Kamis, 23 April 2026

Internasional

Kisah Horor dari Puing-puing Bangunan Gaza Dirudal Jet Tempur Israel Terus Bermunculan

Tiga saudara perempuan Hala, Yara dan Rola ditemani sang ayah, Muhammad Al-Kulak, tewas di bawah reruntuhan rumah mereka.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Seorang wanita makan es krim di depan gedung Al-Shuruq yang hancur terkena serangan udara Israel, di Jalur Gaza, Palestina, Sabtu (22/5/2021). 

"Dikubur bersama mimpi mereka dan mimpi buruk yang menghantui mereka," tambahnya.

Hudhaifa Al-Yaziji, direktur NRC di Gaza, mengatakan organisasi tersebut bekerja dengan 118 sekolah di Jalur Gaza.

Sedangan layanan psikologis dan sosial telah menjangkau lebih dari 75.000 siswa.

Sebagai bagian dari Program Pembelajaran yang Lebih Baik.

Al-Yaziji percaya perang akan meningkatkan jumlah anak dan pelajar yang membutuhkan bantuan psikologis dan sosial.

Dia mengatakan anak-anak Al-Kulak dan orang lain yang terbunuh menerima layanan untuk menangani trauma sebelumnya.

Mereka menderita akibat kekerasan di Jalur Gaza.

Baca juga: TV China Tuduh Joe Biden Didukung Yahudi Kaya AS, Alasan Mendukung Serangan Israel ke Jalur Gaza

Al-Yaziji mengatakan gejala paling menonjol yang memerlukan pengobatan adalah mimpi buruk.

Sumaya Habib, seorang dokter di Kementerian Kesehatan, dan tim spesialis anak-anak yang trauma dari perang Israel sebelumnya dan putaran kekerasan.

Habib mengatakan perang saat ini sangat kejam dan akan berdampak negatif pada sebagian besar anak-anak di Palestina.

Ia yakin anak-anak seperti Abdullah Al-Kulak, yang melarikan diri bersama ibunya dari bawah reruntuhan, akan mengalami trauma yang lebih parah.

Menurut Habib, luka mental yang akan dialami anak memiliki banyak bentuk.

Terutama hilangnya rasa aman dan aman, serangan panik dan agresi.

Untuk wanita, mereka akan kehilangan, dalam berbagai tingkat.

Seperti bagian dari feminitas mereka dan karakteristik kekerasan.

Baca juga: Sekjen PBB: Anak-anak Gaza, Hidup Seperti Dalam Neraka

Disebutkan, 80 persen siswa Gaza memiliki pandangan positif untuk masa depan pada 2019.

Tetapi pada September 2020, turun menjadi hanya 29 persen.

“Perang akan membuat lebih banyak anak kehilangan pandangan positif tentang masa depan," kata Habib.

"Karena mereka melihat kematian dengan setiap serangan dan ledakan,” ujarnya.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved