Sabtu, 6 Juni 2026

Opini

Ramadhan Momentum Evaluasi Diri

Sudah banyak disebutkan dari berbagai sumber baik dari Alquran, hadits dan juga kitab-kitab para ulama akan keutamaan bulan Ramadhan

Tayang:
Editor: hasyim
IST
Dr. Murni, M.Pd, Anggota Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh (ISAD) Aceh 

Oleh Dr. Murni, S.Pd,I., M.Pd

Wakil Ketua III STAI Tgk. Chik Pante Kulu

"Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja." (HR. Ibnu Majah).

Sudah banyak disebutkan dari berbagai sumber baik dari Alquran, hadits dan juga kitab-kitab para ulama akan keutamaan bulan Ramadhan, bulan yang dipenuhi dengan ampunan Allah dan momentum untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Namun momentum ini akan terlewati begitu saja jika hanya terlena dengan pekerjaan yang sia-sia atau tingkah laku yang tidak mencerminkan seorang Muslim yang baik di bulan suci Ramadhan. Seperti halnya hadits yang telah disebutkan di atas.

Ada banyak hikmah dan rahasia di dalamnya. Tidak semua orang mengerti tujuan dari ibadah puasa. Makanya, tidak heran bila ada yang berpuasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah puasa yang ia dilakukan.

Evaluasi diri juga bisa dilakukan terhadap puasa itu sendiri, dengan kata lain apakah puasa kita sudah mencapai seratus persen derajat muttaqin atau tidak. Maka dalam hal ini bisa digunakan standar puasa sebagaimana yang diajarkan oleh Imam al-Ghazali dalam Kitab Ihya' `Ulumuddin. Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan puasa. Pertama, puasa orang awam (`am), adalah puasa orang-orang umumnya, yaitu menahan diri dari makan dan minum serta mencegah kemaluan dari bersenggama sejak menjelang Shubuh hingga Maghrib. Ini adalah tingkatan puasa paling rendah.

Kedua, puasa khusus (khawwash), yaitu puasa yang tidak hanya sekadar menahan diri dari memenuhi keinginan perut dan berhubungan suami istri di siang hari, tetapi juga menjaga pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Untuk bisa masuk pada tingkatan ini, seorang Muslim sedikitnya harus menjaga diri sekaligus menjauhkan diri dari 6 (enam) jenis perbuatan berikut: 1), Menahan diri dari melihat, memandang segala hal yang dicela dan dimakruhkan yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. 2). Menjaga lidah dari perkataan sia-sia seperti mengumpat, berbohong, berkata keji, ucapan yang dapat merenggangkan persaudaraan, ucapan kebencian, atau mengandung riya'. Sehingga seorang Muslim yang berpuasa lebih baik berdiam diri dan menggunakan waktu untuk berzikir kepada Allah maupun membaca Alquran.

3). Menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik. Ucapan yang haram diucapkan, haram pula untuk didengarkan. 4). Mencegah anggota tubuh lain dari perbuatan dosa dengan menghindari dari segala sesuatu yang makruh, mencegah perut mengonsumsi hal syubhat saat waktu berbuka.

5). Tidak berlebihan saat berbuka puasa hingga perut penuh dengan makanan. Sebab perut yang penuh sesak dengan yang halal (dalam konteks berbuka puasa), berbahaya. Sebab seorang tidak mungkin mendapatkan faedah puasa jika saat tiba waktu berbuka, ia hanya

mengincar apa yang tidak didapat saat berpuasa dan, 6). Mempunyai hati yang diliputi rasa cemas dengan penuh harap karena ketidaktahuan (apakah puasanya diterima atau tidak). Sehingga seorang Muslim harus senantiasa berikhtiar memperbaiki diri dengan tidak berpuasa pada model dan tingkatan yang dilakukan.

Ketiga, puasa khusus dari yang khusus (khawwash bil khawwash), yaitu puasa yang paling tinggi tingkatannya. Puasa pada tingkatan ini mampu mengendalikan hati dari dorongan nafsu dan pikiran duniawi. Hati dan pikirannya hanya tertuju kepada Allah `Azza wa Jalla semata, dan pandangannya kepada dunia tak lebih hanya sekadar tempat untuk beramal shaleh untuk bekal kehidupan di akhirat yang kekal. Puasa ini merupakan puasa para Nabi, orang-orang shalih hingga para kekasih Allah SWT.

Ramadhan sebagai bulan untuk mengevaluasi diri baik sedang dalam bulan puasa Ramadhan juga untuk sebelas bulan yang akan datang, sebagai bentuk pendekatan diri kepada sang Khaliq juga sebagai bentuk pembenahan diri hubungan dengan sesama manusia yang lebih baik. Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hashr: 18).

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah secara tegas menyatakan kepada orang-orang yang beriman agar mengevaluasi segala perbuatannya dan kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Umar bin Khattab ra. berkata : "Hendaklah kalian menghisab diri kalian sebelum kalian dihisab, dan hendaklah kalian menimbang diri kalian sebelum kalian ditimbang, dan bersiap-siaplah untuk hari besar ditampakkannya amal."

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved