Ramadhan Mubarak
Berfikir dan Berzikir Berbasis Alquran
Ramadhan menyimpan segudang keistimewaan untuk orang-orang beriman. Salah satu keistimewaan tersebut yaitu Allah menurunkan ayat pertama
dalam pohon kayu, pada binatang, pada awan, dalam tanah, bahkan pada diri mereka sendiri, kurang mampu mereka baca secara benar. Sebaliknya, ada kelompok lain, yang hanya bergelut dengan fikir-Nya saja, mereka bahkan sekolah ke luar negeri, mencapai title-titel tinggi dalam kepakaran mereka, namun mereka relatif jauh dari zikrullah, sehingga ilmu dan kepakaran yang mereka miliki seringkali menyeret mereka kepada kesombongan dan keangkuhan semata, hingga akhirnya menafikan kehadiran Tuhan.
Inilah perbedaan mencolok antara ilmuan hari ini dengan para ilmuan Muslim yang hidup pada zaman keemasan Islam, seperti Alkhawarizmi, Ibnu Sina, Alfarabi, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi. Mereka adalah para ilmuan yang sangat pakar di bidang keilmuan mereka, namun di sisi lain, mereka adalah orang-orang yang taat dengan
agama mereka, banyak di antara mereka bahkan adalah penghafal Alquran.
Itulah sebabnya mereka mampu memberi pengaruh yang signifikan terhadap peradaban. Penemuan-penemuan mereka diakui bahkan oleh ilmuan di seluruh dunia.
Pada akhirnya, jika kedua sisi ini, zikir dan fikir, bersinergi dalam setiap diri kita, insya Allah kita semua akan sampai pada satu kalimat pengakuan untuk eksistensi Allah Swt, yaitu "Maa khalaqta haaza bathilaa" (Tidak ada yang diciptakan Allah yang sia-sia).
* Penulis adalah Rektor Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Email: samsul_r@yahoo.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-dr-ir-samsul-rizal-meng_20170607_082305.jpg)