Breaking News:

Opini

In Memoriam Syamsuddin Mahmud, Ahli Moneter yang Cinta Pendidikan

Pria kelahiran Buket Rumiya, Aceh pada 24 April 1935 ini tercatat sebagai Gubernur Ke-14 Aceh yang memimpin pada periode 1993-2000

In Memoriam Syamsuddin Mahmud, Ahli Moneter yang Cinta Pendidikan
IST
Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Unimal Aceh

Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Rektor Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Unimal Aceh

Pria kelahiran Buket Rumiya, Aceh pada 24 April 1935 ini tercatat sebagai Gubernur Ke-14 Aceh yang memimpin pada periode 1993-2000. Ia merupakan tokoh pendidikan Aceh, meski ia seorang ahli moneter. Lelaki periang dan humoris ini merupakan guru yang sangat dikagumi oleh civitas akademika Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh. Pak Syam--begitu panggilan akrabnya--memiliki empat orang anak, yaitu Phauni Azhar Bahri, Susi, Yanna, dan Riva.

Setelah menamatkan pendidikan S1 di Universitas Indonesia, beliau diminta untuk mengabdi ke daerah kelahirannya, Aceh, sebagai dosen Fakultas Ekonomi USK sejak tahun 1959. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikan magister dan doktoral ke University of Ghent, Belgia. Sepulang dari pendidikan beliau dipercayakan sebagai Dekan Fakultas Ekonomi USK Periode1977-1981. Banyak karya yang beliau tinggalkan di fakultas tertua di Aceh itu. Beliau tidak pernah absen dalam berbagai kegiatan yang dilakukan almamaternya. Berbagai koleksi buku beliau sumbangkan beserta pembangunan ruang “Syamsuddin Corner”, yaitu sudut baca yang dapat digunakan civitas akademika untuk melakukan berbagai kajian ilmu ekonomi. Kecintaan beliau terhadap pendidikan sangat besar.

Menurutnya, dengan pendidikan yang baik, tentu akan membuka peluang dan cakrawala dalam membangun peradaban yang lebih baik ke depan. Untuk memperoleh keingintahuan terhadap berbagai ilmu pengetahuan, beliau tak pernah malu untuk belajar dan bertanya. Bahkan kepada mahasiswa beliau sekalipun sebagaimana pernah saya alami saat menerbitkan buku “Konvergensi Pertumbuhan Ekonomi”. Setelah beliau peroleh buku tersebut di Gramedia Jakarta dan khatam membacanya, beliau dengan serius menanyakan berbagai pengertian secara mendetail terhadap beberapa pengertian yang beliau ragu akan maknanya. Keingintahuan beliau terhadap ilmu pengetahuan sangat tinggi walau umurnya sudah lebih 86 tahun.

Profesor Moneter yang telah melahirkan banyak buku serta berbagai karya ilmiah tersebut, selalu mendorong generasi muda untuk menggapai jenjang pendidikan setinggi mungkin. Beliau sangat yakin bahwa dengan ilmu pengatahuan orang akan sukses di dunia maupun di akhirat kelak. Berbagai jalan yang akan kita tempuh agar selamat, tentu harus dengan adanya petunjuk yang disebut dengan ilmu. Bila kita berjalan tanpa ilmu pengetahuan, bagaikan kita merangkak dalam kegelapan yang nyata. Untuk itu, Nabi Muhammad saw selalu mengajak kita untuk menuntut ilmu ‘sejak dari ayunan hingga ke liang lahad’.

Seusai memimpin di Fakultas Ekonomi USK, beliau diminta untuk menakhodai Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) pada periode 1982-1993. Saat memimpin Bappeda beliau bersama dengan Prof Ibrahim Hasan selaku Gubernur saat itu membuat berbagai kebijakan ekonomi, yaitu pembangunan infrastruktur secara besar-besaran seperti pembangunan jalan, jembatan, hingga dapat menembus daerah terisolir semua plosok Aceh. Begitu juga dengan pembangunan sarana telekomunikasi seperti peluncuran siaran TVRI dan radio. Ahli moneter ini sangat bijaksana dalam mengeluarkan berbagai kebijakan semasa beliau menjabat Gubernur Aceh, khususnya terhadap peningkatan pendidikan di Serambi Makkah.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Afriyansyah (2017) dengan menggunakan metode sejarah kritis dan melakukan pendekatan kualitatif, dan teknik pengumpulan datanya wawancara, diperoleh hasil analisis bahwa kondisi pendidikan di Aceh menjelang masa pemerintahan Gubernur Syamsuddin Mahmud disimpulkan belum baik. Hal ini sejalan dengan fakta dan data statistik pendidikan di Aceh, yaitu lembaga pendidikan di Aceh mengalami pasang surut, yakni dengan berganti- gantinya nama lembaga pendidikan. Usaha Gubernur Syamsuddin Mahmud dalam memajukan pendidikan Aceh membuahkan hasil.

Kenyataan tersebut dapat dilihat dengan berdirinya tiga buah sekolah unggul di Aceh, yakni SMA Modal Bangsa, Dayah Ruhul Islam Anak Bangsa,, dan SMA 9 Tunas Bangsa. Kebijakan Prof Syamsuddin Mahmud terhadap pendidikan di Aceh memiliki dampak yang sangat besar. Prestasi ketiga sekolah unggul yang telah dibangun oleh Pak Syam di mana alumni dari sekolah yang didirikan beliau banyak yang lulus di perguruan tinggi unggulan tingkat nasional maupun internasional. Kelahiran beberapa sekolah unggul di Aceh mendongkrak kualitas pendidikan anak bangsa secara signifikan. Ketertinggalan di sektor pendidikan akibat konflik yang berkepanjangan di Aceh, bagaikan tanah tandus tersirami dengan air kehidupan.

Prestasi dengan adanya sekolah unggul tersebut, setidaknya dapat mengurangi beban terhadap stigma Aceh sebagai daerah tertinggal. Dana Otsus yang sebentar lagi akan hilang, seharusnya dapat mempercepat ketertinggalan berbagai sarana pendidikan dan kesehatan di Aceh. Semoga dengan adanya kebijakan yang mendukung terhadap percepatan pendidikan sebagaimana yang pernah dilakukan Pak Syam kemungkinan rakyat Aceh akan dapat tersenyum atas pembanguan yang dicapai.

Sejak istri tercintanya Mariana meninggal tahun 2008, beliau sangat merasakan kehilangan pendamping yang dapat memacu semangat dalam membangun peradaban anak bangsa. Sehingga, beliau menikah kembali dengan Ibu Haslinda. Keceriaan mulai terlihat dengan adanya pendamping yang selalu menemani beliau melaksanakan berbagai aktivatas. Keserasian terlihat jelas saat beliau melaksanakan ibadah umrah bersama kami.

Semangat dalam melaksanakan berbagai tahapan rukun umrah tidak terkalahkan, meski umur beliau saat itu sudah 85 tahun. Keceriaan beliau diuji kembali dengan meninggalnya istri kedua belian Ibu Haslinda pada hari Senin, 28 Mei 2018, setelah sempat dirawat di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Namun, beliau dengan tegar menghadapi berbagai cobaan yang Allah berikan. Apa yang ditakdirkan, beliau tak sedikit pun mengeluh terhadap keputusan yang Allah tetapkan kepadanya. Keiklasan yang tulus selalu beliau tunjukkan atas segala takdir yang terjadi.

Tepatnya pada Selasa, 28 Agustus 2018 beliau mendapat jodoh kembali dengan Ibu Khairah yang dengan kebetulan sudah ditinggalkan oleh suami tercinta beliau beberapa waktu sebelumnya. Langkah, pertemuan, dan maut yang memang telah Allah gariskan terhadap beliau, selalu beliau jalankan dengan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan. Apa pun keputusan sebagaimana yang telah tercatat dalam buku catatan yang tersimpan dengan baik di “Lauh Mahfuz” selalu beliau lakoni dengan baik, dengan mengharap keridaan dari Allah Swt.

Hidup adalah perjalanan untuk saling mengisi dengan berbagai kebajikan. Begitu pula dengan Guru Besar Ekonomi Moneter FEB USK yang selalu menghadapi berbagai tantangan hidup dengan penuh keceriaan ini. Guyonan yang selalu beliau lontarkan memiliki nilai edukasi yang tinggi, sehingga sangat dinantikan oleh para sahabat serta junior baliau bila sedang bercengkrama. Rasa optimis dalam membangun bangsa perlu kita tiru serta teruskan dalam membangun bangsa dan negara.

Akhirnya, selamat jalan guru kami. Karya ikhlas yang begitu banyak telah Profesor ukir, hendaknya menjadi penerang di alam seberang. Semoga kami dapat meneruskan kebajikan yang pernah engkau tanamkan dalam jiwa dan sanubari kami untuk dapat kami teruskan sebagai amal yang akan menuntun kami menuju keberhasilan sebagaimana Allah Swt inginkan.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved