Rabu, 8 April 2026

Jurnalisme Warga

Ragam Cerita di Balik Pesona Putroe Meutupang

BICARA tentang tempat wisata di Aceh Selatan dengan segala cerita legenda di dalamya memang tak ada habisnya

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
WIDIA SAPUTRI, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Labuhan Haji Timur, Aceh Selatan 

OLEH WIDIA SAPUTRI, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Labuhan Haji Timur, Aceh Selatan

BICARA tentang tempat wisata di Aceh Selatan dengan segala cerita legenda di dalamya memang tak ada habisnya. Selain cerita Tapak Tuan dan legenda Pulau Dua yang tersohor, ada lagi cerita Batee Putroe Meutupang. Sebuah destinasi wisata yang terletak di Desa Paya Peuleumat, Kecamatan Labuhan Haji Timur, Kabupaten Aceh Selatan.

Untuk menuju ke lokasi ini wisatawan bisa menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Tapaktuan menggunakan kendaraan bermotor. Dalam perjalanan ke lokasi ini pengunjung akan disuguhi pemandangan eksotik bibir pantai, deburan ombak, dan silir angin yang menambah keindahan tempat wisata ini.

Menuju ke lokasi Batee Putroe Meutupang dapat ditempuh dengan berjalan kaki terlebih dahulu melintasi bibir pantai puluhan meter sebelum tiba di Batee Putroe Meutupang. Selain itu, wisatawan juga diajak menapaki beberapa anak tangga sebelum tiba di titik tujuan.

Tempat wisata tersebut diresmikan tahun 2019. Kalau dibandingkan dulu dengan yang sekarang, tentulah bagus yang sekarang karena tempat menuju Batee Putroe Meutupang itu sudah diperbaiki agar mudah wisatawan menuju ke sana. Sedangkan yang dulu masyarakat sekitar hanya bisa melihat dari jauh saja karena jalan dulu belum diperbaiki dan masih berbatu karang, sehingga masyarakat sekitar tak berani menuju Batee Putroe Meutupang.

Dulu, masyarakat hanya menikmati keindahan laut dan melihat Batee Putrie Meutupang dari kejauhan. Kebanyakan dari masyarakat jika ingin makan-makan atau reakreasi selalu memilih laut Batee Putroe Meutupang. Sekarang laut itu seakan mati karena sudah banyaknya berawang atau pusaran, tetapi karena resminya jalan menuju Batee Putroe Meutupang tersebut wisatawan hanya menikmati keindahan laut saja dan tidak berani mandi.

Oh iya, saya lupa, pasti kalian bertanya-tanya akan legenda Batee Putroe Meutupang. Ada tiga versi cerita legenda tempat ini. Cerita pertama, pada dahulu kala ada seorang raja yang pergi berlayar bertahun-tahun lamanya tidak pulang-pulang untuk melihat istrinya. Seorang istri pasti resah karena raja tak pulang dari berlayar. Istri sudah menunggu dan bertanya-tanya akan keberadaan sang raja sekarang, tetapi berita itu tidak sampai ke sang istri. Akhirnya istri menuju ke teping pantai dan duduk bertopang dagu sembari menghadap ke laut. Bertahun-tahun menunggu di batu tersebut sang istri tidak juga mendapatkan berita dari sang raja. 

Akhirnya sang istri mengambil keputusan saat itu juga dan berikhtiar agar sang raja pulang dengan selamat. Sang istri pun meminta untuk mengutuk dirinya menjadi batu agar sang raja kembali sembari berkata, “ Jika raja juga tidak pulang lagi mohon kembalikan dia dan kutukkan saja saya menjadi batu di tempat ini” tidak lama kemudian mukjizat itu datang secepat kilat.  Sang istri menjadi batu dengan keadaan duduk bertopang tangan di dagu agar sang raja melihat dirinya sedang menunggu kedatangannya.

Pada saat itu juga sang raja kembali dan melihat sang istri sudah menjadi batu sedang mununggu kedatangannya.

Saat raja melihat sang istri sudah menjadi batu, raja pun mengutuk dirinya untuk menjadi batu sembari berkata, “Jika istri saya sudah menjadi batu, saya mengutuk diri saya agar juga menjadi batu.” Akhirnya mukjizat itu juga datang seperti kilat dan menjadikan sang raja menjadi batu dan perahu yang dibawa sang raja juga menjadi batu di tepi batu itu terletak di bawah bebatuan dalam laut.

Cerita kedua tentang Batee Putroe Meutupang juga yang dipercaya oleh masyarakat sekitar. Pada dahulu kala ada seorang raja yang bernama Raja Lamborek, yaitu raja setan dari Pulau Sinabang yang ingin menikahi sang putri. Tetapi sang putri mempunyai syarat jika sang raja itu ingin menikahinya ia harus mengikuti keinginan sang putri. Sang putri berkata, “Jika raja ingin menikahi saya, apakah raja bisa memindahkan tempat duduk saya ini ke Pulau Sinabang.” Tempat duduk yang sedang diduduki sang putri adalah bebatuan besar di dekat teping laut. Sang raja menyetujui. Keesokan harinya  Raja Lamborek pun mengikat tali di sebuah pohon besar ingin menunjukkan kekuatannya kepada sang  putri. Setelah mengikatnya raja menarik tempat itu dengan dengan tali ke Pulau Sinabang tetapi tidak berhasil karena tidak berjalan dengan lancar, malahan terputus-putus dan terbuatlah pulau-pulau lain.

Karena tidak berhasil, putri tidak ingin dinikahi sang raja walau dipaksa.  Sang putri pun akhirnya mengambil keputusan dan mengutuk dirinya menjadi batu sembari berkata, “Daripada saya menikahi Raja Lamborek itu lebih baik saya menjadi batu saja.” Tak lama kemudian, mukjizat itu datang seperti kilat dan menjadikan sang putri menjadi batu. Tali itu sampai sekarang masih terikat di batang pohon besar yang berada di dalam semak-semak.

Cerita ketiga adalah cerita yang dipercayai oleh masyarakat sekitar. Pada dahulu kala ada seorang gadis yang cantik. Dia adalah anak ustaz kampung tersebut. Gadis itu jatuh cinta pada pemuda yang berasal dari Simeulue, tetapi orang tua dari gadis dan pemuda itu tidak merestui hubungan mereka. Mereka terus berusaha meyakinkan orang tua mereka, tetapi tidak juga mendapatkan restu. Pada suatu hari putri itu berbicara kepada sang ayah bahwasanya dia ingin menikah dengan sang pemuda Simeulue. Tetapi ayahnya tetap tidak merestui.

Sang ayah sudah mulai bosan dengan perkataan anaknya. Beliau pun berbicara dengan nada keras dan pada saat itu juga gadis itu memutuskan untuk mengutuk dirinya menjadi batu. "Jika saya tidak menikah dengannya kutuklah saya menjadi batu." Mukjizat itu pun datang secara cepat. Sang ayah menangisi sang anak yang sudah menjadi batu, makanya dikatakan Batee Putroe Meutupang atau putri termenung.

Dulu waktu belum ada jalan menuju ke sana masyarakat hanya bisa melihat dari jauh Batee Putroe Meutupang, tidak jelas terlihat, yang ada cuma bebatuan besar dan keindahannya sungguh nyata dan membuat semua yang berada di sana menjadi tenang, apalagi embusan sepoi-sepoi angin laut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved