Berita Aceh Tamiang
Salut! Begini Kisah Sukses Koko, Sarjana yang Sempat Diamputasi Kaki Saat SD Gara-gara Laka Lantas
Di tengah keriangan dunia anak seusianya, Koko justru terpuruk karena harus kehilangan satu kakinya akibat kecelakaan lalu lintas.
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Tumbuh dengan kondisi fisik tidak normal usai amputasi kaki, Eko Praman Putra (31) sempat terpuruk karena selalu menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Namun kuatnya tekad merubah nasib berhasil membawa Koko--sapaannya meraih gelar sarjana dan kini bekerja di perusahaan perkebunan di Aceh Tamiang.
Masa kecil yang dilalui Koko memang sangat tidak mudah. Di tengah keriangan dunia anak seusianya, Koko justru terpuruk karena harus kehilangan satu kakinya akibat kecelakaan lalu lintas.
Insiden kelam yang sudah berlalu 21 tahun itu masih terus melekat di benak Koko.
Bagaimana tidak, peristiwa di medio tahun 2000 tersebut langsung merubah jalan hidupnya.
Baca juga: Dinsos Aceh Besar Salur Bantuan untuk Korban Kebakaran
Baca juga: Sekda Aceh Bagikan 243 SK Kenaikan Pangkat dan Pensiun ASN Langsa dan Aceh Tamiang
Baca juga: Pohon Trembesi di Jalan Dua Jalur di Sigli Patah, Satu Warga Diboyong ke Rumah Sakit
“Biasanya kita leluasa bermain, lari-lari, tapi kecelakaan itu merubah segalanya,” kata Koko, Sabtu (20/3/2021).
Ketika itu, Koko yang masih duduk di bangku kelas lima SD mengalami kecelakaan di jalan lintas Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara.
Hantaman keras truk membuat kaki kanannya luka parah dan tim medis menyarankan harus diamputasi.
Koko yang mendapat kabar itu mengaku hanya bisa pasrah.
“Kejadiannya pas liburan sekolah karena puasa, saya ke tempat saudara di Tebingtinggi,” kata Koko, Sabtu (20/3/2021).
Baca juga: Hasil All England 2021 - Kento Momota Tersingkir, Ganda Campuran Inggris Raih Tiket Semifinal
Baca juga: Tol Aceh, Kado untuk Masyarakat di Ujung Barat Indonesia
Baca juga: Wujudkan Transparansi, Gampong Lam Bheu Luncurkan Aplikasi SigamLon
Koko mengungkapkan, hal paling terberat yang dilaluinya bukan ketika masuk ruang operasi amputasi, tapi justru cobaan pasca-operasi.
“Sejak SD, saya sudah pakai kaki palsu. Kawan-kawan menganggap ini lucu, makanya saya selalu diejek,” ungkapnya.
Ejekan ini membuat Koko lama terpuruk. Dia lebih memilih mengurung diri di rumah. Diakuinya, kondisi ini berlangsung hingga SMP.
“SMA sudah tidak ada, justru dari teman-teman SMA dan dorongan keluarga, saya berniat melanjutkan kuliah,” ujarnya.