Opini
Memaknai Hijrah Secara Totalitas
Allah memuji kaum muslim yang berhijrah setelah menghadapi cobaan maha dahsyat, disiksa, dianiaya, namun mereka tetap tabah
Oleh. Dr. H. Agustin Hanafi, Lc.
Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry dan Anggota IKAT-Aceh
Allah memuji kaum muslim yang berhijrah setelah menghadapi cobaan maha dahsyat, disiksa, dianiaya, namun mereka tetap tabah dan sabar serta selalu yakin akan pertolongan Allah sebagaimana Alquran,
“Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. at-Taubah: 20).
Mereka benar-benar tulus berkorban karena Allah dengan mengorbankan segenap jiwa raganya, tak sedikit pun ada rasa keberatan walaupun nyawa menjadi taruhannya.
Makna hijrah
Kata hijrah berasal dari Bahasa Arab, yang berarti meninggalkan, dan berpindah tempat. Terkait dengan makna kebahasaan, hijrah ada dua bentuk yaitu Hijrah Makaniyah, yang artinya meinggalkan suatu tempat sebagaimana dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dari Mekah ke Madinah, dengan tujuan mempertahankan dan menegakkan risalah Allah. Kemudian, Hijrah Maknawiyah, yang artinya tujuan atau yang dituju. Meninggalkan segala hal yang buruk, negatif, maksiat, kondisi yang tidak kondisif, menju keadaan yang lebih baik.
Mungkin dewasa ini kebutuhan akan Hijrah Makaniyah tidak seperti pada zaman Rasulullah, tetapi bagaimana kita memaknai nilai-nilai hijrah serta mengaplikasikannya dalam setiap asfek kehidupan kita secara totalitas yang disebut dengan Hijrah Maknawiyah. Karena sebagian generasi milenial dewasa ini memahami dan mempraktekkannya hanya pada aspek tertentu saja yaitu lebih pada perubahan sikap, gaya hidup dan tata cara berpakaian yang sesuai syariat Islam.
Jadi, dulunya memakai jeans dan pakaian ketat, kini berubah menjadi lebih syar’i, dengan kerudung panjang dan lebar menutupi dada dan baju yang longgar, bahkan bercadar. Atau yang sedang memulai hijrahnya adalah terhapusnya foto-foto selfie yang menampakkan wajah ayu mereka. Jikalau ingin mengunggah foto selfie, mereka akan menutupi wajah mereka dengan tangan atau meletakkan emoticon sedemikian rupa sehingga wajahnya tidak terekspos dengan sempurna. Hal ini dilakukan karena mereka meyakini pandangan bahwa wajah adalah aurat yang harus ditutupi, bukan diumbar dan menjadi konsumsi warganet. Kemudian, laki-laki cenderung memanjangkan jenggot dan memendekkan celananya di atas mata kaki.
Sebenarnya sah-sah saja, asal niatnya karena Allah, yaitu sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri sehingga berpengaruh terhadap perilaku dan ketaatan kepada Allah karena adanya kesadaran dalam diri, bukan dipengaruhi oleh kegagalan percintaan di masa lalu dan juga bukan karena tren belaka. Tetapi harus diingat bahwa yang namanya hijrah bukan hanya soal pakaian tetapi menyangkut berbagai aspek kehidupan, misalnya sebagai mahasiswa, selama ini mungkin lebih sering asyik dengan tombol handphone dan game yang tidak bermanfaat, namun kali ini lebih fokus dengan bacaan yang bermanfaat serta mentadabburi isi kandungan Alquran.
Sekali lagi, berhijrahlah secara totalitas, dengan memahami makna hijrah berarti semakin hari rasa keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah semakin meningkat, dan dalam menunaikan salat lima waktu, bukan hanya sekadar melepaskan kewajiban dan tanggung jawab, tetapi menjadikannya sebagai kebutuhan hidup dan sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah. Begitu juga halnya sebagai mahasiswa, ketika diterima di sebuah perguruan tinggi apakah motivasinya hanya sekadar ingin mendapatkan ijazah, gelar, atau agar bisa bekerja di instansi pemerintah kelak?
Kalau begitu harapannya berarti niat semenjak awal sudah keliru sehingga begitu mudah mengabaikan kejujuran akademik seperti memanipulasi tanda tangan, nilai ujian, plagiat, dan lain-lain. Seharusnya berfikir sebaliknya, bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban dalam agama sehingga serius dan tekun dalam belajar serta menghargai waktu dan hidup disiplin. Karena orang sukses selalu bekerja keras dan mempersiapkan diri untuk masa depannya karena menyadari betul bahwa yang namanya bahtera tidak akan pernah berlayar di daratan.
Begitu juga ketika memilih frofesi tertentu seperti “guru”, mengajar bukan hanya untuk sekadar lepas tanggung jawab seperti memenuhi persyaratan sertifikasi, tetapi tulus dan ikhlas karena Allah sembari meyakini bahwa ilmu yang bermanfaat dapat membantu di alam barzakh kelak, sehingga all out serta mengupgrade diri dengan banyak membaca, mengikuti pelatihan, menyiapkan bahan ajar dengan serius, mentransfer ilmu dengan tulus, menjawab pertanyaan dengan ramah. Memiliki attitude yang baik, tidak membusungkan dada karena gelar akademik yang dimiliki, menyapa dan menegur anak didik dengan penuh senyum sehingga timbul ikatan emosional antara guru dengan murid.
Begitu juga ketika di kantor, saling bertegur sapa, mengucapkan salam, menebarkan senyuman, tidak menyebarkan fitnah dan berburuk sangka, memberikan pelayanan dengan baik dan ramah kepada siapa saja tanpa membedakan kasta seseorang. Tidak mudah tersinggung ketika ada yang minta penjelasan dan klarifikasi, saling merangkul, asah, asih, asuh, menjauhkan diri dari sifat iri dan dengki.
Begitu juga ketika memutuskan menikahi seseorang, apakah niatnya betul-betul karena ingin melaksanakan perintah agama atau hanya sekadar melampiaskan nafsu biologis, tertarik dengan calon pendamping hidup karena bekal agama yang dimilikinya atau karena ingin menguasai harta benda dan kecantikannya. Seseorang yang memiliki niat menikah karena Allah SWT, memiliki kesadaran yang tinggi akan kewajibannya untuk mewujudkan keluarga samara, menjaga kesetiaan yang telah diikrarkan ketika ijab-qabul, tidak menuntut di luar kemampuan pasangannya, menyadari betul bahwa yang dihiasi itu bukan hanya jasmani semata, tetapi yang paling bernilai adalah perhiasan rohani, sehingga tidak mudah tergoda dengan bujuk rayu pihak lain.
Jika sebelumnya sibuk wara-wiri membonceng anak gadis yang bukan mahram, maka mulai sekarang berhijrah dengan lebih sering hadir di tempat seminar dan majelis ilmu, dan jika selama ini masih memiliki kebiasaan buruk seperti merokok, maka mulai detik ini, semuanya ditinggalkan demi menjadi pribadi yang hebat dan berkualitas.
Begitu juga halnya sebagai pedagang dan juru parkir, jika selama ini tatkala azan berkumandang masih saja sibuk melayani dan menghitung rupiah, maka detik ini langsung bergegas mengambil air wudhu dan berangkat salat berjamaah agar mendapat ridha dan berkah dari Allah. Sebagai orang tua, jika selama ini kurang meluangkan waktu bagi anak dan keluarga, maka mulai saat ini berhijrah dengan lebih peduli dan sering berkumpul bersama mereka, tidak egois dan mencari kesenangan sendiri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-h-agustin-hanafi-lc.jpg)