Breaking News:

Mihrab

Aceh Kini Jauh dari Ajaran Syekh Abdurrauf

PENEMPATAN ulama pada posisi strategis di pemerintahan, dianggap sebagai faktor utama yang membuat Aceh mencapai kejayaan pada masa lalu

Editor: bakri
Aceh Kini Jauh dari Ajaran Syekh Abdurrauf
FOR SERAMBINEWS.COM
Dr Damanhuri Basyir, MAg

PENEMPATAN ulama pada posisi strategis di pemerintahan, dianggap sebagai faktor utama yang membuat Aceh mencapai kejayaan pada masa lalu. Keberadaan ulama ini membuat Aceh pada masa lalu lebih maju dibandingkan sekarang.

Hal itu disampaikan Pakar Tasawuf UIN Ar Raniry, Dr Damanhuri Basyir, MAg, dalam kajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) Aceh, di Rumoh Aceh Kupi Luwak Jeulingke, Banda Aceh, Rabu (3/3/2021) malam. Kajian kali ini mengangkat tema "Sejarah Hidup Tgk Syiah Kuala (Syekh Abdurrauf As-Singkili) dan Pandanganannya Terhadap Tasawuf dan Syariat".

Dr Damanhuri mengatakan, Syekh Abdurrauf As-Singkili, adalah salah satu ulama yang diberikan peran dan wewenang besar dalam sistem pemerintahan di Aceh pada masa Kesultanan Aceh. Sosok ini merupakan putra Aceh asli yang disebut-sebut lahir di Singkil, sebuah permukiman di pesisir barat Aceh.

"Syekh Abdurrauf Al Singkili asli Aceh yang lahir di Singkil. Ada yang mengatakan bahwa keturunan Batak, tetapi dalam hidupnya tidak pernah mencantumkan marga seperti kebiasaan penduduk Singkil kita di sana," kata Damanhuri Basyir.

Penulis buku "Akhlak Perspektif Tasawuf Syeikh Abdurrauf As-Singkili" ini menuturkan, dalam sejarah hidupnya, Syekh Abdurrauf pernah menghabiskan waktu untuk belajar selama 19 tahun di Timur Tengah. Selama menempuh pendidikan di jazirah Arab, Syekh Abdurrauf juga disebut tidak pernah menikah.

"Ulama yang belakangan dikenal oleh warga lokal dengan sebutan Teungku Syiah Kuala tersebut baru menikah ketika pulang ke Aceh," kata Damanhuri.

Syekh Abdurrauf Al Singkili lebih dikenal sebagai sosok ulama tasawuf, yang juga menjabat sebagai mufti kerajaan di masa Sultanah Safiatuddin berkuasa di Aceh. Ulama ini juga pernah mendirikan sekolah di Kampung Mulia, salah satu pemukiman penduduk yang jaraknya tidak jauh dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Aceh.

Damanhuri mengatakan, sebagai Mufti Agung pada Kesultanan Aceh, Syekh Abdurrauf mengatur sistem pemerintahan di Aceh dengan baik. Seperti adanya kriteria-kriteria khusus bagi seorang pemimpin, baik dari level pemerintahan terkecil di tingkat keuchik hingga sultan. "Ada 16 kriteria menjadi seorang pemimpin, itu untuk keuchik saja, lain untuk mukim dan sultan juga seorang ulama. Mungkin kalau sekarang ditetapkan kriteria tersebut, banyak yang tidak lulus," kata Damanhuri.

Sistem pemerintahan tersebut kemudian juga dikuatkan dalam Qanun Meukuta Alam Al Asyi yang hingga saat ini digunakan oleh Kesultanan Brunai Darussalam. Tak hanya itu, banyak negara-negara lain di luar Aceh yang hingga saat ini masih menerapkan ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Syekh Abdurrauf Al Singkili. Salah satunya adab ketika membuka sebuah forum, tata cara hidup, dan banyak hal lainnya.

Menurut Damanhuri banyak sendi-sendi kehidupan yang dipraktikkan sekarang ini jauh dari ajaran Syekh Abdurrauf As-Singkili, bahkan di masjid sekalipun. Dia mencontohkan seperti toilet buang air kecil untuk pria yang harus berdiri. Padahal menurutnya itu jauh dari ajaran Islam yang pernah berkembang pada masa lalu di Aceh. "Di (masjid) Aceh, tempat kencing berdiri, dirancang oleh insinyur, saya tidak tahu dari mana asal idenya tersebut," kata Damanhuri lagi.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved