Jumat, 8 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Di Grup WAhatsApp Kelompok Radikal Paling Bersuara Sebarkan Ideologi

DUA perempuan pelaku teror tewas dalam aksi di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri Jakarta, dalam beberapa hari terakhir

Tayang:
Editor: bakri
Tribunnews/Jeprima
KEN SETIAWAN, Pendiri NII Crisis Center 

* Eks Rekruter NII Ungkap Peran Perempuan dalam Gerakan Radikal (2-Habis)

DUA perempuan pelaku teror tewas dalam aksi di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri Jakarta, dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah perempuan juga tercatat sudah ditangkap atau diproses hukum karena diduga terlibat dengan aktivitas kelompok radikal. Tidak sedikit di antara mereka juga tewas ketika melakukan serangan teror, seperti di Surabaya pada 2018 lalu.

Meski radikalisme terorisme tidak terkait dengan satu agama, gender, sekte, atau suku tertentu, namun mantan rekruter Negara Islam Indonesia (NII), Ken Setiawan, menilai fenomena keterlibatam perempuan dalam kelompok radikal adalah sesuatu yang unik. Ia membeberkan sejumlah alasan perempuan kerap dilibatkan dalam gerakan radikal. Bahkan, kata Ken, anggota kelompok radikal tersebut paling banyak perempuan ketika dulu baru ia baru bergabung.

Pendiri NII Crisis Center itu bahkan mengatakan, perempuan cukup menjadi andalan dalam aktivitas kelompok radikal antara lain untuk menggalang dana. Hal tersebut disampaikan Ken Setiawan ketika berbincang dengan Wakil Direktur Pemberitaan Tribun Network, Domuara D Ambarita, di Kantor Redaksi Tribunnews Jakarta, pada Kamis (1/4/2021). Berikut petikan wawancara bersama Pendiri NII Crisis Center, Ken Setiawan:

Kasus ini melibatkan dua perempuan? Bagaimana Anda melihatnya?

Radikalisme di kalangan perempuan ini memang unik. Dulu ketika saya bergabung paling banyak itu kalangan perempuan. Bahkan di tingkat amaliyah, penggalangan dana, perekrutan anggota baru, perempuan itu cukup menjadi andalan. Kita pernah di kalangan perantau, mahasiswa, dengan perempuan ini, dengan screening luar biasa mudah sekali. Perampokan itu kita pernah sehari bisa mencapai Rp 1 miliar. Modusnya ketika saya bergabung, itu kita menggunakan perempuan.

Kalau kita butuh dana besar, kita siapkan lima orang saja. Kita palsukan KTP, ijazah, dan kartu keluarga. Dulu bikin Jatinegara satu jam selesai. Kita pilih Pondok Indah, Kalibata, jadi pembantu. Tunggu majikan pergi, anak sekolah. Panggil Abi rumah kosong, kalau perlu kita bawa mobil atau truk, itu harta orang kafir kita ambil.

Jadi kayak orang pindahan. Kita di rumah kayak toko emas, yang asli sebelah kiri, palsu sebelah kanan. Saya baru tahu di rumah elite itu juga banyak emas palsunya. Dan kita jual dengan harga murah. Karena tidak ada surat-suratnya. Satu hari lima orang di tempat yang berbeda itu pernah di atas Rp 1 miliar. Karena kita menganggap harta di luar kelompok boleh diambil. Harta musuh kita ambil untuk perjuangan.

Termasuk mengambil harta orang tua. Ini juga yang banyak dilakukan oleh kalangan milenial yang sudah tergabung dalam kelompok radikal saat ini. Dan ini kami mendapat laporan, anak tiba-tiba menipu orang tua datang bersama temannya. Saya menghilangkan motornya kawan. saya parkir saya dihipnotis. Temannya bilang iya, motor saya dihilangkan anak ibu, motornya mau saya jual.

Keluarga mau operasi. Bahkan saya menangani kasus, sampai sekarang tidak pulang. Anak UGM jadi dia katanya memecahkan alat laboratorium kampus yang nilainya bukan puluhan juta, tapi Rp 300 juta. Orang tuanya mengatakan tidak mungkin anak saya bergabung kelompok radikal, saya selalu komunikasi. Alquran sudah beberapa juz. Kalau pulang ke Bandung ngajarin ngaji. Jadi tidak mungkin.

Bahkan telepon katanya anaknya di kampus, padahal kata dosennya anaknya sudah drop out, dan mereka sudah tergabung ke kelompok radikal. Dan anaknya jadi DPO karena merekrut kawan-kawannya. Jadi akhirnya kalau memang di kampus, telepon terus bertemu di ruangan.

HP dimatiin, sampai sekarang anaknya hilang entah di mana. Bahkan, saya menangani dia kuliah di Jawa Barat. Bergabung di NII, bosen bicara jihad, perang, pindah dari NII ke organisasi lain. Yang ditipu orang tuanya. Jadi dia melamar perusahaan IT, melamar dengan identitas palsu. Jadi bekerja satu bulan itu dia mengatakan ke kantor orang tuanya meninggal. Hal itu dikatakannya ke empat perusahaan untuk meminta sumbangan.

Kebetulan Ibunya kenal, tiga minggu tidak pulang. Ibunya tanya ke kantor, menanyakan anaknya, dia ditanya lah ibu siapa katanya orang tuanya sudah meninggal. Dia juga jual mobil orang tuanya. Jadi ini luar biasa. Dan penanganan yang salah juga menimbulkan masalah baru.

Banyak orang tua yang melihat anaknya berubah mengkafirkan orang tua, pulang-pulang langsung bercadar. Dikira anaknya kesambet di mana, minta duit tidak dikasih, ada orang tua manggil dukun. Dukun bilang anaknya kesambet di pojokan. Dipasung anaknya di rumah dalam waktu 1,5 tahun. Itu perempuan, sekarang rambutnya botak. Penanganan yang salah juga menimbulkan korban semakin tertekan.

Dia ingin dialog, kalau memang salah di mana salahnya dan mana yang benar. Bahkan, ada satu kasus di Jawa Barat, dia pulang ke rumah. Rumahnya cat putih diganti cat hitam diganti tulisan La Ilaha Illallah. Orang tuanya lagi shalat berjamaah, ditendang, diinjak, dipukuli, karena dia minta uang untuk berangkat ke Suriah tapi tidak dikasih. Negeri kafir ini tidak bisa diterima. Dan dia sudah bikin surat wasiat. Alhamdulillah dengan dialog dia sudah kembali.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved