Kamis, 9 April 2026

Internasional

2.000 Pemuda Arab Saudi Dilatih Dunia Digital, Siap Bersaing di Pasar Tenaga Kerja Global

Sebanyak 2.000 pemuda Arab Saudi disiapkan berbagai keterampilan agar mampu bersaing di pasar tenaga kerja global.

Editor: M Nur Pakar
Foto: Saudi Press Agency
Para pemuda mengikuti pelatihan di Akademi Misk, Riyadh, Arab Saudi. 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Sebanyak 2.000 pemuda Arab Saudi disiapkan berbagai keterampilan agar mampu bersaing di pasar tenaga kerja global.

Keterampilan berbagai bidang yang dikembangkan melalui akademi dirancang untuk diversifikasi tenaga kerja Kerajaan.

Akademi Misk didirikan pada 2018 sebagai kolaborasi antara Yayasan Misk, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dan Majelis Umum, sebuah perusahaan pendidikan global.

Akademi tersebut memberi kaum muda Saudi sumber daya yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar tenaga kerja global.

Baca juga: Arab Saudi Perkuat Peran Sektor Swasta, Kucurkan Stimulus Rp 43.000 Triliun

Menggunakan keahliannya, Majelis Umum membuat kursus digital dan tatap muka untuk membantu siswa dalam mempelajari keterampilan baru di dunia digital.

Kemitraan ini telah membantu ribuan lulusan baru dan profesional berpengalaman untuk unggul dalam karier mereka.

Majelis Umum mengatakan sejauh ini 1.993 orang Saudi telah lulus dari 74 program studi.

Program tersebut telah berkembang dari Riyadh ke Jeddah, Madinah dan Khobar.

Tujuannya untuk melatih orang Saudi dengan kurikulum modern untuk mengikuti kemajuan teknologi di era digital sejalan dengan program reformasi 2030 Kerajaan yang ekstensif.

Kursus ini memandu siswa dalam analisis data, ilmu data, pemasaran digital, dan penggunaan alat rekayasa perangkat lunak.

Baca juga: Komisi HAM Arab Saudi Buat Nota Kesepahaman, Cegah Kekerasan Dalam Rumah Tangga

Majelis Umum memiliki instruktur dari banyak negara dengan latar belakang raksasa teknologi seperti Google, Facebook, dan Adobe.

“Program ini penuh dengan pengalaman baru bagi saya,” kata Afra Al-Zahrani, lulusan desain user experience (UX) yang mengikuti salah satu program.

“Selain belajar tentang UX, saya harus berhadapan dengan teknologi yang menakutkan bagi saya," katanya.

"Saya juga harus belajar tentang diri saya sendiri," tambahnya.

“Instrukturnya hebat, dan teman sekelas yang saya cintai lingkungan dan komunitasnya, saya langsung merasa diterima," ungkapnya.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved