Breaking News:

Opini

Menakar Kualitas Pendidikan Aceh

"Kualitas pendidikan di Aceh sekarang lebih buram dari kertas yang bura." begitu bunyi pernyataan dari Rektor

Editor: hasyim
Menakar Kualitas Pendidikan Aceh
FOTO IST
Marthunis M.A. Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh

Oleh Marthunis M.A. Direktur Sekolah Sukma Bangsa Pidie, Aceh

"Kualitas pendidikan di Aceh sekarang lebih buram dari kertas yang bura." begitu bunyi pernyataan dari Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, yang dirilis sebuah media (Infoaceh.net, 19/06/2021).

Pernyataan ini sontak memantik ragam respon dari berbagai kalangan, baik yang pro maupun kontra. Sebagai tokoh intelektual dan akademisi, ungkapan tersebut pastinya didasari basis data yang kuat. Apalagi beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi), sebuah lembaga yang menjadi lumbung data nasional untuk mengukur performa SMA/SMK sederajat dalam penerimaan peserta didik di berbagai perguruan tinggi tanah air.

Sejauh ini berdasarkan data LTMPT, dari 1.000 sekolah terbaik nasional dengan nilai rerata TPS (Tes Potensi Skolastik) UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) tertinggi tahun 2020, Aceh hanya menempatkan 5 wakilnya; SMAN Modal Bangsa (116), SMA T. Nyak Arif Fatih Bilingual School (370), SMAN 10 Fajar Harapan (473), SMAS Fatih Bilingual School (814), dan SMAN Unggul Tapaktuan (955). Selebihnya didominasi oleh sekolah-sekolah yang berada di pulau Jawa.

Di sisi lain, dalam pengumuman SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang baru-baru ini dirilis, Aceh berada di peringkat 8 nasional di antara 10 provinsi yang paling banyak diterima SBMPTN tahun 2021 (kontan.co.id, 14/06/2021). Jumlah siswa/i Aceh yang mendaftar pada SBMPTN tahun 2021 adalah sebanyak 16.767 peserta, dan dari jumlah itu sekitar 6.888 peserta atau 41 persennya dinyatakan lulus (rri.co.id, 15/06/2021).

Bagi banyak pihak, pencapaian ini terlihat kontradiktif dengan pernyataan dari Rektor USK. Perdebatan kedua hal yang paradoks itu tampak cukup riuh di jagat maya. Terlepas dari pro atau kontra terhadap pernyataan sang Rektor atau pun pencapaian dunia pendidikan Aceh tersebut, mari melihatnya secara lebih objektif.

Sebagai seorang pendidik, saya memandang bahwa pernyataan Rektor USK dapat menjadi ruang diskursus bersama untuk memperbaiki pendidikan Aceh menjadi lebih baik. Selama pernyataan tersebut tidak hanya sekadar gimmick belaka.

Sebagai pimpinan dari komunitas intelektual, semoga saja pernyataan dari Rektor ini dibarengi dengan upaya konkret untuk memfasilitasi dan bersinergi bersama perangkat Dinas Pendidikan Aceh demi memperbaiki mutu dan kualitas pendidikan di tanah rencong.

Bukankah perguruan tinggi sejatinya memberi dampak manfaat yang besar dan luas bagi masyarakat? Tri Dharma perguruan tinggi mengamanatkan demikian!

Apalagi baru-baru ini berdasarkan Scimago Institutions Rankings (SIR), sebuah lembaga pemeringkatan yang menggabungkan tiga indikator yang berbeda; kinerja penelitian (50 persen), hasil inovasi (30 persen), dan dampak sosial (20 persen) yang diukur dengan visibilitas web, telah menempatkan Universitas Syiah Kuala (USK) berada di peringkat 13 nasional dan 726 dunia (kompas.com, 20/06/2021).

Prestasi ini sudah selayaknya kita banggakan bersama. Tapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawab lembaga pendidikan tinggi sekelas USK maupun kampus-kampus lainnya di Aceh untuk membantu menjernihkan mutu pendidikan Aceh yang katanya buram itu.

Setiap tahun, ratusan hingga seribuan calon guru lulus dari USK untuk mengabdi menjadi guru di pelbagai pelosok Aceh bahkan nusantara. Bayangkan berapa banyak sudah guru yang dihasilkan oleh USK sejak berdirinya FKIP USK pada tahun 1961. Jika hanya sekadar menuding kualitas pendidikan Aceh buram, ini ibarat pepatah, menepuk air di dulang terpercik muka sendiri. Pertanyaan yang kurang lebih sama bisa kita ajukan, seberapa berkualitas para calon guru atau guru yang telah lulus dari USK?

Oleh karena itu, menyoal pendidikan bukan hanya berbicara tentang hasil, tapi yang lebih mendasar adalah proses itu sendiri. Kualitas guru menjadi salah satu komponen dan pilar yang paling penting di dalamnya.

Maka, mari kita keluar dari sekadar menuding, menyalahkan atau mencari pembenaran masing-masing. Persoalan pendidikan Aceh yang sudah sedemikian rumit dengan kompleksitas dinamikanya memerlukan figur-figur yang terlatih dan jeli untuk mengurai benang kusut

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved