawati dan Nur Cahaya dicari-cari para anggota jaringan investasi yang kini disebut-sebut bodong itu. Soalnya, sekitar 500 members yang bergabung dalam bisnis ini semuanya kini merasa tertipu. Ada yang berinvestasi hanya Rp 2 juta, Rp 5 juta, dan Rp 10 juta. Namun, ada juga yang investasinya sampai Rp 100 juta. Semua mereka ini adalah orang yang tergiur pada tips atau bonus dari investasi yang ia tanamkan. Dulu, di awal-awal, Rosmawati dan Nur Cahaya adalah orang yang telah merasakan benefit dari bisnis pakaian muslimah atau baju gamis ini. Dalam tempi hanya satu hingga tiga bulan, mereka mendapat tips (persenan), mulai dari 10, 20, hingga 30 persen dari nilai investasinya. Karena sudah merasakan manfaatnyalah sehingga mereka makin tergiur.

Lalu mereka bergerak untuk memperluas jaringan karena mereka pun mendapat fee besar jika mampu merekrut member baru. Bermula member dari kalangan keluarga, tetangga, dan teman sekantor, duet Rosmawati dan Nur Cahaya pun berhasil menghimpun dana masyarakat Rp 2 miliar lebih dari 500-an member. Nah, setelah tiga bulan, tips atau bonus yang dijanjikan owner Yalsa Boutique ternyata tak lagi lancar, bahkan sama sekali tak lagi dibayarkan. Di sinilah awal petaka itu terungkap. Yalsa Boutique patut diduga melakoni bisnis investasi bodong. Ya, kurang lebih samalah dengan bisnis multilevel marketing (MLM) yang hampir saban tahun dulunya menipu ratusan bahkan ribuan anggotanya. Di Aceh sendiri pun contoh bisnis seperti ini sudah sering memakan korban.

Di antaranya apa yang dilakukan gadis Nova tiga tahun lalu. Ia tak dapat mengembalikan modal, apalagi bonus untuk para membernya. Gadis ini akhirnya dihukum penjara, tapi ratusan korbannya tetap saja gigit jari, karena uang yang diinvestasikannya tidak kunjung kembali sepeser pun. Berkaca dari pengalaman pahit seperti ini, maka berhentilah menjadi anggota, member, atau nasabah dari bisnis-bisnis seperti ini. Pakailah logika, bagaimana mungkin sebuah perusahaan sampai menawarkan tips atau bonus hingga 50 persen dari nilai investasi hanya dalam tempo satu atau tiga bulan?

Curigalah bahwa bonus yang Anda dapatkan itu semata-mata uang Anda sendiri yang mereka klaim sebagai bonus. Hanya dalam hitungan paling lama enam bulan, biasanya kedok bisnis investasi seperti ini langsung ketahuan belangnya. Mereka hanyalah melakoni bisnis investasi bodong. Orang-orang seperti ini, terutama owner-nya, harus harus dihukum maksimal menggunakan Undang-Undang Perbankan dan KUHPidana karena secara bersama- sama menghimpun dana masyarakat dan diputar untuk tujuan tertentu secara melawan hak dan sama sekali tidak mendapat izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi, Polda Aceh haruslah bersungguh-sungguh mengusut kasus ini dan menjerat siapa pun yang terlibat, tanpa kecuali. Jaksa harus pula menuntut mereka dengan tuntutan maksimal, hakim pun harus memutus perkara ini kelak dengan menjatuhkan hukuman maksimal kepada para pelaku disertai denda yang besar agar benar-benar menimbulkan efek jera.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved