Kamis, 7 Mei 2026

Sepakbola Dunia

20 Ahli di Argentina Perdebatkan Kematian Legenda Sepakbola Maradona

Sebanyak 20 ahli memulai perdebatan tentang penyebab kematian ikon sepak bola Argentina, Diego Armando Maradona.

Tayang:
Editor: Imran Thayib
Anadolu Agency
Penggemar fanatik turun ke jalan untuk memberi penghormatan terakhir kepada Maradona di Buenos Aires. 

SERAMBINEWS.COM, BUENOS-AIRES - Sebanyak 20 ahli memulai perdebatan tentang penyebab kematian ikon sepak bola Argentina, Diego Armando Maradona.

Para ahli ini berdebat untuk menentukan apakah ada unsur kelalaian pada perawatan kesehatan.

Sebagaimana diketahui, Maradona yang berusia 60 tahun meninggal dunia karena serangan jantung pada 25 November 2020 lalu.

Padahal, beberapa pekan sebelumnya Maradona menjalani operasi otak karena pembekuan darah.

Penyelidik sedang melakukan investigasi perawatan kesehatan yang Maradona terima sebelum kematian.

Hal ini untuk menentukan apakah akan memperkarakan kasus karena kelalaian yang berujung kematian.
Jika terbukti, maka akan terancam hukuman penjara hingga 15 tahun.

Panel ahli yang terdiri dari 10 spesialis dan 10 lainnya dipilih oleh pihak yang berkepentingan, akan menyampaikan temuan dalam dua atau tiga pekan mendatang dikutip dari AFP sebagaimana dilansir Antaranews, Selasa (9/2/2021).

Panel tersebut dibentuk oleh jaksa penuntut umum Argentina.

Saat ini, ahli bedah saraf Maradona, Leopoldo Luque, psikiater Agustina Cosachov, dan psikolog Carlos Diaz sedang diselidiki.

Kecuali itu, dua perawat yaitu koordinator perawat dan koordinator medis.

Baca juga: Suporter Datang ke Stadion, Satgas Covid-19 Hentikan Turnamen Sepakbola

Baca juga: Pembagian 303.975 Lembar Kartu Tani di Aceh Dihentikan, Ini Permasalahannya

Baca juga: Bertemu Presiden Jokowi di Istana, Amien Rais Ingatkan Soal Ancaman Neraka Jahanam

Baca juga: Profil Iti Octavia Jayabaya, Bupati Lebak yang Ingin Santet Kirim untuk Moeldoko, Segini Kekayaannya

Dua putri Maradona, Gianinna (31) dan Jana (24) menuduh Luque bertanggung jawab atas kesehatan Maradona yang memburuk.

Maradona menjalani operasi pada 3 November 2020.

Operasi itu dilakukan hanya empat hari setelah dia merayakan ulang tahun ke-60 di klub yang dia bina, Gimnasia y Esgrima.

Namun, dia tampak dalam kondisi kesehatan yang buruk dan kesulitan berbicara.

Maradona memerangi kecanduan kokain dan alkohol selama hidupnya.

Dia menderita gangguan hati, ginjal dan kardiovaskular saat meninggal.

"Terakhir kali, Gianinna mengunjungi Maradona, dia melihat Maradona sangat bengkak. Dalam beberapa minggu sebelum kematiannya, Maradona menunjukkan kemunduran fisik dan kognitif," kata Rodolfo Baque, pengacara untuk salah satu dari dua perawat yang sedang diselidiki.

Maradona adalah idola bagi jutaan orang Argentina setelah dia menginspirasi negara Amerika Selatan itu untuk meraih gelar kedua Piala Dunia 1986 di Meksiko.

Gelandang serang yang menghabiskan dua tahun bersama raksasa Spanyol, Barcelona, itu juga dicintai di Napoli.

Di mana saat itu, dia membantu Napoli memenangkan satu-satunya gelar Serie A Italia dalam sejarah klub.

Baca juga: KMP Aceh Hebat Mudahkan Transportasi Laut, Ini Spesifikasi, Harga, Kecepatan Hingga Pemenang Tender

Baca juga: Penampakan Wajah Lucinta Luna Penuh Brewok Usai Bebas dari Penjara Bikin Geger, Disebut Mirip Limbad

Baca juga: Melawan Pemberontakan Puluhan Tahun, Presiden Duterte Ambil Langkah Berani: Tumpas Semua Komunis

Baca juga: Kabar Baru, Pemerintah Buka 1 Juta Lowongan Jabatan Guru PPPK Tahun 2021, Ini 3 Golongan Pengisinya

Jasad Maradona Diawetkan dan Dipamer Depan Umum

Hari Rabu (25/11/2020) lalu, legenda sepak bola dunia Diego Maradona meninggal dunia karena penyakit jantung.

Belakangan terungkap bahwa Maradona punya keinginan unik mengenai cara pemakaman dirinya.

Salah satu permintaan terakhir Maradona ini diungkap oleh Martin Arevalo, jurnalis yang dekat dengan mantan kapten timnas Argentina tersebut.

Arevalo mengatakan, bahwa Maradona ingin ketika meninggal nanti, jasadnya diawetkan dan dipamerkan di depan umum.

"Saat muncul ide untuk membuat patung dirinya, dia berkata: 'Tidak, saya ingin mereka membalsem (mengawetkan) saya'," ungkap Arevalo kepada TyC sports, seperti dikutip Reuters.

Arevalo yang memang dikenal dekat dengan Maradona mengonfirmasi keinginan pesepakbola tersebut.

Menambahkan bahwa Maradona ingin tetap bersama orang-orang selamanya.

Pembalseman tokoh Argentina juga pernah terjadi.

Saat ini jasad Presiden Juan Peron dan istrinya Eva Peron juga masih terawetkan.

Bukan hanya Arevalo, orang lain yang juga mengetahui ide Maradona tersebut adalah pengacaranya sendiri, Matias Morla.

Morla bahwa meminta Maradona untuk meresmikan permintaannya dengan notaris, dan telah dilakukan pada 13 Oktober lalu.

Di sisi lain, pihak keluarga akan menguburkan Maradona bersama orang tuanya di sebuah pemakaman di pinggiran Buenos Aires.

Kamis (26/11/2020) malam, puluhan ribu orang berkumpul untuk mengucapkan salam terakhir pada peti mati Maradona di istana presiden.

Reuters melaporkan sempat ada kekacauan dan bentrokan dengan polisi.(*)

Baca juga: VIDEO - Tatap PON 2021 di Papua, Atlet Aceh Matangkan Persiapan di Pelatda

Baca juga: VIDEO Tausiah di Lhokseumawe, UAS Mengajak Jamaah untuk Bersedekah dan Membantu Pembangunan Masjid

Baca juga: VIDEO Kejadian Unik di Simpang Surabaya Banda Aceh, Pemotor Kejar Ayam Lepas dan Jadi Tontonan Warga

Baca juga: VIDEO Pria Ini Berani Melawan Dua Pelaku Pencuri Motornya hingga Terluka Karena Ditembak

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved