Ramadhan Mubarak

Ramadhan dan Pengendalian diri

SUDAH sepantasnya kita bersyukur ke hadhirat Allah Swt, bahwa di tengah pandemi yang masih melanda, dengan izin-Nya, kita masih memiliki kesempatan

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
Prof. Eka Srimulyani, Ph.D 

Oleh Prof. Eka Srimulyani, Ph.D

SUDAH sepantasnya kita bersyukur ke hadhirat Allah Swt, bahwa di tengah pandemi yang masih melanda, dengan izin-Nya, kita masih memiliki kesempatan untuk merasakan kenikmatan dan kemanfaatan Ramadhan, bulan mulia yang penuh berkah dan keampunan.

Ramadhan juga identik dengan bulan ‘tarbiyah’ (pendidikan), karena Ramadhan adalah juga momentum mendidik jiwa untuk menguasai diri, mendidik nafsu agar tidak selalu harus dituruti, mendidik pribadi untuk memegang dan menjalankan amanat, serta melatih kesabaran.

Bila semua proses ini bisa dilalui dengan sukses, maka Ramadhan akan mengantarkan kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki resiliensi, mampu mengendalikan diri untuk melaksanakan hal-hal yang diperintahkan Allah Swt dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh-Nya.

Dalam bahasa Arab puasa dikenal dengan istilah ‘shaum’, yang berarti ‘menahan diri’ (imsak). Sementara secara definisi puasa adalah menahan diri dari makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Hakim, Rasululllah Saw bersabda bahwa: "Puasa bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi puasa adalah menahan diri dari laghwu dan rafats, apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, "aku sedang puasa, aku sedang puasa."

Ini jelas bermakna bahwa salah satu esensi penting dari puasa adalah kemampuan untuk menahan diri atau mengendalikan diri dari akhlaq tidak terpuji, bukan hanya sekadar menahan diri dari lapar dan dahaga semata. Mengendalikan diri sesungguhnya juga adalah ‘keahlian’ yang sangat dibutuhkan oleh manusia sebagai makhluk sosial.

Pengendalian diri

Dalam ayat Alquran yang memuat perintah puasa (al-Baqarah: 183), di bagian akhir, jelas disebutkan bahwa tujuan berpuasa adalah untuk mencetak manusia takwa. Secara bahasa takwa artinya menjaga, atau secara lebih terperinci, menjaga keselamatan diri di dunia dan akhirat dengan dengan melaksanakan segala yang diperintahkan oleh-Nya, dan meninggalkan semua larangan-Nya. Untuk mencapai ini semua, kemampuan untuk mengendalikan diri memiliki esensi penting.

Imam al-Ghazali membagi puasa ke dalam tiga tingkatan, yaitu shaum al-umum (puasa kebanyakan), shaum al-khusus (puasa khusus), dan puasa khusus al-khusus (puasa sangat khusus/spesial). Puasa kebanyakan adalah bentuk puasa yang paling dasar ketika seseorang hanya mampu atau fokus pada menahan diri dari makan dan minum, serta syahwat. Pada tingkat puasa khusus, seseorang yang berpuasa sudah lebih mampu mengendalikan dirinya, termasuk dari dari perbuatan-perbutan yang tidak terpuji.

Dalam hal ini, Imam al-Ghazali menyebutkan ada enam prasyarat pencapaian puasa level khusus ini, yaitu: 1) tidak melihat sesuatu yang dibenci Allah Swt, 2) menjaga lisan, 3) menjaga pendengaran, 4) menjaga seluruh anggota badan, 5) menghindari makan dan minum berlebihan (saat berbuka), 6) khauf (takut) dan raja' (harap) hanya kepada Allah.

Sementara puasa sangat khusus adalah puasa tingkat tinggi, tatkala bukan hanya raga yang berpuasa tetapi juga jiwa atau batin ikut berpuasa, sehingga sama sekali tidak tergoda ke dalam jebakan kemewahan duniawi.

Pembiasaan

Menurut Zakiyah Daradjat, pakar psikologi agama, orang yang sehat mentalnya punya kemampuan untuk menunda (sementara) pemuasan kebutuhan-kebutuhannya. Orang tersebut juga bisa mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang ada, keinginan dan perbuatan yang dilarang, serta perbuatan yang merugikan.

Dalam hal ini, ibadah puasa Ramadhan dan bahkan ibadah puasa sunnah sekalipun menjadi sebuah ajang yang dapat melatih kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri, membuat emosi stabil, meredam gejolak nafsu amarah dan sebagainya. Dalam konteks pengendalian diri seperti ini, puasa adalah salah satu solusi yang sangat efektif. Kemampuan penguasaan atau pengendalian juga bisa mereduksi potensi kondisi psikis yang merugikan seperti resiko depresi, dan lain sebagainya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved