Breaking News:

Jurnalisme Warga

Untuk Gas, Medan Masih Bergantung pada Aceh

KEBUTUHAN energi gas Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) hingga kini masih dipasok dari Aceh

Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia, Bireuen dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Malikussaleh, melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

Suplai gas untuk PT Pupuk Iskandar Muda (PT PIM) Persero yang akan dilakukan oleh PT Medco di Aceh Timur sebesar 30 MMSCFD juga harus menggunakan pipa serta proses regasifikasi dari PT Perta Arun Gas. Rangkaian proses produksi tersebut merupakan bagian dari rangkaian “business plan” yang turut menyumbang terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh.

Potensi lain yang belum disentuh dan sebetulnya amat luar biasa adalah energi dingin yang mencapai minus 160 derajat Celsius untuk dijadikan “cold storage” atau tempat penyimpanan ikan saat petani panen raya agar harga ikan tak merosot. “Untuk itu, sangat penting dibuatkan alat penyimpanan tersebut,” ujar seorang petani yang berada di seputaran PT Perta Arun Gas.

Selain penyimpanan, tentu akan lebih lengkap lagi apabila pemerintah daerah mau menghadirkan pabrik pengolahan serta pengalengan ikan di Kota Lhokseumawe. Apalagi mengingat, tiga pelabuhan besar yang berstandar internasional berjejer di kota ini, yaitu PT Perta Arun Gas, PT PIM, dan Pelabuhan Kreung Geukueh. Ketiga pelabuhan tersebut belum digunakan secara optimal untuk kegiatan bisnis transportasi. Infrastruktur yang begitu lengkap tersebut sangat disayangkan karena belum digunakan dengan optimal dan terprogram dengan baik, sehingga kehidupan di seputaran pelabuhan masih sepi dari transaksi pengiriman barang.

Jasa operasional dan pemeliharaan “LNG Filling Station”  di mana gas alam cair milik PT Pertagas Niaga dari tanki LNG disalurkan ke iso tank truck untuk kemudian disalurkan ke beberapa industri di Sumut dan konsumen pengguna gas lainnya masih belum optimal. Dengan belum banyaknya perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan gas alam membuat jasa tersebut masih sedikit.

Begitu juga terhadap jasa operasional dan pemeliharaan kilang PHE NSO-NSB dan gas dari NSO serta NSB di-treating di kilang PHE NSO-NSB di mana selanjutnya gas hasil proses akan dialirkan ke PT KKA, PT PIM, beberapa industri di Sumut, dan jaringan gas di Lhokseumawe masih sangat terbatas.

Sejauh ini, kebutuhan gas masyarakat dan PLN Sumbagut lebih banyak menggunakan gas yang disalurkan dari Aceh, sehingga ketergantungan Medan terhadap Aceh dari segi pasokan gas sangatlah tinggi. Namun, PLN Sumbagut mengirimkan kembali arus listrik tersebut melalui sistem saluran udara tegangan ekstratinggi (Sutet) ke Aceh.

Pola kebijakan yang memosisikan Medan sebagai pusat perputaran perekonomian secara regional menjadikan daerah tersebut makin tinggi pertumbuhan ekonominya. Ketergantungan Aceh kepada Medan jauh lebih besar dibandingkan ketergantungan Medan terhadap Aceh. Dengan kata lain, Aceh dijadikan sebagai pasar yang sangat potensial untuk penyaluran berbagai produk yang berasal dari Medan.

Berbagai kebutuhan, seperti alat-alat bagunan, beras, terigu, telur ayam, paku, tripleks, jarum plus benang saja pun, Aceh sepenuhnya bergantung pada Medan. Walaupun banyak hasil sawah padi berasal dari Aceh, di mana gabah tersebut dijual ke Medan dan kemudian pengusaha Medan menggunakan kilang sederhana mengolah padi menjadi beras berkualitas (ramos), kemudian dijual kembali ke Aceh. Sehingga, nilai tambah yang lebih banyak dinikmati oleh pengusaha Medan. Hanya kebutuhan gas sebagai energi yang masih dipasok Medan dari Aceh, yang membuat Medan belum mampu memenuhi kebutuhan rutin dari energi tersebut. Sedangkan untuk komoditas lain pada umumnya Acehlah yang sangat bergantung kepada regional Medan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved