Breaking News:

Salam

Memetik Iktibar dari Kasus Herlin Kenza

Harian Serambi edisi Ahad (25/7/2021) kemarin menempatkan berita hiburan berbalut unsur pidana sebagai headline-nya

Editor: hasyim
SERAMBI/ZAKI MUBARAK
Herlin Kenza Diperiksa di Polres Lhokseumawe 

Harian Serambi edisi Ahad (25/7/2021) kemarin menempatkan berita hiburan berbalut unsur pidana sebagai headline-nya. Berita tersebut adalah tentang Herlin Kenza, selebgram asal Aceh Tengah yang, mungkin tanpa sadar, telah melakukan pelanggaran protokol kesehatan (prokes). Khususnya tentang larangan berkerumun di masa pandemi Covid-19, hal yang terlarang dipandang dari aspek Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Dalam pemberitaan itu disebutkan bahwa pada Sabtu (24/7/2021) siang Herlin resmi diumumkan sebagai tersangka oleh Polres Kota Lhokseumawe.

Herlin Kenza dijadikan tersangka tindak pidana karena tidak mematuhi penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan dalam sebuah acara yang diselenggarakan pemilik Toko Grosir Wulan Kokula (WK) di Pasar Inpres, Kota Lhokseumawe, Jumat (16/7/2021) pekan lalu.

Selain Herlin, polisi juga menetapkan pemilik toko grosir tersebut, yakni KS (29), sebagai tersangka. Keduanya terancam hukuman maksimal satu tahun penjara. Kolaborasi antara pihak pengundang/penyelenggara kegiatan dengan pihak yang diundang (Herlin Kenza) telah menyebabkan konsentrasi massa di seputar toko grosir yang baru diresmikan itu.

Konsentrasi massa yang tentu saja tak mengindahkan ketentuan jaga jarak itu, memenuhi syarat sebagai perbuatan melawan hukum. Karena itu pula pihak pengundang dan yang diundang ditetapkan polisi sebagai tersangka.

Nah, peristiwa ini sedianya menjadi iktibar bagi banyak orang, terutama pengusaha, selebgram, YouTuber, maupun public figur lainnya. Dalam kasus ini pihak pengundang mestinya bisa memprediksi bahwa gara-gara tindakannya akan menyebabkan banyak orang datang dan berkerumun di toko grosirnya. Itu karena, dia mengundang selebgram ternama di Aceh yang dijuluki "Barbie Aceh" dan menyediakan "gift away" kepada para pengunjung. Dua daya tarik itu terbukti berhasil mendatangkan ratusan pengunjung, terutama para wanita follower Herlin Kenza. Sehingga, terjadilah konsentrasi massa.

Di sisi lain, Herlin Kenza sendiri mestinya sadar bahwa kehadirannya ke acara peresmian toko grosir tersebut adalah magnet bagi banyak orang, terutama bagi followernya.Tak heran bila pada kenyataannya jumlah pengunjung yang datang membeludak. Otomatis terjadi kerumunan massa yang tak lagi mengindahkan keharusan jaga jarak. Apalagi banyak pengunjung yang berebutan mendekat ke arah Herlin untuk bisa foto bareng. Adegan ini menyempurnakan pelanggaran prokes sekaligus Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan.

Undang-undang ini sudah berumur tiga tahun, tapi terkesan belum begitu terkenal di Indonesia. Namun, berkat adanya pandemi global bernama Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), undang-undang ini pun mendadak populer. Terlebih karena, tokoh sentral eks Forum Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, dijerat dan dinyatakan bersalah karena melanggar undang-undang ini.

Analog dengan itu, kalau Habib Rizieq bisa dipidana karena menyebabkan kerumunan massa di masa pandemi Covid-19, otomatis Herlin Kenza dan pengusaha yang mengundangnya, lalu terjadi konsentrasi massa, juga bisa dihukum menggunakan dasar hukum yang sama. Polisi tak berlebihan dalam kasus ini. Tugas mereka adalah menegakkan hukum. Yang salah adalah mereka yang baik karena kesengajaan maupun kelalaiannya, telah menyebabkan dilanggarnya ketentuan pidana tentang kekarantinaan kesehatan. Semoga kasus di Lhokseumawe ini menjadi pelajaran berharga bagi semua orang yang menganggap remeh pentingnya penghargaan terhadap protokol kesehatan di masa pandemi demi kemaslahatan bersama. Dan hukum harus tegak kepada siapa pun, tanpa pandang bulu.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved