Minggu, 19 April 2026

Opini

Menjadikan Puasa Ujian Peningkatan Kualitas Diri

Haruman bulan puasa (Ramadhan) sudah semerbak, ada aroma kurma, aroma bumbu kanji, aroma meugang, pengajian-pengajian bertema menyambut puasa

Editor: hasyim

Semestinya kita dapat mendesain agar apapun profesi dilaksanakan dalam bingkai syariat Islam dengan lebih memerhatikan kedisiplinan waktu, kualitas, kehalalan, kebersihan, ketepatan takaran, tidak merusak lingkungan, dan lain sebagainya. Setiap kita adalah pemimpin untuk diri yang harus mengawal nafsu dan anggota tubuh untuk tidak keluar dari kerangka menyembah dan taqwa kepada Allah.

Seorang pejabat publik tidak terjebak dengan rutinitas, mengalokasikan waktu untuk mengawasi lapangan, membuat program-program yang bermanfaat, antikorupsi, tidak banyak makan, memastikan tidak ada pencemaran lingkungan, dan seterusnya.

Seorang dosen perlu memastikan diri untuk mengajar sesuai jadwal yang diberikan, menghindari pembatalan kegiatan akademik pada hari H, mempersiapkan materi ajar yang berkualitas, melaksanakan project penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dengan amanah dan seterusnya.

Seorang pedagang perlu memastikan barang yang dijualnya adalah halal, masih baik kualitasnya atau tidak kadaluarsa, tidak mencampur antara produk yang kurang bagus dengan yang masih bagus, menggunakan timbangan yang benar (di-tera secara regular), serta tidak mengambil keuntungan secara tidak wajar.

Sementara untuk setiap anggota masyarakat dapat memulai dari diri masing-masing melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, melakukan pemisahan sampah organik dan non organik, tidak melanggar aturan lalu lintas, tidak melakukan belanja berlebihan menjelang meugang dan hari raya, memastikan untuk hanya berbelanja produk-produk halal, tidak antri di produk subsidi seperti gas dan beras kalau tidak tergolong miskin, tidak meninggalkan toilet dalam keadaan kotor setelah pemakaian, dan seterusnya.

Perlu integrasi nilai-nilai Islam dalam berkehidupan sehingga segala sesuatu yang kita lakukan menjadi amal ibadah. Kesalahan kita selama ini adalah menjadikan Ramadhan sebagai bulan untuk fokus beribadah mahzah, yaitu melaksanakan ibadah dalam hubungan kita dengan Allah SWT (hablumminallah), dengan mengesampingkan hablumminannas.

Padahal seharusnya bukan demikian, Islam sebagai rahmatan lil alamin adalah konsep dasar untuk membentuk generasi yang paripurna, dengan kemampuan iman, taqwa, dan ilmu pengetahuan yang tinggi sehingga dapat melaksanakan kehidupan ini dalam kebajikan dan anti perusakan.

Semoga setelah Ramadhan nanti kita bisa lebih baik lagi, angka kejahatan dapat diturunkan, lingkungan dapat lebih bersih, tidak ada lagi tempat pembuangan sampah liar di pinggir-pingir jalan atau sungai, dan toilet-toilet umum dalam keadaan bersih terutama

yang berada di masjid atau langgar. Kita harus menuju manusia parpurna karena Islam adalah agama sempurna.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved