Minggu, 7 Juni 2026

Opini

Makna Kurban di Tengah Virus Corona

Ibadah haji adalah ibadah yang sarat dengan makna. Ia dipenuhi dengan simbol simbol ritual yang mengingatkan kita

Tayang:
Editor: hasyim
FOR SERAMBINEWS.COM
H.Akhyar Mohd.Ali, S.Ag M.Ag, PPIH Arab Saudi 2006, TPHI 2010, TPHI 2016, Penghulu Madya KUA Kec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar 

Oleh H.Akhyar Mohd.Ali, S.Ag M.Ag

Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA),  Sekretaris Al Jam’iyatul Washliyah Aceh

Ibadah haji adalah ibadah yang sarat dengan makna. Ia dipenuhi dengan simbol simbol ritual yang mengingatkan kita pada peristiwa – peristiwa tertentu yang dialami oleh Nabi Ibrahim, istrinya Hajar, dan anaknya Ismail, juga pertemuan antara Adam dan Hawa di Jabal Rahmah , Padang Arafah. Sebuah ibadah yang penuh dengan pengabdian, penyerahan, kepasrahan, dan ketaatan diri kepada Allah SWT.

Dari sekian simbolisasi ritual ibadah haji, kurban adalah simbolisasi klimaks dari rangkaian ujian berat yang dialami oleh Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya Ismail, hingga akhirnya Allah menggantinya dengan seekor hewan sembelihan. Dinamakan kurban karena momentum ‘penyembelihan’ oleh Nabi Ibrahim merupakan simbol untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, dengan cara menyerahkan segala yang kita miliki dan kita cintai.

Teologi kurban

Setidaknya, ada tiga peristiwa yang melandasi syariat kurban bagi kita, yaitu peristiwa yang dialami Nabi Adam, kurban dilaksanakan oleh kedua putranya, yaitu Qabil dan Habil. Dimana kekayaan yang dimiliki oleh Qabil mewakili kelompok petani, sedang Habil mewakili kelompok peternak.

Sejak itu sudah ada perintah, siapa yang memiliki harta banyak maka sebagian hartanya dikeluarkan oleh peternak. Habil mengeluarkan Pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Sekretaris Al Jam’iyatul Washliyah Aceh hewan-hewannya untuk kurban.

Selanjutnya, harta yang dikurbankan itu disimpan di suatu tempat, yaitu Padang Arafah, yang sekarang menjadi tapak tilas bagi jamaah haji.Tetapi kurban yang dilakukan, baik oleh Qabil atau Habil, ternyata memiliki sifat yang berbeda. Akhirnya, kurban Habil diterima oleh Allah SWT, karena dia mengeluarkan sebagian hartanya yang bagus dan ikhlas, sementara itu, Qabil mengeluarkan sebagian hartanya yang jelek dan terpaksa sehingga ditolak oleh Allah SWT. [QS Al-Maidah].

Di zaman Nabi Ibrahim, kurban lebih merupakan pengorbanan dan perjuangan hidup yang dialaminya bersama istrinya, Siti Hajar, dan putranya, Ismail. Saat itu, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan Siti Hajar dan putranya yang baru lahir, untuk menemui istri pertamanya yaitu Siti Sarah, yang berada di Yerussalem.

Ketika itu Siti Hajar kehabisan makanan serta air, dan harus terus berjuang keras untuk mempertahankan hidup diri dan anaknya. Ia naik ke bukit Marwah serta kembali ke Safa sampai berulang tujuh kali. Peristiwa ini oleh Alquran diabadikan sebagai ritual ibadah haji yaitu Sa’i. Puncaknya Allah SWT memberi ujian kepada Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail.[ Qs Al-Shaffat; 102].

Karena ketabahan dan keikhlasannya, Nabi Ibrahim akhirnya bias melewati ujian berat tersebut sehingga Allah menggantikannya dengan seekor hewan sembelihan. Pengorbanan, ketabahan, dan kesabaran mereka kemudian diabadikan oleh Allah SWT dalam firmannya [QS Al Shaffat; 103-107].

Sedangkan di zaman Nabi Muhammad SAW, kurban merupakan tapak tilas dari dua sejarah kurban di atas yang diabadikan dalam Alquran dan disyariatkan kepada kita. Dalam hal ini, kurban di zaman Nabi Muhammad SAW hingga kini merupakan ibadah vertikal dan sosial, dengan cara mengorbankan sebagian harta lewat sembelihan hewan untuk mendekatkan diri kepada Allah [QS Al-Maidah ; 27] dan untuk mendapatkan ridha serta mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT. [QS Al- kautsar ; 1-3].

Spirit kurban

Ibadah kurban merupakan syariat yang sarat dengan nilai dan makna. Sebab, selain ibadah ini berorientasi menggembirakan fakir miskin dengan membagi bagikan daging kurban, juga menunjukkan adanya bukti keimanan, kepasrahan, dan kebaikan si pribadi yang melaksanakannya kepada sesama.

Kurban juga merupakan simbolisasi klimaks dari rangkaian ujian berat yang dialami oleh Nabi Ibrahim untuk menyembelih Ismail, karena melibatkan fisik, emosi, akal, dan keyakinan. Tapi, inilah ujian sebenarnya, yang disebut jihad akbar, yaitu jihad melawan kemauan dan egoisme diri, yang justru seringkali menguasai manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved