Senin, 8 Juni 2026

Luar Negeri

Para Pastor di Prancis Lecehkan 10.000 Orang, Termasuk Anak di Bawah Umur

Para pastor Katolik di Prancis telah melecehkan setidaknya 10.000 orang, termasuk anak di bawah umur dan orang rentan lainnya.

Tayang:
Editor: Faisal Zamzami
tribunlampung.co.id/dodi kurniawan
Ilustrasi - Pencabulan 

SERAMBINEWS.COM- Para pastor Katolik di Prancis telah melecehkan setidaknya 10.000 orang, termasuk anak di bawah umur dan orang rentan lainnya.

Pelecehan ini berlangsung sejak tahun 1950.

Dilansir CNN, aksi pelecehan selama 71 tahun tersebut terbongkar berdasarkan penyelidikan Komisi Independen Pelecehan Seksual di Gereja (CIASE) di Prancis.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Senin (1/3/2021) lalu, CIASE memperkirakan bahwa jumlah korban bisa mencapai 'setidaknya sepuluh ribu'.

Komisi tersebut mengatakan, sejauh ini pihaknya telah menerima 6.500 kesaksian.

Setidaknya, 3.000 orang merupakan korban yang berbeda.

"Sangat mungkin jumlah korban setidaknya mencapai 10.000," kata presiden CIASE, Jean-Marc Sauvé.

"Pekerjaan masih berlangsung, dan khususnya survei terhadap masyarakat umum, akan memungkinkan untuk menentukan jumlahnya," imbuhnya.

Diketahui, CIASE dibentuk pada 2018 oleh hierarki Gereja Katolik Prancis dan lembaga keagamaan.

CIASE didirikan setelah skandal pelecehan terungkap.

Komisi ini dibiayai oleh konferensi Uskup Katolik Prancis.

Namun, para anggotanya tidak dibayar dan tidak menerima instruksi dari gereja.

Dalam melaksanakan tugasnya, CIASE dapat mengakses arsip keuskupan dan lembaga keagamaan untuk penyelidikan.

CIASE dijadwalkan akan menyampaikan laporan akhirnya pada musim gugur 2021.

Kasus pertama kali dilaporkan

Pada Mei 2019, Paus Fransiskus mengeluarkan aturan global untuk melaporkan pelecehan seksual di Gereja Katolik.

Paus mengamanatkan untuk pertama kalinya agar semua keuskupan mengatur sistem untuk melaporkan pelecehan dan penyembunyian kebenaran.

Aturan tersebut mengharuskan semua keuskupan Katolik di seluruh dunia untuk memiliki sistem yang dapat diakses oleh publik.

Informasi yang ditutupi hanya diperbolehkan untuk prosedur internal Gereja Katolik, bukan masalah pelaporan pelecehan atau otoritas sipil.

Aturan ini harus diikuti oleh semua keuskupan.

Uskup Agung Charles Scicluna, penyelidik utama pelecehan seksual di Vatikan, mengatakan kepada CNN pada saat itu bahwa aturan baru tersebut menambah lapisan akuntabilitas bagi para pemimpin gereja.

"Pertama-tama, kepemimpinan itu tidak di atas hukum," ujar Scicluna.

"Dan kedua, yang para pemimpin perlu tahu, bahwa jika orang-orang mencintai Gereja, mereka akan mencela kami ketika kami melakukan sesuatu yang salah," imbuhnya.

Kasus Asusila Lainnya

Seorang pastor ditangkap dengan tuduhan berhubungan intim bersama dua wanita di altar gereja.

Aksi tersebut sengaja direkam menggunakan ponsel dan kamera oleh pemeran perempuan.

Dilansir surat kabar setempat, Nola.com, peristiwa terjadi pada 30 September 2020 lalu.

Pada 30 September 2020 sebelum pukul 11 malam waktu setempat, seorang saksi berjalan melewati Gereja Katolik Roma Saints Peter and Paul, Pearl River, New Orleans, AS.

Saksi yang tak disebutkan namanya itu mengatakan, lampu gereja tampak menyala, tak seperti biasanya.

Lantas, dia melihat ke dalam melalui jendela dan pintu kaca.

Menurut dokumen Pengadilan Distrik Yudisial ke-22 Louisiana, Covington, saksi melihat seorang pastor paroki sedang berhubungan intim dengan dua wanita di altar.

Para wanita itu mengenakan korset dan sepatu bot hak tinggi.

Sedangkan, pastor tersebut dalam kondisi setengah telanjang, hanya mengenakan jubah pastor sebagian.

Ada pula mainan seks dan pencahayaan panggung yang mengitari mereka.

Yang mengejutkan, adegan tersebut direkam oleh ponsel dan kamera yang dipasang terpisah menggunakan tripod.

Lantas, saksi mata merekam peristiwa itu.

Ia kemudian menelepon polisi Pearl River.

Sesampainya di gereja, saksi memperlihatkan video yang ia rekam kepada polisi.

Polisi kemudian menilik ke dalam gereja dari luar.

Namun, hanya ada dua wanita di dalamnya.

Petugas memerintahkan kedua wanita tersebut untuk membiarkan mereka masuk.

Ketika ditanyai petugas kepolisian, para wanita tersebut mengatakan bahwa mereka ada di sana dengan izin seorang pastor bernama Travis Clark (37) dan merekam adegan berhubungan intim bertiga.

Seorang petugas yang mengenal Clark sebagai pendeta Gereja Katolik Roma Saints Peter and Paul mencoba meneleponnya.

Tak lama berselang, Clark tiba di gereja.

Dia menyebut, kedua wanita yang bernama Mindy Dixon (41) dan Melissa Cheng (23) itu sebagai tamu sekaligus teman-temannya.

Diketahui, Dixon adalah pemeran film dewasa.

Dari pertemuan itu, petugas memutuskan bahwa semua yang terjadi berdasarkan suka sama suka.

Meskipun begitu, polisi tetap menangkap Clark, Cheng, dan Dixon, dengan tuduhan melanggar undang-undang yang melarang orang berhubungan intim di tempat umum.

Polisi mengatakan, tuduhan itu berasal dari tindakan cabul yang terjadi di altar, yang terlihat jelas dari jalan.

Polisi juga menyita mainan seks dan peralatan kamera sebagai barang bukti.

(Tribunnews.com/Citra Agusta Putri Anastasia)

Baca juga: Yuk, Ketahui Gejala Diabetes pada Wanita, Keputihan hingga Keinginan Ini Menurun

Baca juga: Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13, Berikut Syaratnya, Login di www.prakerja.go.id

Baca juga: Inilah 6 Alasan Mengapa Anda Diwajibkan Minum Air Hangat dengan Perasan Lemon Saat Perut Kosong

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Para Pastor di Prancis Lecehkan Setidaknya 10.000 Orang Termasuk Anak, Berlangsung Selama 71 Tahun

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved