Breaking News:

Camat Mutiara Lepas Penderita Gangguan Jiwa dari Pasungan

Camat Mutiara, H Amir Hamzah MKes, Selasa (16/3/2021), melepaskan Anidar Sofyan (42), pasien gangguan jiwa di Gampong Rapana

Editor: bakri
Serambi Indonesia
Camat Mutiara, Amir Hamzah menggotong Anidar, pasien gangguan untuk dimasukkan ke dalam ambulans guna dirujuk ke RSUD Jiwa Tgk Chik Di Tiro Sigli, Selasa (16/3/2021). 

SIGLI - Camat Mutiara, H Amir Hamzah MKes, Selasa (16/3/2021), melepaskan Anidar Sofyan (42), pasien gangguan jiwa di Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara, Pidie, dari pasungan. Anidar sudah dipasung dengan rantai selama empat bulan di rumahnya.

Pantauan Serambi, proses pelepasan Anidar dari pasungan sedikit terkendala ia tak mau mengenakan pakaian. Kondisi badan Anidar juga kurus karena ia tak mau makan. Petugas puskesmas bersama muspika harus membujuk Anidar untuk memakai baju agar ia bisa diobati ke RSUD Tgk Chik Di Tiro Sigli. Saat petugas membujuknya, Anidar yang memiliki suara merdu sempat melantunkan lagu. Sehingga, semua yang hadir terhibur dengan suara emas perempuan tersebut.

Setelah dibujuk, Anidar akhirnya bersedia memakai baju. Namun, ia tak bersedia dibawa ke rumah sakit. Sehingga, Muspika bersama petugas dan warga menggotong Anidar untuk dimasukkan ke ambulans dan selanjutnya dibawa ke RSUD Tgk Chik Di Tiro. 

Camat Mutiara, H Amir Hamzah, kepada Serambi, Selasa (16/3/2021), mengatakan, Anidar dilepas dari pasungan untuk dirawat di Ruang Jiwa RSUD Tgk Chik Di Tiro. Menurutnya, orang yang mengalami gangguan jiwa tidak boleh dipasung karena ia berpeluang diserang oleh penyakit lain seperti gizi buruk. Sebab, pasien gangguan jiwa yang dipasung biasanya tidak mau makan.

Untuk itu, sambung Camat, keluarga harus memperhatikan pasien gangguan jiwa terutama setelah sembuh. Perhatian yang harus diberikan, sebut Amir Hamzah, antara lain memberi obat secara teratur dan keperluan lain supaya penyakitnya tidak kambuh lagi. “90 persen kesembuhan pasien gangguan jiwa didapat selama dirawat di rumah sakit. Sementara 10 persen lainnya berasal dari perhatian keluarga," jelasnya.

Berdasarkan data Puskesmas Mutiara, tambah Camat, saat ini ada 118 warga kecamatan itu yang mengalami gangguan jiwa. Dari jumlah tersebut, 46 orang sudah minum obat secara rutin. "Ada satu lagi penderita gangguan jiwa yang dipasung di Gampong Dayah Syarief yang nantinya akan kita bebaskan juga. Untuk itu, kita akan lakukan pendekatan dengan keluarga pasien,” tutupnya.

2.448 Orang

Terpisah, Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Pidie, Turno Junaidi MKM, kepada Serambi, kemarin, menyebutkan, warga kabupaten itu yang mengalami gangguan pada tahun 2020 lalu mencapai 2.448 orang. Sementara pada Januari dan Februari 2021 sebanyak 14 orang.

Ia menyebutkan, penyebab warga mengalami gangguan jiwa antara lain akibat ekonomi dan faktor lingkungan seperti pengaruh narkoba. Menurut Turno, pihaknya terus melakukan deteksi dini terhadap penderita gangguan jiwa melalui koordinasi secara intens dengan lintas program dan sektor. Pelayanan terhadap pasien gangguan jiwa, katanya, harus ada dukungan dari semua pihak.

"Untuk menekan jumlah penderita gangguan jiwa, butuh dukungan dari keluarga dan perangkat gampong. Semua gampong di Pidie harus menjauhkan warga dari narkoba dan judi online seperti Higgs Domino. Sebab, judi online itu sangat berbahaya bagi masyarakat. Apalagi, sekarang sudah merambah ke pelosok gampong," jelas Turno Junaidi. (naz)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved