Luar Negeri
Berhasil Kembangkan Vaksin Covid-19, BioNTech Mulai Buat Vaksin Malaria
BioNTech pada Senin (26/7/2021) mengatakan akan memulai uji coba vaksin malaria tahun 2022 menggunakan teknologi mRNA.
Penulis: Syamsul Azman | Editor: Safriadi Syahbuddin
SERAMBINEWS.COM - Setelah berhasil kembangkan vaksin Covid-19, BioNTech mulai menggarap vaksin malaria.
Produsen vaksin berasal dari Jerman ini berhasil mengembangkan vaksin Covid-19 dengan perusahaan farmasi raksasa Amerika Serikat Pfizer dalam waktu singkat.
BioNTech pada Senin (26/7/2021) mengatakan akan memulai uji coba vaksin malaria tahun 2022 menggunakan teknologi mRNA terobosan yang sama seperti vaksin Covid-19.
Melansir dari Manila Bulletin, jika berhasil, vaksin tersebut bisa menjadi langkah penting dalam memerangi penyakit ditularkan nyamuk.
Malaria telah menyebabkan kematian lebih dari 400.000 orang per tahun – terutama anak-anak di Afrika.
“Kami akan melakukan apapun untuk mengembangkan vaksin malaria berbasis mRNA yang aman dan efektif yang akan mencegah penyakit, mengurangi kematian dan memastikan solusi berkelanjutan untuk benua Afrika dan wilayah lain yang terkena penyakit ini,” kata CEO BioNTech Ugur Sahin.
Baca juga: Sektor Jasa Keuangan Target 5.000 Dosis Vaksin
Perusahaan mengatakan akan menilai beberapa kandidat vaksin dan memulai uji klinis pada akhir 2022.
Proyek ini didukung oleh Organisasi Kesehatan Dunia, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika dan Uni Eropa.
BioNTech mengatakan juga sedang mempertimbangkan untuk mendirikan pusat mRNA di Afrika sehingga vaksin masa depan dapat diproduksi dan didistribusikan di benua itu.
Vaksin malaria yang direncanakan akan menggunakan metode messenger RNA yang sama yang memulai debutnya dengan vaksin coronavirus Pfizer/BioNTech, yang merupakan jab pertama terhadap COVID yang disetujui pada akhir 2020.
Jab coronavirus yang dikembangkan oleh saingannya di AS yakni Moderna juga menggunakan teknologi mRNA.
Para ilmuwan percaya bahwa vaksin mRNA, yang memicu respons imun dengan mengirimkan molekul genetik yang mengandung kode untuk bagian-bagian penting dari patogen ke dalam sel manusia, bisa menjadi pengubah permainan melawan banyak penyakit.
Baca juga: Ini Hasil Riset Terbaru Tentang Antibodi Vaksin Covid-19 Sinovac di Laboratorium China
Mereka juga membutuhkan waktu lebih sedikit untuk dikembangkan daripada vaksin tradisional.
Bidikan COVID-19 BioNTech dikembangkan dan disetujui oleh regulator dalam waktu kurang dari setahun.
Tujuan Realistis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/vaksin-pfizer-biontech-covid-19_.jpg)