Jurnalisme Warga
Menikmati Keindahan Sunset di Pantai Lampuuk
Pemandangannya yang indah dengan pasir putihnya yang halus terhampar luas menjadi daya tarik utama pantai ini
OLEH ULFAH WILDANI, Mahasiswi Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Aceh Besar
Sejak dahulu, keindahan Pantai Lampuuk di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, memang sudah cukup terkenal. Pemandangannya yang indah dengan pasir putihnya yang halus terhampar luas menjadi daya tarik utama pantai ini.
Pantai Lampuuk juga terkenal dengan ombaknya yang bagus, tidak terlalu besar dan cocok bagi para peselancar pemula.
Kala sore menjelang malam di Pantai Lampuuk, tersuguh pula keindahan yang menakjubkan, apalagi kalau bukan matahari tenggelam (sunset) di ufuk barat.
Warna langit yang berwarna kemerahan, berpadu dengan hamparan pasir putih, serta gelombang laut yang tak begitu liar, menyajikan lukisan alam yang begitu memesona. Meski Pantai Lampuuk sudah sangat ‘mainstream’ untuk dikunjungi, tapi tetap saja panorama sunsetnya menjadi favorit para pengunjung.
Ketika petang menjelang, pengunjung pun bergegas ke pinggir pantai, menanti sang surya turun ke peraduannya. Tidak sedikit pula wisatawan dari mancanegara yang datang ke Lampuuk demi mengejar sensasi sunsetnya. Pemandangan matahari saat terbenam mampu memikat mata siapa pun yang melihatnya.
Saya bersama sahabat sepakat melihat sunset di Lampuuk. Di Aceh, siapa yang tak kenal pantai yang satu ini? Letaknya di kawasan pantai barat Aceh. Tepatnya di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar. Lebih kurang 18 km dari Banda Aceh ke pantai ini.
Akses ke Pantai Lampuuk sangatlah mudah, karena jalannya beraspal mulus. Mudah dilalui kendaraan, baik sepeda motor, mobil, dan maupun kendaraan umum. Hampir setiap Minggu sore saya bersama sahabat mengujungi Pantai Lampuuk demi menikmati sunset yang sangat memukau.
Biaya masuk ke Pantai Lampuuk tergolong murah. Pengunjung yang membawa kendaraan hanya dikenai biaya Rp3.000 per orang. Pada hari Minggu, area parkir kendaraan di pantai ini terasa kurang, karena pengunjung sangat ramai.
Seperti biasanya, pada Minggu lalu, meskipun dalam suasana pandemi Covid-19, tempat parkir penuh, sehingga kami harus memarkirkan kendaraan di tempat yang agak jauh dari lokasi tempat kami duduk. Saya dan sahabat–sebagaimana pengunjung lain–biasanya mencari tempat duduk yang bisa dengan leluasa menikmati sunset. Dan, kami menemukan tempatnya, yaitu di sebuah kafe.
Di saat saya duduk sambil menikmati mi instan kuah dan air kelapa, saya melihat keluarga bahagia bersama anaknya. Di pantai yang terkenal dengan pasir putihnya yang bersih dan lembut ini, ombak lautnya tak terlalu besar. Jadi wajar, banyak anak yang berani mandi di laut yang jernih dan berwarna biru kehijauan ini.
Pada musim barat, ombaknya kelihatan cukup besar, tapi tetap bersahabat bagi para peselancar. Banyak turis asing yang menginap di homestay kawasan Lampuuk, supaya leluasa berselancar dan tentu saja menikmati sinar mentari dan saat ia tenggelam.
Lokasi ini memiliki garis pantai sekitar 5 km dan membentuk sebuah teluk kecil. Sedari kecil saya sangat suka ke pantai, meski sebenarnya saya lebih menyukai hutan. Namun, karena Pantai Lampuuk ini berdekatan dengan hutan sejauh mata memandang, pantai ini pun menjadi tempat favorit saya.
Di pantai ini para pengunjung bisa menyaksikan deretan pegunungan nan hijau serta pepohonan pinus yang rimbun. Benar-benar sejuk dan adem rasanya. Sangat ‘recomended’ bagi mereka yang memerlukan suasana rileks setelah seminggu sibuk dengan aktivitas kantor, sekolah, dan kuliah. Kalaupun pengunjung datang ke pantai ini pada siang hari, teriknya tidaklah terlalu menyengat kulit. Banyak pohon pelindung di sini, anginnya bertiup nyaman, dan pondok-pondok yang tersedia pun hampir semua beratap rumbia. Jadi, suasananya benar-benar sejuk dan adem.
“Waw, masyaallah,” gumamku saat menikmati pemandangan yang begitu indah di sekitar Pantai Lampuuk. Tak salah bila warga sekitar dan wisatawan menjuluki pantai ini dengan ‘Kuta’nya Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ulfah-wildani-mahasiswi-prodi-komu.jpg)