Breaking News:

Berita Aceh Tamiang

Warga Protes Alih Fungsi Kawasan Hutan di Aceh Tamiang Jadi Perkebunan, Minta Kepastian Status

Aksi protes ini dilakukan warga karena sebelumnya kawasan yang diperkirakan seluas 80 hektare itu, sudah pernah mereka usulkan untuk dikelola warga.

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
For Serambinews.com
Masyarakat Rongoh saat berunjuk rasa di kawasan hutan yang diduga sudah berubah fungsi menjadi perkebunan, beberapa waktu lalu. 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Warga Dusun Sukajaya, Kampung Rongoh, Tamiang Hulu, Aceh Tamiang memprotes aktivitas di kawasan hutan yang diduga akan dijadikan kawasan perkebunan.

Aksi protes ini dilakukan warga karena sebelumnya kawasan yang diperkirakan seluas 80 hektare itu, sudah pernah mereka usulkan untuk dikelola warga.

“Kami usulkan ke KPH III di Langsa supaya bisa dimanfaatkan untuk berkebun, namun ditolak, alasannya itu kawasan hutan,” kata Iskandar, SP selaku perwakilan warga, Kamis (18/3/2021).

Dia menjelaskan, sebelum ditetapkan sebagai kawasan hutan, areal itu berfungsi sebagai perkebunan kelapa sawit yang dimiliki warga Medan, Sumatera Utara.

“Kalau tidak salah, sepuluh tahun lalu ditetapkan sebagai hutan. Semenjak itu, sawitnya dibersihkan dan lahannya dibiarkan telantar,” ujarnya.

Baca juga: Sinergi PPATK dan BPKP Cegah Tindak Pidana Pencucian Uang

Baca juga: Babinsa Dukung Deklarasi Sekolah Ramah Anak di SMPN 1 Rantau Seulamat Aceh Timur 

Baca juga: Mudah dan Gratis, Begini Cara dan Syarat Lengkap Mengurus Akta Kematian di Disdukcapil

Iskandar menambahkan, beberapa warga kemudian nekat memanfaatkan sebagian lahan itu untuk menanam berbagai jenis tanaman keras.

Namun kini tanaman warga tersebut sudah bersih ditebang oleh pekerja yang mengaku disuruh oleh pemilik lahan itu.

“Tiba-tiba kok ada alat berat masuk, langsung habis tanaman warga dibersihkan,” tukas Iskandar.

Pembersihan lahan sepihak ini pun sempat diprotes warga dengan berunjuk rasa di atas lahan itu sebanyak dua kali.

Aksi pertama dilakukan 28 Februari 2021, dengan hanya melakukan orasi. Sedangkan aksi kedua pada 11 Maret lalu, dilakukan dengan menanam pohon di areal kawasan hutan yang sudah ditebang. 

Baca juga: Pengadilan Militer Yaman Tetap Tuntut Para Pemimpin Milisi Houthi, Terutama Abdul Malik Al-Houthi

Baca juga: Penjualan Chip Marak, DPRK Minta Pemerintah Aceh Surati Kemenkominfo untuk Blokir Game Higgs Domino

Baca juga: VIDEO Puluhan Mahasiswa Demo Pendopo Bupati, Tuntut Pencabutan Perbup dan Ancam Menginap di lokasi

“Unjuk rasa itu menanyakan kepastian hukum tentang status lahan itu, apa betul sudah diubah dari hutan menjadi APL (areal penggunaan lain). Kalau memang betul berubah, mengapa ketika kami yang mengusulkan ditolak,” tanyanya.

Pasca demo warga itu, ungkap Iskandar, seseorang yang mengaku pemilik lahan itu bersedia bertemu untuk berdialog.

Namun pertemuan yang seharusnya dilangsungkan beberapa hari lalu tersebut harus ditangguhkan karena orang itu mengaku memenuhi panggilan polisi.

“Ditunda karena dia bilang lagi dipanggil polisi, dia bilang diundur besok pertemuannya,” tandas Iskandar didampingi warga lainnya, Warto.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved