Breaking News
Jumat, 10 April 2026

Jurnalisme Warga

Asyiknya Menikmati Keindahan Bukit Gundaling

BUKIT Gundaling merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi orang. Bukit ini terdapat di Kota Berastagi, lebih kurang 60 km dari Kota Medan

Editor: bakri
FOR SERAMBINEWS.COM
PUTRI MULYANI, Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, melaporkan dari Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara 

OLEH PUTRI MULYANI, Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, melaporkan dari Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara

BUKIT Gundaling merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi orang. Bukit ini terdapat di Kota Berastagi, lebih kurang 60 km dari Kota Medan, Sumatera Utara (Sumut). Lokasinya berada di Jalan Jamin Ginting, Gundaling I, Berastagi, Kabupaten Karo. Jarak dari Berastagi ke Bukit Gundaling kurang lebih 2 km.

Saya dan keluarga besar punya kesempatan untuk berlibur ke Berastagi. Selain karena ingin bersilaturahmi ke rumah Cecek (adik ibu) dan menghadiri acara kendurinya, juga ingin menikmati keindahan Bukit Gundaling yang ditumbuhi pepohonan dan aneka bunga.

Perjalanan menuju Kota Berastagi melintasi gunung tinggi, jalanannya berbelok-belok dan tanjakannya tajam. Saat memasuki kota ini udaranya terasa sejuk. Tepat di depan Tugu Perjuangan Kota Berastagi saya merasakan suasana yang berbeda. Terlihat sesosok lelaki yang tinggi. Dia adalah Pakde saya yang sudah berdiri menunggu kedatangan saya dan keluarga.

Angkot yang tadinya berada di tempat parkiran, kini sudah di depan kami yang siap siaga untuk mengantarkan saya dan keluarga ke tempat tujuan. Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh, saya dan keluarga istirahat sejenak. Cecek di dapur dengan sibuknya menyiapkan makanan untuk kami bersantap siang. Selesai makan siang, saya dan keluarga melepas rindu dengan Cecek yang sudah lama tak berjumpa.

Anak pertamanya yang seumuran dengan saya sudah berkerja di Indomaret. Ketika berjumpa dengan saya, dia tak menyangka saya sudah sebesar ini. Soalnya, terakhir kami bertemu  sepuluh tahun lalu. Dulu kami masih duduk di bangku SD, sekarang sudah bekerja.

Waktu terus berjalan, tak terasa sudah satu jam saya dan keluarga bercengkerama dan melepaskan rindu. Akhirnya saya minta sepupu saya untuk mengantarkan saya sekeluarga melihat indahnya pemandangan Bukit Gundaling. Jarak dari rumah Cecek ke Bukit Gundaling tak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi kami pilih untuk naik angkot.

Angkot yang dipenuhi keluarga besar saya tiba-tiba berhenti di perbatasan Bukit Gundaling. Para pemuda di sini ternyata meminta uang pada wisatawan dari luar daerah. Sepupu saya dengan cepat turun dan menjelaskan kepada mereka bahwa kami orang di sini dan rumah kami di belakang gereja. Mendengar penjelasan sepupu saya, pemuda itu langsung memberi jalan untuk kami lewat.

Pada saat kami menaiki Bukit Gundaling, kami lihat indahnya pemandangan. Dari atas bukit ini kami bisa melihat panorama Kota Berastagi secara keseluruhan. Gunung Sibayak dan Sinabung terlihat jelas. Bukit ini ditumbuhi beragam jenis pepohonan yang memberikan sensasi sejuk dan rindang. Keindahan kawasan ini tidak hanya terletak pada pepohonan yang rindang semata, tetapi juga pada ragam tumbuhan bunga yang indah dan lahan sawah nan hijau.

Di Bukit Gundaling juga tersedia fasilitas parkir, musala, rumah makan, toilet, toko cinderamata, penginapan, dan kafe-kafe. Tempat wisata ini juga dipenuhi berbagai macam spot untuk berfoto. Ada bebatuan dengan latar belakang Gunung Sinabung, sepeda ontel putih dengan latar belakang pemandangan Gunung Sinabung. Juga ada jendela dan pintu yang menjadi ikon untuk berswafoto, patung-patung yang menggunakan pakaian adat karo dan tempat yang berbentuk lingkaran hati.

Banyak masyarakat di sini mencari rezeki dengan berjualan oleh-oleh khas Berastagi, seperti baju, aksesoris, tas, selendang, suvenir dan masih banyak lagi. Pemuda di sini juga mencari rezeki menjadi fotografer. Lebih dari sepuluh fotografer di Bukit Gundaling ini.

Kota Berastagi juga dikenal dengan kuda. Masyarakat di sini banyak yang bekerja menjadi pawang kuda untuk membawa penumpang keliling Bukit Gundaling. Ada kuda tunggang, ada kuda sado. Saya dan keluarga menaiki kuda sado. Sekali naik kuda sado keliling Bukit Gundaling ongkosnya Rp 45.000. Naik kuda tunggangan Rp 20.000.

Sejak dari rumah, semua kami berniat untuk membeli kain khas Berastagi. Setelah menaiki kuda, saya dan keluarga mampir di sebuah toko souvenir. Masing-masing kami membeli selembar kain khas Berastagi. Kami juga membeli buah tangan untuk sanak saudara.

Berlibur ke Bukit Gundaling sangatlah asyik dan menyenangkan. Udara yang sejuk dan pemandangan yang begitu indah tidak membuat kami bosan untuk terus berada di sini. Seakan-akan ingin tinggal di sini untuk selamanya, tak ingin pulang lagi. Setelah berbelanja, sebagian di antara kami ada yang berfoto-foto, ada juga yang mencari makanan karena sudah lapar.

Di kawasan Bukit Gundaling ada juga orang berjualan buah strawberry lokal. Saya dan keluarga membelinya. Di sini juga dijual cokelat berisi selai strawberry.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved