Breaking News:

Opini

Membuka Jendela Dunia dengan Bahasa, Membaca, dan Menulis

Bahasa dunia yang saya maksud di sini adalah dua bahasa tersohor internasional, yakni bahasa Arab dan Inggris

Editor: hasyim
Membuka Jendela Dunia dengan Bahasa, Membaca, dan Menulis
FOTO IST
GUFRAN AZIZI, Siswa Kelas XII Madrasah Aliah Dayah Ummul Ayman dan Anggota Komunitas British Pena, melaporkan dari Samalanga, Kabupaten Bireuen

Oleh. GUFRAN AZIZI, Siswa Kelas XII Madrasah Aliah Dayah Ummul Ayman dan Anggota Komunitas British Pena, melaporkan dari Samalanga, Kabupaten Bireuen

Bahasa dunia yang saya maksud di sini adalah dua bahasa tersohor internasional, yakni bahasa Arab dan Inggris. Tak dapat dimungkiri, bahasa dunia ini kita dapatkan di mana-mana. Tentu saja orang yang dapat menguasainya akan mampu menguasai dunia.

Bahasa itu bagaikan kunci untuk membuka pintu keajaiban. Dengan kunci itu kita dapat membuka sesuatu apa yang kita inginkan, karena memang pembentukan kata kunci tersebut dalam bahasa Arab berasal dari kata ‘fataha-yaftahu- fathan’ yang artinya‘membuka’. Di sisi lain, sebagai orang yang sedang belajar di pondok pesantren, prioritas kami adalah membaca, menulis, menghafal, dan mengulang. Semua itu juga membutuhkan kunci. Keharusan fokus, keep time, dan menguasai bahasa adalah salah satu kunci jawaban bagi kami dalam memahami ilmu pengetahuan. Apalagi ketika membaca kitab-kitab turats, bahasa Arab adalah kunci utama untuk membuka seluruh rahasia yang terdapat di dalamnya.

Saat ini saya termasuk salah seorang santri di Dayah Ummul Ayman, Samalanga. Dayah ini di bawah pimpinan Tgk H Nuruzzahri yang akrab disapa Waled Nu. Di dayah ini, kami tidak hanya diajarkan kitab kuning, tetapi juga ditunjang dengan bahasa. Bahkan, bahasa di dayah anak yatim ini merupakan program unggulan setiap santri. Di pesantren ini, semangat kami dalam berkomunikasi sesama santri menggunakan bahasa dunia tak luput dari sosok penyemangat yang luar biasa, yaitu Waled. Waled tidak hanya menyuruh kami untuk berbahasa Arab atau Inggris, tapi beliau juga mempraktikkannya sendiri. Waled tidak pernah berbicara dengan kami menggunakan bahasa Aceh atau bahasa Indonesia, melainkan beliau selalu berusaha menghidupkan cita rasa dalam berbahasa Arab. Petuah- petuah Waled juga membuat kami sangat menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa dunia.

“Siapa saja yang mengetahui bahasa suatu kaum, niscaya ia selamat dari kejahatan kaum tersebut.” Itulah kalimat yang selalu Waled ulang ketika memotivasi kami untuk berbahasa.

Bahkan ketika ada santri yang bersalaman dengan Waled, pimpinan kami ini langsung meresponsnya dengan menanyakan nama dan kabarnya dalam bahasa Arab. Secara spontan, si santri pun menjawabnya juga dengan bahasa Arab. Seketika itu senyuman indah tersungging di bibir Waled karena mendengar jawaban santrinya itu. Begitulah sosok Waled, salah seorang ulama sepuh yang komunikatif dengan anak-anak kecil.

British Center

Di Ummul Ayman, di samping mempelajari kitab turats (kitab kuning), saya juga ikut serta dalam mengembangkan lifeskill. Lifeskill tersebut dalam bentuk mengikuti English learning yang diasuh oleh salah seorang guru. Saya sebut saja namanya Ustaz Muhajir Elliot. Kursus ini bernama British Center. Aksen yang kami gunakan lebih menjurus ke aksen British, Inggris. Nama ‘Elliot’ di akhir namanya ada kaitannya dengan kemajuan bahasa Inggris. Nama itu terinspirasi dari nama seorang tokoh utama sebuah film berbahasa Inggris. Film tersebut menceritakan bagaimana seorang pemuda yang bernama Elliot melawan ragam kejahatan dan berusaha mengubah orang-orang jahat untuk turut berbuat baik. Ajibnya, ia tidak melawan dengan senjata, tetapi dengan pemikiran yang cerdas, sehingga banyak penjahat dalam film tersebut kembali berbuat baik. Kini saya memasuki tahun keenam di Ummul Ayman. Tantangan demi tantangan telah saya lewati.

Saya tertarik untuk mengenal dan mempelajari bahasa asing lebih dalam. Hari demi hari yang saya lewati bahkan muncul kecemburuan terhadap santri-santri yang mampu berbicara dalam bahasa asing. Mengembangkan bahasa melalui British Center, pembelajarannya simpel dan sangat praktis. Tipe pembelajaran yang saya pelajari adalah dengan langsung mempraktikkan kosakata, di mana pun saya berada: di kamar, kantin, lapangan, bahkan di kamar mandi umum.

Semangat saya dalam mempraktikkannya juga termotivasi dengan ungkapan, “Learning a little, practice a lot” (Belajar sedikit, praktik yang banyak).

Di pagi hari, tepat pukul 07.30 WIB, saya langsung menuju pinggir sungai yang letaknya di belakang Dayah Ummul Ayman. Di tempat tersebut saya habiskan waktu sebanyak 30 menit untuk mempraktikkan kosakata yang sudah saya hafal. Suasana alam yang begitu segar ditemani pepohonan cokelat, air yang mengalir di aliran Sungai Batee Iliek membuat ‘destinasi bahasa’ saya semakin asyik. Hari demi hari, waktu demi waktu, saya mulai tergila-gila mempraktikkan bahasa Inggris, khususnya di tempat tersebut. Setiap benda yang ada di depan saya, jika saya tak tahu mengatakannya dalam bahasa Inggris, langsung saya cari kosakatanya di kamus serta mempraktikkannya. Itulah yang saya lakukan setiap hari. Bahkan terkadang saya lupa sarapan karena mengorbankan waktu untuk bisa mempraktikkan kosakata tersebut. Semangat saya dalam berbahasa juga masih membara hingga hari ini.

British Pena Setelah merasakan hasil dari kerja keras dan semangat mengembangkan bahasa Inggris di Ummul Ayman, saya bersama beberapa teman diajak juga oleh Ustaz Muhajir Elliot untuk mengikuti kelas menulis. Keinginan saya dalam menulis juga terdorong oleh tekad saya untuk mengikuti jejak ulama- ulama terdahulu yang sangat produktif menulis. Kelas ini diasuh oleh guru kami, Ustaz Aidil Ridhwan. Komunitas ini telah berdiri sejak 9 Februari 2021, bertepatan dengan Hari Pers Nasional. Majelis kami ini sepakat kami beri nama ‘British Pena’ karena anggotanya memang semuanya berasal dari grup British Center.

Awal berdirinya komunitas ini, kami tidak dikasih materi khusus. Mentor menyuruh kami hanya menulis, menulis, dan menulis. Menurutnya, penulis pemula harus banyak menulis, bukan memperbanyak teori. Jika pun tidak ada objek yang ditulis, setidaknya kami mencurhatkan saja kegiatan sehari-hari kami di buku catatan harian. Itulah langkah awal saya mengenal dunia kepenulisan.

Pengorbanan demi pengorbanan yang saya rasakan, baik dalam berbahasa Inggris maupun menulis, kini sudah saya rasakan hasilnya. Saat ini saya menyimpulkan bahwa dunia membutuhkan santri- santri yang mampu menguasai bahasa dunia guna mensyiarkan agama Islam yang rahmatan lil alamin yang termaktub dalam kitab turats.

Alhamdulillah, saya saat ini juga aktif sebagai pensyarah kitab-kitab turats ke dalam bahasa Inggris yang bisa pembaca akses di YouTube YPI Ummul Ayman. Saya pun tidak malu-malu lagi berkomunikasi dengan warga asing. Seperti halnya pada bulan Ramadhan 1442 Hijriah kemarin, Ummul Ayman menerima warga asing yang ingin belajar agama. Mereka adalah Abu Ali (dari Tajikistan) dan Mr Muhammad (Senegal). Selama 25 hari mereka berada di Ummul Ayman, saya selalu menemani dan berinteraksi dengan mereka menggunakan bahasa Inggris, sesekali juga dengan bahasa Arab. Sungguh benar pepatah yang mengatakan bahwa proses tak akan mengkhianati hasil. Saya sudah merasakannya. Salam santri sejati!

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved