Breaking News:

Opini

Nasib Petani Tomat dan Pabrik Saus

Berita ini setidaknya juga akan memunculkan tiga persepsi. Dari sudut pandang kita sebagai konsumen, dan sedikit dari mereka

Editor: bakri
Nasib Petani Tomat dan Pabrik Saus
FOR SERAMBINEWS.COM
OLEH HANIF SOFYAN, Pegiat Sosial, Tinggal di Tanjung Selamat, Aceh Besar

OLEH HANIF SOFYAN, Pegiat Sosial, Tinggal di Tanjung Selamat, Aceh Besar

PETANI Buang Tomat Hasil Panen (Serambi Indonesia, 3/8/21). Setidaknya ini bukan headline berita pertama di harian terbesar di Aceh ini, dan juga bukan kasus pertama. Berita ini setidaknya juga akan memunculkan tiga persepsi. Dari sudut pandang kita sebagai konsumen, dan sedikit dari mereka sebagai produsen, serta sudut pandang ekonomi dari pakar ekonomi Aceh terbaik.

Kasus serupa sebenarnya juga pernah terjadi, ketika kita telah memiliki kapal ber-tonase besar dan panen ikan melimpah di Lampulo, tapi dengan “terpaksa” kita membuang kelebihan produksi akibat panen raya. Apakah “membuang” hasil panen atau hasil tangkapan, adalah salah satu solusi “terbaik” sebagai ungkapan kekecewaan para petani atau nelayan? Apakah ada solusi positif lain? Bagaimana sudut pandang fenomena ini dari mata konsumen, produsen dan ekonomi? Konsumen akan memandang fenomena ini sebagai kemubaziran.

Karena mereka setiap hari berbelanja membeli banyak kebutuhan harian termasuk tomat, ikan dan komoditas rumah tangga lainnya, sehingga mereka merasa sayuran tomat dan ikan tidak mungkin tidak dibutuhkan di pasaran. Sedangkan dari pihak produsen, dalam masa panen, jumlah komoditas buah tomat yang dihasilkan harian dalam hitungan puluhan ton. Dalam kondisi normal kebutuhan pasar di luar Bener Meriah adalah 90 ton, sementara saat pandemi ini menurun hanya tinggal 20 ton per hari.

Bagaimana dengan sisa produksinya yang 60 ton per hari atau 1.800 ton dalam sebulan? Dilema Permintaan-Penawaran Fenomena ini barangkali akan menjadi aneh dalam sudut pandang ekonomi skala makro. Di satu sisi, kita ingin pertanian kita swasembada-surplus, dalam skema gagasan pertanian maju, petani sejahtera. Pilihan intensifikasi (pendayagunaan pertanian) maupun diversifikasi (penambahan luas areal tanam) dijadikan solusi untuk meningkatkan sumber daya pertanian. Sebaliknya dalam kasus masa panen raya yang sangat laten terjadi justru harga jatuh, petani rugi. Belum lagi, sebagian petani menggunakan skema bantuan modal dari pedagangpengumpul dengan sistem bagi hasil 80-20 persen per produksi. Akan lebih fatal jika permodalannya mandiri. Apakah sesungguhnya pernah terpikirkan bagaimana jalan keluarnya ketika memutuskan ber-swasembada pangan? Seperti jamaknya rumus penawaran- permintaan (demandsupply), jika permintaan pasar banyak, maka produksi akan rutin berjalan dan harga stabil. Sementara jika permintaan sedikit, produksi banyak dan harga menurun. Sebaliknya jika permintaan banyak, namun produksi rendah, maka harga cenderung bergerak naik.

Namun rumus ini bisa berubah, jika terdapat “permainan” harga di tingkat pedagang-pengumpul, atau kontrol pasar yang rendah dari pemerintah. Mekanisme pasar akan bermain sesuka hatinya. Pedagang menawar dengan harga rendah dari petani, namun sebaliknya pedagang mendapat harga tinggi dari pembeli. Dalam kasus petani tomat di Bener Meriah, turunnya harga komoditas buah tomat menjadi biang kekecewaan. Harga komoditas tomat hasil panennya terjun bebas dari harga Rp 3.000-4.000 per kilo menjadi Rp 500-1.000 perkilo. Ketika permintaan pasar menurun, maka produksi semestinya harus diturunkan menyesuaikan dengan kondisi penawaran.

Tapi hal tersebut hanya berlaku fleksibel bagi komoditas yang bisa di atur mekanisme produksinya, tidak dengan komoditas pertanian, maupun perikanan, yang cenderung cepat rusak. Bahkan dalam kasus komoditas pertanian, musim panen dan musim ikan yang besar, para produsen justru akan memanfaatkan peluang banjir produksi ini dengan membelinya dengan harga murah. Artinya petani dan nelayan berharap ketika produksi tinggi akan memperoleh pendapatan yang banyak, sementara produsen berpikir, justru ketika produksi berlimpah, maka ia dapat membelinya dengan harga lebih murah.

Apalagi komoditas pertanian dan perikanan, termasuk jenis komoditas jangka pendek yang akan menjadi residu jika tidak segera dikelola dengan baik. Meskipun kasus ini bukan pertama kali terjadi dan sudah sangat lama, namun solusi terbaik hingga saat ini belum ampuh. Setidaknya jika kita mencerdasi apa kata Peter Drucker, bapak manajemen dunia, justru dalam turbulensi (situasi buruk) terdapat peluang, maka kondisi nasib petani tomat Bener Meriah adalah sebuah peluang baru bagi para investor untuk memilikirkan bagaimana seandainya Kabupaten Bener Meriah punya pabrik saus tomat!

Rantai produksinya bisa lebih pendek, karena langsung berada di pusat penghasil komoditas, dan pengolahan produknya dapat memperpanjang umur komoditas, dan naiknya kualitas harga. Dan tentu saja kepastian produksi dan kestabilan harga bagi para petani. Revitalisasi pertanian Ketika diangkat sebagai Gubernur Gorontalo pada 2001, dengan 81 persen suara pemilih, langkah 100 hari pertama Fadel Muhammad Al-Haddar, adalah revitalisasi pertanian.

Sebagian besar petani Gorontalo adalah para produsen jagung, maka Fadel memulai langkahnya dari sana. Ia mengajak semua petani memproduksi jagung terbaik, pemerintah bertugas mendorong para petani dengan berbagai kebijakan bantuan, bersama stakeholder lain mencarikan pasar atau pembeli dan melakukan pengawasan dalam distribusinya, sehingga petani mendapat kepastian akan dibawa kemana hasil panen dan dengan standardisasi harga yang tidak lagi tergantung pedagang-pengumpul, namun tergantung pada harga penjualan di pasar ekspor.

Langkah sederhana ini membuat Kabupaten Gorontalo menjadi salah satu lumbung komoditas jagung nasional. Bagaimana dengan Aceh? Bahkan jika berniat menerapkan sistem diversifitasi pertanian dengan menambah luas areal, masih sangat terbuka peluang karena masih begitu luas tanah pertanian kita yang dapat kita jadikan modal untuk membawa Aceh ber-swasembada pangan. Langkah Pemerintah Aceh dalam pengembangan bisnis model Fadel, pernah dilakukan terhadap komoditas perikanan di Pelabuhan Lampulo. Pemerintah menyediakan fasilitas pascapanen dengan mengolah hasil tangkapan ikan yang melimpah menjadi aneka produk olahan seperti; abon ikan, keumamah, dan pakan ternak, meskipun keberlanjutan program ini sampai dengan saat ini kita tidak tahu bagaimana perkembangannya. Kita berharap Pemerintah Aceh, atau di tingkat lokal di Kabupaten Bener Meriah, akan ada solusi terbaik. Apakah pemerintah memfasilitasi para investor, atau justru memberdayakan para produsen di tingkat lokal agar mau menjadi investor dalam pengembangan pabrikasi atau industri berbasis pertanian. Pilihan-pilihan yang lebih produktif dengan sistem pabrikasi menjadi solusi menarik.

Tidak saja soal pemanfaatan tenaga kerja yang banyak, pembukaan lapangan kerja, namun pemberdayaan petani tomat dan sayuran, sehingga petani tidak lagi dihantui lingkaran setan permainan harga atau harus membuang hasil kerja kerasnya. Apakah kita masih akan membantah jika polemik tentang kemiskinan di Aceh akan terus muncul jika model kasus model petani tomat di Bener Meriah terus terjadi dan bahkan bisa menjalar pada petani komoditas lain. Bagaimana dengan peluang terbukanya industrialisasi atau setidaknya pabrikasi di Aceh seperti dalam kasus para petani di Bener Meriah? Pemerintah harus menjawabnya melalui stimulasi kebijakan yang mendukung sektor ekonomi, memfasilitasi daerah dengan infrastruktur yang memadai, kondusifitas operasional produksi, jalur distribusi dan bantuan system pemasaran dengan membuka peluang pasar ekspor dengan memanfaatkan kerjasama multilateral seperti halnya Indonesia Malaysia- Thailand-Growth Triangle (IMT-GT) agar semakin cetar membahana.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved