Breaking News:

Opini

Serunya Berwisata ke Pulau Keluang

PADA tanggal 6-7 Maret 2021 saya bersama beberapa teman melakukan perjalanan wisata dari Kota Meulaboh, Aceh Barat

Serunya Berwisata ke Pulau Keluang
IST
AHMAD MUHARRIA RAJHASLA PUTRA, S.T, M.Kom., alumnus Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) dan mantan relawan di Majalah Muzakki, Jakarta, melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

AHMAD MUHARRIA RAJHASLA PUTRA
S.T, M.Kom., alumnus Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB) dan pernah menjadi relawan di Majalah Muzakki Jakarta, melaporkan dari Aceh Jaya

PADA tanggal 6-7 Maret 2021 saya bersama beberapa teman melakukan perjalanan wisata dari Kota Meulaboh, Aceh Barat. Ya, kali ini kami memilih objek wisata Pulau Keluang, salah satu pulau yang berada di Kabupaten Aceh Jaya. Pulau ini terpampang jelas jika kita sedang berada di atas Gunung Geurutee. Sambil menikmati kopi dan makanan ringan, pulau ini terlihat jelas berada terpisah dengan pulau lainnya. Keindahan pulau yang airnya jernih ini membuat hati siapa saja kagum menikmati pemandangannya.

Nah, apalagi bila kita sempat menginjakkan kaki di pulau tersebut. Nah, itulah yang kami lakukan. Persiapan kami lakukan dengan membentuk panitia kecil yang diketuai oleh Rahmat Lidayani, anak muda milenial yang dulunya juga aktivis kampus. Atas kesepakatan bersama, kami putuskan untuk melakukan camping dan bermalam di sana. Berbagai keperluan kami siapkan. Mulai dari makanan ringan, ayam, beras dan kebutuhan lainnya.

Selain itu alat pancing dan jala juga ikut kami bawa. Pada Sabtu pagi kami yang berjumlah sembilan orang berkumpul di suatu tempat yang telah disepakati. Pukul 10.30 WIB kami bergerak ke tempat tujuan menggunakan mobil. Sepanjang jalan kami bayangkan bagaimana indahnya pulau yang akan kami tuju. Sementara itu, jalanan bergelombang yang cukup panjang juga kami rasakan. Paling tidak ini sebagai perkenalan terhadap gelombang laut yang mungkin nantinya akan kami rasakan. Selain itu, gerombolan sapi di beberapa titik jalanan seakan menghambat perjalanan kami. Anak sapi duduk santai di tengah jalan bagaikan sedang menikmati pantai di laut. Hampir saja kami berurusan dengan sapi-sapi jika tidak menurunkan kecepatan dan lebih hati-hati.

Sesampai di daerah Teunom, kami berbelok sedikit dari persimpangan jalan untuk menjemput salah satu teman yang juga ikut dalam wisata tersebut, Bang Jal kami memanggilnya. Ia merupakan alumnus Kairo, Mesir. Kami bersyukur dia bisa ikut serta, paling tidak bisa mengimami shalat jamaah kami. Pukul 12.30 WIB kami pun sepakat berhenti sejenak untuk makan siang. Rumah makan Hikmah khas Nagan Raya yang terletak di jalan Banda Aceh -Meulaboh jadi pilihan. Satu per satu dari kami turun dari mobil dan langsung menuju warung untukk bersantap siang. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami terlebih dahulu shalat berjamaah.

Berdoa agar setiap perjalanan diberi keselamatan. Sekitar lima menit perjalanan dari SPBU Lamno ke arah Banda Aceh, atau tepatnya di palang yang bertuliskan Yayasan Babul Huda & Wisata Makam Poteumeureuhom, kami pun berbelok ke arah kiri. Saat menelusuri jalan ke arah tujuan, terdapat tulisan larangan main chip domino dari kepala desa setempat. Tulisannya terbaca jelas. Ya, permainan chip masih merajalela sampai saat ini. Sekitar pukul 14.30 WIB kami sampai di lokasi penyeberangan. Lokasi inilah tempat bersandar boat yang akan mangantar kami menyeberang ke Pulau Keluang.

Di tempat ini juga terdapat warung yang menjajakan makanan dan minuman ringan. Sambil menikmati keripik, kami wawancarai Bang Bachtiar, pengelola tempat rekreasi yang juga penjaga warung. Menurut Bachtiar, biasanya saat hari libur bisa 4-7 rombongan yang berwisata ke Pulau Keluang. Selain itu, tidak hanya Pulau Keluang sebagai tujuan, wisatawan juga ada yang ke Pulau Ujong Seudeng. Pulau ini dulunya menyatu sebelum tsunami. Namun, gelombang dahsyat membuat pulau ini terpisah. Letaknya berseberangan dengan Pulau Keluang.

Kini Pulau Ujong Seudeng telah berubah dan sangat cocok untuk wisata memancing. Sedangkan di Pulau Keluang sangat cocok untuk menikmati keindahan alam. Begitu penjelasan yang kami terima dari pengelola. Selain itu, ada beberapa syarat yang diberikan oleh pengelola kepada wisatawan. Di antaranya wisatawan tak boleh wanita. Wisatawan juga dilarang membawa alat tangkap kecuali pancing. Saat mendapatkan penjelasan tersebut, saya terkejut. Jala yang sudah kami bawa harus rela disimpan dan tidak bisa dibawa ke seberang pulau.

Karena alasan mencari umpan untuk memancing, kami pun diberikan izin untuk menjala di tempat penyeberangan atau tepatnya di bekas Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lama. Serasa mengulang masa kecil, jala pun ditebarkan, satu ekor ikan tidak mengecewakan dibandingkan dengan kegembiraan yang kami rasakan. Pukul 15.30 WIB kami menyeberang ke Pulau Keluang. Kapasitas boat untuk lima wisatawan dan satu petugas. Kami pun memakai jasa dua boat. Untuk diketahui, biaya sewa 1 boat adalah Rp370.000. Pelan, tapi pasti perahu meninggalkan tempat penyeberangan. Satu ombak sekitar 1 meter mengentakkan batin kami.

Pemandangan alam dan Gunung Geurutee yang indah sedikit menutupi rasa cemas. Lebih kurang 14-15 menit kami pun sampai di lokasi. Di sini kami lihat seorang bapak dengan beberapa anaknya sedang menikmati pesona pantai. Beberapa orang sedang memancing dari atas bebatuan dan juga terlihat ada yang sedang memasak di bawah gubuk. Satu per satu barang kami turunkan. Kami pun mencari tempat yang cocok untuk beristirahat. Segera tenda kami pasang. Beberapa orang teman sibuk membersihkan daging ayam dan membuat kopi. Welcome drink dari dan untuk diri kami masing-masing. Tak lama setelah itu, badan pun bak tertarik magnet akan keindahan air yang jernih dan pasir putih serta karang dengan berbagai jenis.

Kami pun segera meluncur untuk berenang. Waktu malam tiba tidak lupa kami shalat jamaah dan doa kami panjatkan. Aktivitas positif lainnya mengiringi malam kami di pulau ini. Kebersamaan pun benar-benar kami rasakan di sini. Pada Minggu pagi kami pun meninggalkan Pulau Keluang. Angin kencang saat itu sempat menyurutkan harapan kami untuk melihat keindahan gua yang ada di pulau ini. Bang Rahmat yang membawa boat menyeru kepada kami untuk segera naik dan memasukkan barang karena angin kencang.

Bahkan, menurutnya, kalau terlambat bisabisa tidak bisa kembali dalam waktu dekat. Sekitar lima menit perjalanan, Bang Rahmat berubah pikiran dan menyatakan bisa kembali untuk berputar melihat gua. Pemandangan indah pun tersaji di gua yang ditempati banyak burung walet itu. Karena alasan cuaca, kami tak bisa masuk dan hanya mengabadikannya melalui foto dan video. Kemudian, kami lanjutkan perjalanan pulang kami. Pukul 12.30 WIB kami pun sampai di darat dan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ke rumah masing-masing. Pulang Keluang memang indah.

Akan lebih indah lagi jika ada perhatian serius dari pihak terkait, khususnya pemerintah. Kamar mandi atau toilet yang layak rasanya perlu dibangun di sini serta kebersihan di dalam pulau perlu ditingkatkan. Tidak hanya wisatawan dalam negeri, bahkan wisatawan luar negeri pun akan mengeklaim Pulau Keluang sebagai destinasi wisata terbaik jika dapat dikelola dengan baik. Untuk Anda yang membaca reportase ini, mari ke Pulau Keluang!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved