Opini
Makna Kurban di Tengah Virus Corona
Ibadah haji adalah ibadah yang sarat dengan makna. Ia dipenuhi dengan simbol simbol ritual yang mengingatkan kita
Ketika egoisme diri dan kelompok menguasai manusia , ketika itulah manusia melupakan Tuhan dan mengabaikan ajaran-Nya.
Dari sinilah pengorbanan Nabi Ibrahim perlu diteladani oleh kita untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, sekaligus memperkokoh dan memupuk masyarakat, sekaligus memperkokoh dan memupuk kesetiaan sosial dalam membangun bangsa.
Dalam hal ini, ibadah kurban adalah momen yang sangat penting bagi umat Islam, yang tidak sekadar untuk mendekatkan diri kepada Allah [taqarrub ila Allah], tapi juga untuk merekatkan tali social antara manusia [taqarrub ila an nas], melalui medium kurban.
Kurban di tengah Corona
Tampaknya, tidak berbeda dengan tahun lalu, ibadah kurban tahun ini masih digelar dalam suasana keprihatinan nasional, lantaran pandemi Covid-19 belum terlihat tanda-tanda berakhir. Bahkan, jumlah warga terinfeksi Covid-19 melonjak tajam hingga mencapai 2,3 juta jiwa serta telah merenggut lebih dari 63 ribu, sehingga tidak berlebihan andaikan 2021 disebut sebagai tahun berkabung nasional.
Pemerintah menetapkan keadaan darurat Covid-19 di sejumlah daerah Jawa dan Bali serta beberapa daerah lainnya dalam kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
Karena itulah, momentum Idul Adha kali ini perlu diorientasikan pada nilai-nilai sosiologis di tengah pandemi covid-19 yang berkepanjangan dan kondisi masyarakat yang sangat membutuhkan. Setidaknya ada tiga hal yang perlu direnungkan menghadapi musibah yang melanda negeri ini.
Pertama, kondisi ini dihadapi dengan sikap optimisme dan keyakinan bahwa Allah sang pengatur semua kehidupan. Artinya bahwa penderitaan yang kita alami dan perjuangan yang kita lakukan saat ini, harus berangkat dari hati yang suci dan yakin akan kemahahadiran Allah SWT dalam jiwa kita.
Inilah yang di simbolisasikan dengan penderitaan Siti Hajar bersama anaknya Ismail dengan bekal keyakinan kepada Allah seperti dipesankan oleh Ibrahim, Siti Hajar berjalan dari Shafa dan Marwa demi mengobati tangis dan dahaga Ismail yang amat sangat. Di sinilah manusia pada akhirnya akan memperoleh hasil sesuai dengan usaha.
Kedua, kesulitan-kesulitan hidup bukanlah alasan bagi kita untuk tidak mau berkorban bagi kemaslahatan atau kebaikan orang lain. Hal inilah yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan diri dan anaknya (Ismail) demi kecintaannya kepada Allah SWT.
Tentu saja, di saat sebagian masyarakat tertimpa bencana Covid-19 berusaha keluar dari penderitaan harus ada pihak-pihak yang ikhlas dan rela berkorban untuk membantu baik secara ekonomi maupun dari moril menjadi relawan agar dapat melayani pasien yang terjangkit virus dan sebagainya.
Ketiga, pentingnya persatuan dan kesatuan serta kebersamaan untuk mengatasi persoalan-persoalan masyarakat dan bangsa (pemerintah), pemerintah telah mengeluarkan kebijakan PPKM darurat berkorban demi rakyat mengeluarkan stimulus fiskal berupa bantuan sosial tunai dan akibat PPKM Darurat masyarakat mengorbankan kenyamanan dan kesenangan di luar rumah, kesadaran mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan kesediaan mengikuti vaksin merupakan wujud berbagi beban dengan negara dan sesama warga negara.
Karena itu dalam kondisi seperti ini, segenap bangsa harus meminimalisasi sikap dan perilaku yang egois, apatis, kontraproduktif, dan cenderung memecah belah menuju semangat persatuan, kesatuan dan tanggung jawab.
Inilah kurban yang sebenarnya bagi bangsa ini. Kurban tidak dimaknai hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga untuk merekatkan tali sosial di antara manusia.
Selamat Idul Adha 1442 H. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/hakhyar-mohdali-sag-mag-ppih-arab-saudi-2006.jpg)