Breaking News:

Salam

Afghanistan Dibayangi Kekuasaan Taliban

Lebih dari 1.000 tentara Afghanistan dilaporkan telah melarikan diri ke negara tetangga Tajikistan setelah bentrok dengan gerilyawan Taliban

Editor: bakri
Anadolu Agency
Ratusan milisi Afgan berkumpul di Kabul untuk menyatakan bahwa mereka telah bergabung dengan pasukan keamanan dan pertahanan pemerintah, Rabu (23/6/2021). 

Lebih dari 1.000 tentara Afghanistan dilaporkan telah melarikan diri ke negara tetangga Tajikistan setelah bentrok dengan gerilyawan Taliban. "Pasukan (Afghanistan) mundur melintasi perbatasan untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri," kata penjaga perbatasan Tajikistan, Selasa (6/7/2021).

Menurut catatan, ini adalah ketiga kalinya tentara Afghanistan melarikan diri ke Tajikistan dalam tiga hari terakhir dan kasus kelima selama dua minggu terakhir. Secara total, hampir 1.600 tentara telah melintasi perbatasan. "Kelompok terakhir pasukan Afghanistan mencari perlindungan pada Senin pagi setelah bertempur dengan gerilyawan pada malam hari," kata Komite Keamanan Nasional Tajikistan.

Akhir-akhir ini kekerasan memang telah meningkat di Afghanistan. Taliban sudah membuat keuntungan yang signifikan, terutama di bagian utara negara itu dalam beberapa pekan terakhir. Lonjakan itu terjadi ketika Amerika Serikat (AS), Inggris, dan sekutunya mundur setelah 20 tahun. Tentara-tentara perdamaian dari negara adidaya itu dianggap gagal dalam misinya di Afghanistan.

Sebaliknya, Taliban mengalami kemajuan pesat di Provinsi Badakhshan dan Takhar, yang berbatasan langsung dengan Tajikistan. Taliban memotong semua jalan. Orang‑orang tidak punya jalan lain kecuali menyeberangi perbatasan.

Kantor-kantor berota seperti BBC dan Reuters melaporkan tentara Afghanistan sudah menggunakan berbagai rute untuk melarikan diri. Selain mencari perlindungan ke Tajikistan, para tentara juga mencari perlindungan ke Pakistan dan Uzbekistan untuk menghindari pertempuran.

Juru bicara Taliban Suhail Shaheen mengatakan banyak distrik telah jatuh ke tangan Taliban melalui mediasi setelah tentara Afghanistan menolak untuk berperang. Taliban dilaporkan sudah menguasai sekitar sepertiga dari negara itu.

Masalahnya sekarang adalah soal rakyat di negeri itu. Bagi rakyat Afghanistan, ini adalah saat yang mengkhawatirkan. Banyak orang yang menyatakan mereka tidak akan tinggal di negeri itu  jika Taliban mengambil alih kekuasaan. Namun banyak juga rakyat Afghanistan yang mendukung Taliban yang ingin menerapkan hukum Islam di tanah yang sedang bergolak itu.

Meluasnya cengkeraman Taliban telah memaksa pula banyak negara untuk “minggat” dari kawasan yang sudah dikuasai Taliban. Mereka menggunakan istilah diplomasi yakni menangguhkan sementara operasi kantor-kantor  konsulatnya karena situasi keamanan yang memburuk. Ini antaranlain dimumkan oleh Kedubes Rusia, Turki, Iran, dan lainnya dalam pekan ini di Kabul.

PBB mengatakan kini kelompok militan Taliban sudah menguasai wilayah lebih banyak dari ketika perang ini dimulai pada 2001. Taliban menguasai sebagian besar wilayah Afghanistan sejak tahun 1996 hingga tahun 2001 atau selama lima tahun.  Kekuasaan Taliban digulingkan pasukan pimpinan AS pada tahun 2001. Namun, secara bertahap kini mendapatkan kembali kekuatan yang cukup untuk merebut wilayah lagi. Kelompok militan ini berhasil mengumpulkan kembali kekuatannya dan saat ini diperkirakan sudah menguasai lebih 40 persen wilayah Afghanistan. Kelompok ini ingin merebut sepenuhnya tanah Afghanistan yang kemudian memberlakukan hukum Islam di sana.

Bahkan, mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai mengatakan misi militer NATO dan AS di sana gagal mengalahkan terorisme dan ekstremisme. Dia meminta pemerintah Afghanistan serta Taliban untuk duduk dan berbicara sesegera mungkin untuk perdamaian.

Meski sedang merasa “di atas angin” beberapa analis memperingatkan, meskipun Taliban mungkin mengira mereka telah menang, aktor bersenjata lainnya dalam persamaan Afghanistan akan membuat pengambilalihan paksa menjadi sulit. Pengalaman 25 tahun lalu, ketika Taliban dipaksa untuk berperang dengan panglima perang terutama di utara dan timur, dan gagal untuk mendapatkan kendali penuh atas seluruh negeri, adalah catatan yang harus digarisbawahi. Nah?!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved