Jumat, 8 Mei 2026

Wawancara Eksklusif

Di Grup WAhatsApp Kelompok Radikal Paling Bersuara Sebarkan Ideologi

DUA perempuan pelaku teror tewas dalam aksi di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri Jakarta, dalam beberapa hari terakhir

Tayang:
Editor: bakri
Tribunnews/Jeprima
KEN SETIAWAN, Pendiri NII Crisis Center 

Kenapa banyak perempuan terutama perantau yang terajak, apa memang yang disampaikan?

Yang disampaikan awalnya hal-hal bagus. Bahwa kita diciptakan oleh Tuhan. Tugas kita beribadah kepada Tuhan. Menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya. Apakah selama ini Alquran, peraturan berbangsa dan bernegara. Kalau kita baca tidak mengerti artinya percuma. Kita ngerti artinya tidak dijadikan aturan percuma juga.

Selama ini apakah kita untuk memutuskan perkara dalam berbangsa dan bernegara menggunakan Alquran. Undang-undangnya KUHP peninggalan penjajah Belanda. Jadi kita diadu dengan negara ini. Bagus mana ciptaan manusia dengan ciptaan Allah. Pancasila dengan Alquran. Bagus mana negara Islam dengan kafir? Nanti ditanya coba kau ucap syahadat.

Jadi orang Islam, tinggal di negara Islam, menggunakan hukum Islam. Dan ini yang mereka katakan, tidak seperti di Indonesia. Jadi, cuci otak seperti itu. Mereka jumlahnya tidak banyak tapi 24 jam. Kita silent majority yang jadi masalah.

Kementerian dan lembaga sudah mengadakan pencegahan jor-joran, tapi menurut saya kita belum berimbang dengan mereka. Ibaratnya kita lilin lawannya obor. 24 jam bergerak. Bahkan kalau di grup-grup WhatsApp isinya 257 orang. Yang radikal 2 atau 3. Wah itu yang 3 berisik sekali. Kita mayoritas diam. (tribun network/denis)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved