Senin, 27 April 2026

Berita Aceh Singkil

Produksi Normal, Harga TBS Sawit di Aceh Singkil Rp 1.590 Per Kilogram, Turun Dibanding Pekan Lalu

Harga tersebut dengan catatan buah sudah matang atau merah merona. Sedangkan jika masih mentah, pengepul tidak menerimanya.

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Mursal Ismail
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Kebun sawit di kawasan Singkil Utara, Aceh Singkil, Minggu (21/3/2021) 

Harga tersebut dengan catatan buah sudah matang atau merah merona. Sedangkan jika masih mentah, pengepul tidak menerimanya. 

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di Kabupaten Aceh Singkil Rp 1.590 per kilogram, Minggu (21/3/2021). 

Harga tersebut dengan catatan buah sudah matang atau merah merona. Sedangkan jika masih mentah, pengepul tidak menerimanya. 

Andi petani sawit di Aceh Singkil, mengatakan harga sawit cenderung turun. Sebab hampir semua kebun telah berproduksi normal.

"Produksi sawit sudah normal," ujarnya.

Pekan lalu di tingkat petani harga TBS kelapa sawit Rp 1.650 per kilogram. Lantaran tidak semua kebun milik petani berproduksi normal. 

Akan tetapi kisaran harga sawit Rp 1.590 terbilang tinggi saat produksi melimpah. Biasanya jika sawit petani melimpah di bawah Rp 1.000 per kilogram. 

Baca juga: Bagaimana Hukum Orang Meninggal Tapi Masih Ada Utang Puasa Ramadhan, Ini Penjelasan UAS

Baca juga: Ekspresi Bayi Ini Cemberut saat Dilahirkan Tahun 2018, Begini Kondisinya Sekarang

Baca juga: Imsak dan Subuh dalam Imsakiyah Kemenag Aceh & Muhammadiyah Berbeda, Ini Sebab, Jangan Berpolemik 

Petani sawit di Kabupaten Aceh Singkil, sebetulnya bisa menjual langsung ke pabrik dengan harga lebih tinggi, yakni Rp 1.800 per kilogram.

Hanya saja kualitas buah harus benar-benar masak. Jika tidak penuhi syarat tersebut, rugi. Sebab buah yang tidak masak ditolak pabrik. 

Kemudian buah harus banyak atau minimal satu truk. Kalau sedikit maka rugi biaya angkutan. 

Terdapat selisih sekitar Rp 300 antara harga sawit di pabrik dengan pengepul.

Lantaran untuk menutupi penyusutan mengingat sawit yang dikumpul pengepul dari petani baru bisa dijual ke pabrik setelah banyak.

"Saat menunggu banyak itulah terjadi penyusunan. Lalu saat dijual ke pabrik bila ada yang ditolak menjadi resiko dari pengepul," ujar pengepul sawit. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved