Madrasah Hebat Bermartabat?

Ada slogan menarik terciptakan untuk madrasah, yaitu "madrasah hebat bermartabat"

Editor: bakri
IST
Syamsul Bahri, MA,  Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh 

Oleh Syamsul Bahri, MA,  Guru MAN 2 Banda Aceh, Peneliti di LSAMA Aceh

Ada slogan menarik terciptakan untuk madrasah, yaitu "madrasah hebat bermartabat". Namun bagaimana sebenarnya implementasi slogan tersebut, saya belum tahu pasti. Saya googling di internet ternyata slogan ini pernah disebutkan oleh Direktur KSKK Madrasah, Ditjen Pendidikan Islam 2018. Waktu itu ia mengatakan, "mulai tahun 2018 ini, kita mengusung semangat baru dengan slogan "madrasah hebat bermartabat," kata Direktur KSKK, A Umar di Jakarta waktu itu.

Slogan ini sangat ideologis dan bermutu tinggi. Ya, maksud saya slogannya, bukan subtansinya, karena hingga dengan sekarang kita di madrasah tidak tahu atau kurang peduli dengan slogan tersebut. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan tidak adanya pusat informasi, tidak adanya sosialisasi, belum ada mekanisme implementatif, dan lain seterusnya. Saya meyakini, slogan yang disebutkan bukan omong-kosong belaka, melainkan ada seperangkat atribut yang hendak diimplementasikan.

Perlu diketahui, slogan ini telah viral dimana-dimana, khususnya insan madrasah. Anda bisa cari di internet, Anda akan dapatkan slogan ini. Bahkan sticker slogan "madrasah hebat bermartabat" telah menjamur di hp android kita. Karena belum ada secara khusus teknis implementatif terkait slogan ini, artikel ini mengajak kita berdiskusi yang barangkali dapat memberikan kita wawasan dan pengetahuan, yang secara ideologis dan implementatif bisa kita terapkan di lembaga pendidikan madrasah kita masing-masing.

Interpretasi hebat bermartabat

Kita mulai dari mereview mindset kita. Kita ubah "madrasah hebat bermartabat" bukanlah sekadar slogan melainkan visi madrasah yang diturunkan dari langit Kementerian Agama secara berangsur-angsur dengan asbabun nuzul yang jelas. Slogan bukan saja kata-kata yang indah, puitis, megah, slogan haruslah menjadi ikon setiap gerakan ideologis. Ketika disebut gerakan ideologis, berarti ada misi dari Kemenag untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. Kata "hebat" dalam slogan madrasah menandakan adanya kekuatan khusus yang berbeda dengan lembaga lain; atau lembaga lain tidak memilikinya.

Bagaimana tidak? Ditilik dari sejarah pendidikan Islam, madrasah telah ada sejak era dinasti Abbasiyah, dan di negera kita hadir seiring dengan kemerdekaan negara. Madrasah, adalah paduan dari sistem pendidikan pesantren/dayah yang mempunyai kekuatan islamisasi ilmu pengetahuan dalam Islam.

Jika hari ini para pakar mendefinisikan ulang "proyek islamisasi ilmu pengetahuan," maka madrasah adalah sistem pendidikan yang unggul sebagai bentuk aplikatifnya. Karenanya "madrasah hebat" adalah ulang kaji entitas madrasah secara esensial.

Namun demikian, kekuatan khusus slogan ini terlahir dari ijtihad kontemporer insan Kemenag/madrasah, yang dilatarbelakangi oleh keadaan pendidikan di tanah air. Asbabun nuzulnya jelas, mutu pendidikan kita menjadi faktor utama. Hal ini telah diriwayatkan secara mutawatir oleh berbagai hasil penelitian. Misalnya, pendidikan kita di Aceh memang masih di bawah rata-rata nasional, termasuklah kualitas lembaga pendidikan madrasah.

Lembaga pendidikan madrasah terkesan inferior dibandingkan lembaga pendidikan lainnya. Karena itu muncul visi hebat madrasah dengan indikator-indikatornya. Indikator, adalah butir-butir teoritis yang tersusun untuk menciptakan karakter "hebat" yang dapat dilihat kelak pada kompetensi guru, kepala madrasah, lingkungan madrasah, dan kualitas lulusannya (minat perguruan tinggi). Hal ini menjadi visi setiap madrasah. Visi menjadi ideologis, ideologi akan menjadi harakah (gerakan), dan harakah mampu menciptakan kenyataan praktis.

Hari ini madrasah mampu menarik minat masyarakat, sehingga bukan lagi dipandang sebagai "lembaga pendidikan cadangan." Akan tetapi jika ada madrasah yang bangunannya sangat jelek, tidak lengkap fasilitas, itu akan memperburuk citra dari slogan itu sendiri. Kemenag melalui Ditjen Pendidikan Islam, dan Kasi Penmad, menciptakan butir-butir aplikatif visi hebat. Kemudian diperlukan satu pusat informasi (online), yang memuat hal-hal hebat-bermartabat yang perlu dilakukan dan yang sudah dilakukan dari berbagai madrasah tanah air.

Kemudian diukur dalam setiap implementasinya. Namun bukan saja tertulis dalam laporan tapi terlihat dari kultur setiap madrasah.

Selanjutnya "bermartabat," yaitu civitas madrasah yang memiliki karakter positif, mulai dari diri pribadi dan lingkunganya. Bermartabat bermakna ia memiliki gezah seorang ASN madrasah sehingga menjadi contoh bagi orang lain. Yang paling penting adalah baik hebat ataupun bermartabatnya madrasah mestilah terlihat dari kultur madrasah itu sendiri.

Kultur hebat bermartabat

Kultur (budaya) keseragaman internal madrasah harus menjadi ciri khas madrasah. Keseragaman ini dimaksudkan pada persoalan sosial dan ekonomi. Jurang pemisah kaya-miskin dengan sebaik mungkin terhapuskan. Sekat-sekat sosio-ekonomi yang berbeda siswa harus diminimalisir. Tidak adanya in-group ataupun out-group di madrasah. Apalagi istilah senioritas-junioritas. Setiap hari anak-anak harus disibukkan dengan membaca, membentuk kelompok-kelompok kecil madrasah, adanya pusat literasi, adanya tantangan yang harus diselesaikan.

Buku harus disanding kemanapun mereka pergi, dan memiliki "dinding-dinding ilmu" yang tersebar diberbagai sudut. Untuk aplikasi tujuan ini pihak madrasah harus mengeluarkan dana.

Madrasah harus mengedepankan prinsip kesederhanaan namun memiliki semua perangkat kebutuhan dalam pembelajaran di kelas. Kompetisi bukan tidak perlu diujikan, namun setiap kompetisi harus mencerminkan ketercapaian kognisi dan orientasi siswa dalam meraih cita-cita mereka. Tes bakat minat menjadi keharusan, di samping guru BK harus membuat tes potensi kecerdasan dan minat perguruan tinggi yang akan dipilih nantinya.

Perguruan tinggi dan jurusan yang diminati harus menjadi visi mereka saat di madrasah. Hal ini membuat mereka terus mencari tahu dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menjadi hebat ke depan. Karena tidak pernah ada orang hebat di dunia ini jika tidak dilakukan hal-hal hebat semasa hidupanya, yang dimulai dari percobaan, pengalaman, dan tindakan nyata. Hebatnya madrasah akan membentuk martabat, dan sebaliknya. Budaya Aceh kental dengan agama/ syariat. Adat istiadat menjadi serapan dalam praktik keagamaan orang Aceh. Karena itu, budaya madrasah bersifat agami/ islami.

Corak budaya islami tidak saja dipandang siswa memakai sarung dan peci, ataupun memakai cardar, itu hanyalah pernak-pernik pakaian. Budaya islami nampak dari akhlak yang baik, seperti tutur kata dan sapa yang lembut, saling memberi penghormatan dan penghargaan, saling menyayangi, toleran, peduli, damai, dan ada keteladanan yang diberikan.

Budaya islami menentukan martabatnya madrasah. Aktifnya shalat berjamaah juga menjadi satu indikator, kemudian keindahan, kebersihan, dan adanya prosesi kegiatan-kegiatan keislaman di madrasah yang senantiasa berkelanjutan. Bermartabat adalah memiliki perangkat keyakinan pada orang lain.

Orang yang melihatnya mengakui dia bermartabat, sehingga pada akhirnya ia dipercayakan memberikan yang terbaik terhadap lingkungannya. Hari ini krisis keteladanan terjadi dimana-mana, kadang lembaga pendidikan sendiri masih sulit menerapkan keteladanan ini. Hal ini akan menjadi malapetaka bagi siswa.

Semua manusia perlu teladan dari orang lain, dan mereka akan menjiplak atau menirunya kelak. Karenanya, madrasah yang bermartabat adalah adanya pusat keteladanan bagi para siswanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved