Breaking News:

Opini

Covid-19 : Pandemi yang Memilukan!

AWAL September 2019, dunia dikejutkan oleh munculnya kasus penyakit covid- 19 yang terjadi di Wuhan, China. Melalui media sosial memberitakan

Editor: bakri
Covid-19 : Pandemi yang Memilukan!
FOR SERAMBINEWS.COM
Saifuddin A. Malik, SKM, Kabid Kesmas Dinkes Kota Banda Aceh dan Ketua PERSAKMI Aceh

Oleh Saifuddin A. Malik, SKM, Kabid Kesmas Dinkes Kota Banda Aceh dan Ketua PERSAKMI Aceh

AWAL September 2019, dunia dikejutkan oleh munculnya kasus penyakit covid- 19 yang terjadi di Wuhan, China. Melalui media sosial memberitakan tentang keganasan serangan Covid-19 yang mematikan. Jumlah korban terus berjatuhan. Begitu ganasnya, Covid-19 digambarkan sebagai momok yang menakutkan. Akhirnya Januari 2020, Pemerintah China memutuskan Kota Wuhan ditutup untuk dikunjungi. Dalam waktu yang cepat, pertanggal 23 Maret 2020, sudah 300.000 kasus yang terkonfirmasi positif. Begitu terkejut dan mengkhawatirkannya serangan Covid-19 yang kemudian dikenal dengan sebutan corona, menyebabkan dunia waspada.

Menggunakan data kasus dari Wuhan dan beberapa negara yang sudah terjangkit, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Covid-19 sebagai wabah yang bersifat pandemi. WHO mendeteksi bahwa Covid-19 menyebar dan menular dengan cepat ke seluruh dunia. Banyak negara maju dengan sistem kesehatan yang telah mapan dan mumpuni ternyata sangat kewalahan menghadapi serangan mendadak dan mengejutkan tersebut.

Sampai saat ini, semua negara sedang mati-matian berjuang melawan serangan Covid-19. Segala daya upaya dikerahkan. Semua sumber daya yang tersedia digunakan dan berharap menang melawan Covid-19 ini, termasuk negara kita Indonesia. Di Indonesia, kasus Covid- 19 ditemukan ketika dua orang warga negara terkonfirmasi positif tertular dari warga Jepang tertanggal 2 Maret 2020. Sejak itu, kasus demi kasus terus bertambah dan menyebar ke seluruh tanah air.

Data dari laman resmi kemenkes.go.id, hingga Rabu, 1 April 2020 saat itu, jumlah kasus positif Covid-19 telah mencapai 1.677 dengan angka yang meninggal 157 orang. Begitu cepatnya sebaran Covid-19 menginfeksi warga, tentunya mengkhawatirkan dan membuat gundah gulana seantero nusantara. Pada 13 April 2020, melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 12 Tahun 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa Covid-19 sebagai bencana nasional. Sejak itulah, pemerintah Indonesia sesegera mungkin mempersiapkan rencana dan upaya intervensi terhadap serangan Covid-19 ini.

Semua jajaran dan pemangku kebijakan di berbagai daerah baik propinsi maupun kabupaten kota di Indonesia bersiap dan mengatur sistem perlawanan terhadap serangan Covid-19. Dalam penanganan Covid- 19 ini, perlawanan tidak cukup hanya dilakukan oleh sektor kesehatan sendiri. Terlalu besar lawan yang dihadapi. Memerlukan bantuan dan dukungan dari berbagai sektor dan masyarakat. Sehingga diperlukan koalisi besar agar bisa menang. Para pakar kesehatan dan ekonom harus bersatu. Misi utama focus mengatasi pandemi dan menyelamatkan manusia. Pandemi yang memilukan Sampai tulisan ini ditulis, situasi kurva pandemi di Indonesia cebderung naik. Tercatat jumlah korban yang terkonfirmasi positif Covid- 19 sebanyak 3.774.155 orang.

Jumlah yang sembuh 3.247.715 orang dan yang meninggal sebanyak hampir 113.664 orang. Angka kesembuhan nasional 86.7%. Semntara di Propinsi Aceh, data terakhir diinformasikan melalui laman Covid-19. acehprov.go.id pertanggal 11 Agustus 2021 bahwa jumlah yang terkonfirmasi positif sebanyak 26.128, dalam perawatan 6.432 orang dan yang sudah sembuh dari corona sebanyak 18.595 orang. Data-data ini menggambarkan kepada kita betapa cepat dan ganasnya penularan virus ini.

Serangannya terus terjadi. Seakan tidak mengenal siapapun. Sehingga pemerintah memutuskan untuk mengambil sikap menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang awalnya seminggu, diperpanjang lagi seminggu, dan seterusnya. Kebijakan ini bertujuan untuk menahan laju dan memutus mata rantai penularan virus corona agar tidak menelan banyak korban sakit dan kematian. Banyak kisah pilu dan penderitaan dari suatu wabah yang menelan banyak korban dan kematian. Ada ribuan korban terserang penyakit ini sampai menelan kematian di berbagai tempat. Anak-anak menjadi yatim karena orang tuanya meninggal. Saudara atau sahabat banyak yang pergi begitu cepat. Kematian disebabkan corona ini terkadang tidak diduga.

Ketika pagi hari bertemu dalam keadaan sehat, namun di malam hari sudah terdengar melalui pengeras suara di meunasah telah meninggal dunia. Kalau kita menanyakan kepada keluarga yang ditinggalkan, tentu akan banyak kisah dan kepiluan yang bisa di ceritakan. Barangkali tidak cukup halaman dan kertas untuk menuliskannya. Di sisi lain, para pelayan kesehatan baik tenaga medis, perawat dan tenaga penunjang lainnya, juga mempunyai cerita sendiri ketika melakukan perawatan kepada pasien corona ini.

Baik di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, tenaga kesehatan selalu bersemangat melayan isesuai standar. Walaupun pada saat yang sama mereka harus juga berhati- hati dan waspada agar tidak tertular virus. Sebab para pelayan kesehatan ini juga kerap tertular virus ini dan tidak sedikit yang telah meninggal dunia. Karena itu, siapapun kita dan dimanapun berada, tetap saya menyampaikan imbauan bahwa mencegah jatuh sakit jauh lebih baik dari mengobati saat sudah sakit.

Mengobati dan merawat merupakan salah satu tindakan terbaik dalam menyelamatkan pasien dari penderitaannya karena sakit. Pemulihan kesehatan pasca pengobatan dan perawatan juga upaya yang tidak kalah pentingnya untuk menjaga kondisi fisik agar tetap normal pasca sakit. Walaupun terkadang, tidak semua proses pengobatan dan perawatan pasien Covid-19 dapat berhasil sembuh. Banyak juga berakhir dengan kematian. Maka pilihan terbaik menghindari tertular virus corona ini adalah mencegah. Melakukan upaya pencegahan tidak terlalu rumit.

Cukup dengan melaksanakan 5 M, memakai masker dimanapun berada, mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, menjaga jarak ketika berhubungan sosial, menghindari setiap ada kerumunan dan keramaian serta mengurangi mobilitas di luar rumah bila tidak sangat penting. Sangat mudah dilakukan, murah dan aman. Pertanyaannya, mengapa hal tersebut belum maksimal dilaksanakan di masyarakat kita? Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Salah satunya adalah belum ada kesepahaman bersama tentang Covid-19 ini.

Masih ada sekelompok masyarakat yang belum percaya tentang adanya Covid-19 ini. Beberapa tokoh masyarakat meragukan keabsahan penyakit ini dikaitkan dengan politik dan ekonomi global. Fakta lainnya bahwa perilaku masyarakat tertentu yang masih tidak sejalan dengan upaya pencegahan dan gaya hidup sehat. Sebetulnya, kita tidak sedang mendebat ketidakpercayaan mereka terhadap tidak adanya Covid-19. Itu adalah hak berpendapat dan bersikap mereka. Imbauan minimal kita sebenarnya adalah ikut serta menaati peraturan yang sudah ada saja, sudah cukup.

Fenomena teranyar yang bisa kita lihat melalui medsos dari kalangan ini adalah adanya sekelompok masyarakat adat di Papua yang tidak percaya dengan Covid-19 dan membakar semua masker sebagai wujud bantahan adanya Covid-19. Jauh sebelumnya, di berbagai media sosial juga bisa kita lihat berbagai kelompok atau perseorangan yang nyata-nyata menyatakan bahwa Covid-19 tidak ada. Walaupun kemudian banyak kasus tersebut diusut aparat dan berakhir dengan minta maaf.

Kita berharap, dengan banyaknya fakta korban yang meninggal Covid-19 ini, menjadi pelajaran kepada kita semua bahwa penting bagi kita melakukan upaya mencegah sakit daripada menunggu jatuh sakit. Sesungguhnya ikhtiar itu wajib dilakukan untuk menghindari diri dari ancaman kehilangan jiwa.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved