Jumat, 24 April 2026

Internasional

Pesepakbola Wanita Afghanistan Menangis Saat Minta Bantuan, Khawatirkan Nasib Pemain Muda

Seorang pesepakbola wanita Afghanistan, Khalida Popal menangis saat menyampaikan permintaan bantuan melalui telepon.

Editor: M Nur Pakar
AP
Khalida Popal, mantan kapten tim nasional sepakbola wanita Afghanistan di Kopenhagen, Denmark. 

SERAMBINEWS.COM, LONDON- Seorang pesepakbola wanita Afghanistan, Khalida Popal menangis saat menyampaikan permintaan bantuan melalui telepon.

Dalam panggilan telepon dan pesan suara yang panik, dapat terdengar kesedihan dan permintaan bantuan yang penuh air mata.

Para pemain muda sepakbola di tim nasional wanita Afghanistan yang Popal bantu bangun sekarang takut akan hidup mereka.

Setelah Taliban menyapu untuk mendapatkan kembali kendali atas negara itu setelah dua dekade.

Ketika mereka menelepon, yang bisa dilakukan Popal hanyalah menasihati untuk meninggalkan rumah.

Melarikan diri dari tetangga yang mengenal mereka sebagai pemain perintis, dan mencoba menghapus sejarah mereka.

Khususnya aktivisme melawan Taliban yang sekarang membangun kembali Imarah Islam Afghanistan.

Baca juga: China Siap Memperkuat Hubungan dengan Penguasa Baru Afghanistan, Taliban

"Saya telah mendorong untuk menghapus saluran media sosial, menghapus foto, melarikan diri dan menyembunyikan diri," kata Popal kepada The Associated Press (AP) dari Denmark, Selasa (17/8/2021).

“Itu menghancurkan hati saya karena selama bertahun-tahun kami telah bekerja untuk meningkatkan visibilitas wanita," katanya,.

Sekarang saya mengatakan kepada wanita saya di Afghanistan untuk tutup mulut dan menghilang atau nyawa mereka dalam bahaya,” katanya.

Popal yang berusia 34 tahun hampir tidak dapat memahami kecepatan runtuhnya pemerintah Afghanistan.

Juga perasaan ditinggalkan oleh negara-negara Barat yang membantu menggulingkan Taliban pada tahun 2001.

Setelah melarikan diri bersama keluarganya setelah Taliban merebut Kabul pada tahun 1996, Popal kembali ke Afghanistan dua dekade lalu sebagai remaja di kamp pengungsi di Pakistan.

Dengan perlindungan masyarakat internasional, Popal merasa optimis hak-hak perempuan akan dimajukan.

“Generasi saya memiliki harapan untuk membangun negara, mengembangkan situasi untuk generasi perempuan dan laki-laki berikutnya di negara ini,” katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved