Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Ramadhan Momentum Ketahanan bagi Keluarga

Angka perceraian meningkat tajam, suami tega menghabisi istrinya agar dapat menikah lagi, istri juga sengaja menyewa laki-laki lain

Ramadhan Momentum Ketahanan bagi Keluarga
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc

Oleh Dr. H. Agustin Hanafi, Lc

Akhir-akhir ini kita dikejutkan dengan berita miring terkait ketahanan keluarga yang mudah rapuh. Angka perceraian meningkat tajam, suami tega menghabisi istrinya agar dapat menikah lagi, istri juga sengaja menyewa laki-laki lain untuk menghabisi suaminya akibat terlibat cinta segitiga, ibu kandung sampai hati menyiram anaknya dengan air panas, dan tidak sedikit pula anak yang berani bersikap kasar terhadap orang tuanya. Belum lagi maraknya kasus pencabulan yang dilakukan oleh orang terdekat, pelecehan seksual, penjamberetan, aksi begal, dan lain sebagainya.

Namun, peristiwa kelam seperti di atas dapat diinimalisir bahkan dikikis habis jika sebuah keluarga dengan serius memanfaatkan kedatangan bulan suci Ramadhan. Sebab, bulan ini adalah momentum kebersamaan indah bersama keluarga. Makan sahur dan buka puasa bersama sehingga suami istri dapat berkomunikasi secara intensif dan saling berdiskusi, serta bertukar pikiran.

Satu sama lain bisa bertanya apakah selama ini sudah menjadi pasangan ideal, apa saja yang masih perlu dievaluasi, sikap dan perilaku apa yang harus diubah agar pasangannya menjadi nyaman. Saling memaafkan atas kesalahan dan kekhilafan, saling memberikan bahasa kasih seperti apresiasi, penghargaan, pelukan, dan sebagainya yang disenangi oleh pasangan, sehingga kehangatan rumah tangga semakin tumbuh.

Menyampaikan harapan dan visi keluarga yang mungkin belum terwujud, saling menanyakan kesulitan dan kendala yang selama ini menjadi hambatan serius sehingga belum memberikan peran maksimal sebagai seorang suami dan istri, saling memberikan pujian atas sikap lembut dan kehangatan pasangan, serta usaha dan kerja keras dalam mensejahterakan keluarga. Karena salah satu faktor keretakan hubungan suami istri selama ini ditenggarai akibat minimnya komunikasi dan apresiasi dari pasangan, sehingga gampang curiga dan mudah tersinggung karena satu sama lain kurang membuka diri dan bersikap egois.

Momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kepada anak bahwa salah satu hikmah bulan Ramadhan adalah tumbuhnya kepekaan sosial terhadap orang-orang lemah. Betapa sulitnya menahan lapar dan dahaga, sehingga muncul kepedulian antarsesama, bersedia berbagi dan menolong atas berbagai kesulitan hidup, serta melatih hidup sederhana, tidak glamour, dapat mensyukuri nikmat Tuhan hingga bisa menghemat dan mengurangi sikap konsumtif (boros).

Di sisi lain, Ramadhan dapat memotivasi pasangan dan anak untuk tekun beribadah bahwa ini adalah bulan spesial dimana segala amal ibadah yang dikerjakan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Untuk itu, tidak membiarkan waktu istri banyak terkuras di dapur demi memenuhi selera suami. Sehingga istri tidak memiliki kesempatan untuk beribadah secara maksimal karena hikmah utama Ramadhan adalah menimbulkan kesadaran untuk berhemat, guna merasakan penderitaan orang-orang tidak mampu.

Dan, nilai spiritual dapat berpengaruh terhadap kelembutan istri dalam mendampingi suami dan anak. Istri juga tidak membebankan suami dengan katalog dan merk pakaian sehingga menghabiskan waktunya untuk mencari rupiah, sehingga minim ibadah.

Kemudian, orang tua mengajak anak untuk membuat program yang bermanfaat seperti khatam Alquran, mentadabburi isi kandungan Alquran, qiyamullail, dan shalat Dhuha. Di sisi lain, dapat menanamkan nilai-nilai kepada anak, mengajarinya agar menghargai waktu, tidak larut dengan alat komunikasi main game online, chatting, dan menonton yang tidak bermanfaat. Mengajari tentang sikap menghargai kawan, tidak mudah membully, serta santun kepada orang lain dan cara menyampaikan kritik atau saran, serta menyikapi perbedaan pendapat.

Membekali anak dengan kisah-kisah teladan, seperti kemuliaan hati Rasulullah sehingga menjadikannya sebagai idola. Puasa juga merupakan ajang pengendalian diri dari sikap emosi. Sekiranya ada masalah dalam rumah tangga, maka selesaikan dengan sikap arif dan bijak tanpa harus bersikap reaktif dan marah, sebagaimana yang dicontohkan Baginda Rasulullah.

Dengan kelembutan dan komunikasi yang hangat antara suami istri dan anak, Insyaallah ketahanan keluarga dapat terjaga dengan baik sehingga angka perceraian dapat diminimalisir, terlebih di bulan Ramadhan sebagai momentum ketahanan keluarga. Wallahu A`lam bi al-Sawab!

* Penulis adalah Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry dan Anggota IKAT-Aceh. Email: agustinhanafi77@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved