Sabtu, 9 Mei 2026

Internasional

Perdana Menteri Lebanon Siap Bentuk Pemerintahan Baru, Presiden Beri Sinyal Persetujuan

Perdana Menteri Lebanon yang ditunjuk Najib Mikati, Rabu (28/7/2021) mengatakan akan membentuk pemerintahan baru segera.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AP/Dalati Nohra/Pemerintah Lebanon
Presiden Lebanon Michel Aoun (kiri) bertemu dengan mantan Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati di istana presiden Baabda, timur Beirut, Lebanon, Senin (26/7/2021). 

SERAMBINEWS.COM, BEIRUT - Perdana Menteri Lebanon yang ditunjuk Najib Mikati, Rabu (28/7/2021) mengatakan akan membentuk pemerintahan baru segera.

Dia mengaku telah mendapatkan persetujuan dari Presiden Michel Aoun untuk sebagian besar calonnya.

Mikati, seorang pengusaha, adalah calon perdana menteri ketiga yang dicalonkan sejak pemerintahan Hassan Diab mengundurkan diri.

Setelah ledakan Pelabuhan Beirut 4 Agustus 2020 yang menewaskan lebih dari 200 orang dan meratakan sebagian besar wilayah kota.

Dilansir ArabNews, dia berbicara kepada wartawan setelah bertemu Aoun.

Pemerintah Diab tetap dalam kapasitas sementara, tetapi mata uang Lebanon telah runtuh.

Baca juga: Miliarder Lebanon, Mantan PM Ditunjuk Lagi Jadi Perdana Menteri, Didukung Prancis dan AS

Lowongan pekerjaan telah lenyap dan bank-bank telah membekukan rekening.

Sebagai krisis terburuk negara itu sejak perang saudara 1975-90.

"Saya memberikan proposal saya, Presiden Aoun menyetujui sebagian besar dari mereka dan dia membuat beberapa pernyataan yang dapat diterima;" jelasnya.

"Insya Allah ... kami akan segera dapat membentuk pemerintahan," kata Mikati.

Mikati telah menjadi perdana menteri dua kali sebelumnya.

Tidak seperti banyak pemimpin Lebanon, konglomerat satu itu tidak mewakili blok politik atau berasal dari sebuah dinasti.

Baca juga: Lebanon Makin Terperosok Dalam Jurang, Negara Dalam Bahaya Besar, Seusa PM Saad Hariri Mundur

Seperti calon sebelumnya, Saad Al-Hariri, ia harus menavigasi sektarian, struktur pembagian kekuasaan dan kesepakatan yang aman pada kabinet.

Hal itu untuk mengatasi krisis keuangan di Lebanon, salah satu negara yang paling banyak berhutang di dunia.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved