Minggu, 10 Mei 2026

Kudeta Myanmar

Serangan Granat ke Pos Militer Tewaskan Lima Polisi, Satu Polisi ‘Pembelot’ Ditembak dari Jarak Jauh

Sebanyak lima anggota militer tewas, ketika pengunjuk rasa anti-kudeta menyerang pos polisi di Myanmar, diikuti seorang polisi membelot-

Tayang:
Penulis: Syamsul Azman | Editor: Zaenal
ANADOLU AGENCY/STRINGER
Orang-orang dengan topeng mereka menggelar demonstrasi untuk memprotes kudeta militer di Yangon, Myanmar pada 4 April 2021. 

SERAMBINEWS.COM, MYANMAR - Sebanyak lima anggota militer tewas, ketika pengunjuk rasa anti-kudeta menyerang pos polisi di Myanmar.

Sementara di pihak pengunjuk rasa dilaporkan satu orang tewas, kemudian diketahui sebagai seorang polisi yang disebut "membelot" karena mendukung pengunjuk rasa.

Melansir dari Anadolu Agency, Sabtu (3/4/2021) lima polisi serta seorang pengunjuk rasa tewas ketika melakukan penyerangan di pos penjaga militer.

Pengunjuk rasa yang tewas tersebut merupakan seorang polisi, yang memilih bergabung dengan warga melawan junta Myanmar. 

Polisi berusia 25 tahun yang bergabung dengan kelompok anti-kudeta Myanmar bernama Thang Hou Gin, ikut tewas dalam kasus penyerangan tersebut.

Thang Hou Gin bergabung dengan anti-kudeta melawan junta Myanmar, sekaligus memimpin unjuk rasa dalam serangan di pos polisi di Tamu, sebuah kota kecil di wilayah Sagaing, pada hari Kamis (1/4/2021).

Baca juga: Pemimpin Sipil Myanmar Akan Bentuk Pemerintah Koalisi, Pemimpin Kudeta Janjikan Pemilu

Baca juga: Lagi, Lima Demonstran Tewas Ditembaki Militer Myanmar Sehingga Total Jadi 550 Orang

Tiga granat dilemparkan ke pos penjaga, menewaskan lima petugas polisi.

Thang Hou Gin terbunuh sekitar 200 meter dari pos tersebut, ia tewas setelah militer melepaskan tembakan, ketika pengunjuk rasa mundur dari lokasi.

Sementara itu, ribuan orang telah meninggalkan rumah mereka di daerah pedesaan negara bagian Magway Myanmar untuk menghindari tindakan keras junta terhadap pengunjuk rasa anti-kudeta.

Menurut kelompok aktivis Justice for Myanmar, setidaknya 10.000 orang mengungsi di hutan di wilayah itu karena tentara telah merampok dan menjarah properti dan menculik warga sipil sejak awal Maret.

Lebih dari 540 orang telah tewas dalam tindakan brutal junta terhadap protes terhadap perebutan kekuasaan 1 Februari oleh militer, menurut berbagai organisasi hak asasi.

Baca juga: Militer Myanmar Tembak Balita dan Tewaskan Warga Sipil, Korban Tewas Bertambah Jadi 459 Orang

Sebelumnya pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, yang ditahan setelah junta merebut kekuasaan pada 1 Februari, didakwa di pengadilan militer Kamis karena melanggar undang-undang rahasia resmi negara itu, Jumat (2/4/2021). 

Pengacara Suu Kyi, Khin Maung Zaw, mengumumkan berita tersebut saat berbicara dengan wartawan setelah sidang di Yangon.

Undang-undang melarang kepemilikan, publikasi, atau pembagian informasi milik negara yang dapat menguntungkan musuh negara.

Suu Kyi berbicara dengan pengacaranya untuk pertama kalinya melalui telekonferensi pada hari Rabu (31/3/2021) dan mengumumkan bahwa dia dalam keadaan sehat.

Baca juga: Pasukan Keamanan Myanmar Tidak Peduli Warga Sendiri, Demonstran Terus Dibantai

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved