Breaking News:

Opini

Israk dan Mikraj dalam Pendekatan Sains

Beberapa tahun yang lalu, saya mengikuti seminar fisika tentang Isra' Mi'raj dalam perspektif sains. Pada kesempatan itu

Israk dan Mikraj dalam Pendekatan Sains
IST
M ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Direktur Pematik (Pusat Entrepreneur) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag

PNS Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah IAIN Langsa, Founder PEMATIK (Pusat Entrepreneur dan Menulis) Aceh

Beberapa tahun yang lalu, saya mengikuti seminar fisika tentang Isra' Mi'raj dalam perspektif sains. Pada kesempatan itu, pakar fisika yang diundang menjelaskan, bahwa proses Isra' Mi'raj tidak mungkin terjadi apabila Rasulullah Saw melalui jalan ke langit dalam kurun waktu satu malam.

Alasan tersebut didukung dengan pernyataan teori fisika, menurut pemateri; Bintang paling dekat dengan bumi saja, sinarnya membutuhkan 4,3 tahun cahaya agar sampai ke bumi.

Oknum fisikawan kemudian menyimpulkan; Nabi tidak melakukan perjalanan secara normal (perjalanan tegak) ke langit. Namun Nabi menuju portal (pintu dimensi), yang portal itu menghubungkan antara luar angkasa dan pintu-pintu menuju langit ke-1 dan seterusnya.

Mendengar itu, saya merasa bimbang. Sebab, sejauh ini tidak pernah ada keterangan di Alquran maupun hadist tentang portal tersebut. Meskipun itu berbeda pendekatan (antara sains dan agama), tetap saja identitas portal harus dapat dibuktikan secara ilmiah bukan dugaan semata.

Fenomena Isra' dan Mi'raj memang kerap mengundang kontroversi khususnya pada kalangan orientalis. Mereka berpendapat, bahwa perjalanan yang dilakukan Rasulullah Saw bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin (ruh) atau lebih buruk disebut mimpi belaka.

Maka dari itu, jika pendekatan Isra' dan Mi'raj dibahas dalam perspektif logika maka ujung-ujungnya akan dianggap sebuah kemustahilan.

Pada surat Al-Isra sendiri, terkait Isra' dan Mi'raj, Allah berfirman; "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Ayat tersebut diawali dengan kata; `Maha Suci Allah'. Menurut muffasir, ini adalah bentuk penegasan bahwa begitu banyak yang menolak kebenaran Isra' dan Mi'raj dengan berbagai persepsi dan motif apapun. Maka dari itu, Allah tetap suci dari berbagai keraguan dalam logika manusia. Seperti apapun anggapan manusia, Allah tetap mulia dan tidak bergeser keagungannya.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved