Berita Simeulue
Budidaya Kepiting Bakau Binaan Baitul Mal Aceh di Simeulue Mulai Dipanen
Usaha budidaya penggemukan kepiting bakau oleh BMG Layabaung di Simeulue itu mulai panen sejak Juni 2021
Penulis: Sari Muliyasno | Editor: Muhammad Hadi
Laporan Sari Muliyasno I Simeulue
SERAMBINEWS.COM, SINABANG - Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh (BMA), Rahmad Raden bersama para amil melakukan monitoring dan evaluasi (monev) Baitul Mal Gampong (BMG) Layabaung, Kecamatan Simeulue Barat, dengan meninjau langsung ke keramba penangkaran kepiting bakau binaan BMA.
Usaha budidaya penggemukan kepiting bakau oleh BMG Layabaung itu mulai panen sejak Juni 2021.
Usaha tersebut merupakan program Gampong Zakat Produktif tahun 2020 dengan total bantuan dari BMA sebesar Rp 90 juta yang disalurkan melalui Baitul Mal Gampong (BMG) Layabaung.
“Dari panen perdana tersebut memperoleh hasil sebanyak 100 kilogram dengan ukuran kepiting per ekor berkisar antara 800 gram hingga 1000 gram.
Baca juga: Kapolres Simeulue Launching Perpustakaan Keliling Polisi Sahabat Anak
Kepiting bakau tersebut memiliki harga jual mencapai Rp120 ribu per kilo.
Dari total penjualan itu BMG Layabaung memperoleh laba kotor sebesar Rp 12 juta,” kata Rahmad Raden, dalam rilisnya yang diterima Serambinews.com, Minggu (1/8/2021).
Rahmad Raden menambahkan, dalam sekali masa penangkaran bisa dipanen 2 sampai 3 kali sesuai target ukuran berat yang dinginkan oleh konsumen.
"Sedangkan masa tunggu panen perdana 3 bulan sejak bibit dimasukan ke keramba yang ukurannya rata-rata segenggam tangan dewasa," ujarnya.
Melalui usaha penangkaran kepiting bakau itu, pihaknya berharap supaya benar-benar dapat dikelola dengan amanah. Selain itu dapat juga ditingkatkan kualitasnya.
"Hal tersebut karena yang sedang dikelola itu merupakan dana zakat yang memiliki tujuan akhir pemberdayaan ekonomi mustahik,” jelas Rahmad Raden.
Baca juga: Stok Alat Uji Swab Sudah Lama Kosong di RSU Cut Meutia Aceh Utara
Selanjutnya Ketua BMG Layabaung, Rizky Nofriandi, juga menyampaikan usaha penggemukan kepiting bakau memiliki prospek yang sangat bagus.
Di mana permintaan kepiting sebagai salah satu menu seafood khas Simeulue ini sangat tinggi, sehingga kapan pun dipanen akan sangat mudah menjualnya.
“Dari hasil panen tersebut BMG Layabaung sudah dapat menyalurkan 50% dari keuntungan kepada 4 mustahik pelaku usaha mikro di gampong tersebut dalam bentuk modal usaha.
Sedangkan 50% sisanya dipergunakan kembali untuk modal penggemukan kepiting bakau lainnya,” kata Rizky Nofriandi.
Ia menambahkan untuk meningkatkan jumlah produksi dan keuntungan masih diperlukan penambahan modal untuk memperbaiki dan menambah kualitas keramba.
Baca juga: Semua Dokumen KUA Simpang Kiri Terbakar, Termasuk Akta Nikah Kosong dan Milik Pasangan Menikah
Selain itu juga untuk menambah jumlah bibit kepiting yang di datangkan dari luar Simeulue.
"Kami berharap sekali BMA dapat memberikan modal tambahan, sehingga dengan jumlah keuntungan yang lebih besar kami bisa membantu usaha kecil lainnya yang ada di Layabaung" pinta Rizky Nofriandi.
Seperti diketahui Gampong Zakat Produktif (GZP) merupakan salah satu program unggulan BMA untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal masyarakat gampong setempat.
Dengan mengusung konsep "one village one product" BMA berharap gampong melalui BMG dapat menciptakan kemandirian dan produktivitas mustahik melalui produk unggulan gampongnya itu.(*)
Baca juga: Putra Danramil di Nagan Raya Lulus Akademi Militer Hanya Sekali Seleksi, Begini Cerita Sang Ayah