Breaking News:

Ramadhan Mubarak

Meningkatkan Solidaritas Sosial di Bulan Ramadhan

Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang khas. Kekhususannya adalah, ibadah puasa ini milik Allah yang memiliki banyak misi.

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/MUHAMMAD NASIR
M. Fadhil Rahmi, Lc 

Oleh M. Fadhil Rahmi, Lc

Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang khas. Kekhususannya adalah, ibadah puasa ini milik Allah yang memiliki banyak misi. Di antaranya, peningkatan kualitas individu setiap Muslim dalam membangun hubungan dengan Allah (hablun ninallah) agar terasa lebih baik, serta bagaimana memupuk dan menjaga hubungan dengan sesama manusia (hablun minnas) agar terasa lebih lapang. Walaupun puasa sepenuhnya milik Allah, tetapi ibadah ini juga memiliki dimensi sosial yang nyata.

Salah satu dimensi sosial yang dibentuk melalui puasa adalah menumbuhkan solidaritas sosial sesama muslim. Pengendalian seluruh nafsu dan segala bentuk egosentrisme adalah refleksi dari keseriusan menuju keridhaan Allah. Di saat yang sama, sikap menurunkan ego serta mengendalikan hawa nasfu membentuk seseorang menjadi lebih solider dan peka serta peduli terhadap sesamanya.

Solidaritas adalah sifat atau perasaan satu rasa, senasib, dan rasa kesetiakawanan.Rasa tersebut tidak harus berasal dan diinisiasi dari yang lebih tinggi derajat sosialnya. Bagi yang setara atau di level bawah pun sangat bisa untuk mempunyai rasa yang sama. Tidak heran kita membaca dan melihat seorang anak kecil dan ini jamak terjadi membongkar celengan untuk disumbangkan demi misi kemanusian. Seperti kisah Aisyah, gadis berumur 4 tahun di Jawa Timur yang menyumbang tabungannya untuk tim medis dalam menghadapi Covid-19.

Kalau seorang bocah kecil mampu, apalagi bagi Muslim yang diberi kecukupan oleh Allah, lebih-lebih di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini. Tentu, rasa lapar dan dahaga mengingatkan kita kepada penderitaan dan kepedihan yang dialami oleh fakir miskin, mustadh'afin (kaum lemah), dan para yatama (anak yatim).

Alquran dalam banyak ayatnya menyeru kepada manusia untuk bersikap empati terhadap sesama, seperti yang tertera dalam Surat Al-Maidah ayat 2, "dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan tolong menolong kamu dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan."

Ajaran ini sangat mulia karena setiap Muslim diajarkan untuk tolong menolong dengan siapapun dalam hal kebaikan, dan sebaliknya jangan bekerja sama dalam kejahatan. Sikap empati dan tolong menolong tersebut tentunya tidak muncul begitu saja, ia butuh latihan yang cukup. Dan, Ramadhan menjadi salah satu momen yang tepat untuk membentuk sikap tersebut.

Memberi makan orang yang berbuka puasa misalnya, dengan cara memberikan takjil gratis atau paket sembako adalah salah satu bentuk latihan menumbuhkan solidaritas sosial. Dan diharapkan kebiasaan tersebut berkelanjutan hingga ke bulan-bulan lain selain Ramadhan, tidak hanya rutinitas tahunan Ramadhan saja.

Selain berkelanjutan, secara kualitas juga semakin meningkat. Jika memulai dengan menyantuni anak yatim misalnya, semoga ke depan mampu meningkatkan ke level menjamin pendidikan untuk si anak yatim tersebut.

Allah menjadikan Ramadhan penuh keberkahan sehingga siapa pun yang melakukan amal baik apapun bentuknya, akan Allah lipat gandakan pahalanya. Maka, di sini pulalah kita berlomba-lomba dalam meningkatkan kualitas ibadah kita dalam segala dimensi. Bulan dimana kita diberi kesempatan mengubah diri dari yang tadinya kikir berubah menjadi yang lebih peduli dan banyak sedekah.

Dari yang tadinya ego dan pemarah menjadi hamba yang rendah hati dan pemaaf, yang tadinya temperamen berubah menjadi pribadi yang sabar. Semua sikap baik tersebut idealnya kita dapatkan dan tingkatkan kualitasnya dari `madrasah' Ramadhan.

Dengan Ramadhan juga tentunya sikap solidaritas sosial akan terbentuk. Kalaulah puasa di bulan Ramadhan dengan segala pengorbanan dengan merasa lapar dan dahaga sepanjang hari tidak menghasilkan kerendahan hati (tawadhu') dan membentuk karakter yang baik, tidak pula menghasilkan sikap solidaritas antarsesama manusia, tentunya akan sulit mencari sarana dan waktu lain untuk menumbuhkan rasa solidaritas.

Imam al-Ghazali ketika ditanya tentang tujuan puasa, mengatakan: "Manusia diberi hawa nafsu sama seperti hewan, bedanya manusia diberi akal sehingga derajat manusia lebih tinggi dari pada hewan. Di atas derajat manusia ada yang lebih tinggi lagi yaitu level malaikat. Kenapa diperintahkan puasa? Jawabannya adalah untuk memerangi hawa nafsu.

Sebab, kalau hawa nafsu tidak diperangi, maka manusia akan jatuh ke level hewan. Dan jika manusia berhasil memerangi hawa nafsu, maka manusia akan naik ke tingkat yang lebih tinggi lagi yaitu level malaikat tapi bukan (berarti menjadi) malaikat. Kenapa malaikat? Karena malaikat adalah makhluk yang terdekat dengan Allah. Semoga ibadah puasa kita lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

* Penulis adalah Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia. Email: fadhilrahmilc.@gmail.com

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved