Breaking News:

Salam

“Kursi  Goyang” PM Malaysia untuk Ismail?

Ismail Sabri Yaakob hampir pasti menduduki kursi jabatan Perdana Menteri (PM) Malaysia menggantikan Muhyiddin Yassin

Editor: bakri
Twitter @IsmailSabri60
Ismail Sabri Yaakob. 

Ismail Sabri Yaakob hampir pasti menduduki kursi jabatan Perdana Menteri (PM) Malaysia menggantikan Muhyiddin Yassin yang mengundurkan diri beberapa hari sebelumnya. Raja Malaysia Sultan Abdullah Ahmad Shah memang belum memutuskan secara resmi. Tapi Wakil Presiden Partai UMNO itu dikabarkan meraih dukungan terbanyak. Jumlahnya mencapai 114 suara. Untuk menjadi PM, dia minimal butuh 111 suara.

Ismail adalah pengacara dan sempat duduk di posisi menteri beberapa kali ketika UMNO berkuasa. Dia berulang-ulang membuat pernyataan yang kontroversial. Misalnya pada 2015 lalu dia mendesak konsumen Melayu untuk memboikot bisnis orang Tionghoa. Dia juga dikecam karena mendukung industri vape. Padahal kementerian kesehatan sudah memperingatkan dampak buruknya.

Sultan Abdullah Ahmad Shah, Yang Dipertuan Agong ke-16, sudah memanggil legislator yang mendukung Ismail sebagai kandidat PM. Mereka ditanyai satu per satu terkait dukungannya. ’’Dalam pertemuan itu anggota parlemen menyebutkan nama dan dari daerah pemilihan mana serta menyatakan bahwa dukungan mereka bersifat sukarela dan tanpa paksaan,’’ tegas Sekjen UMNO Ahmad Maslan seperti dikutip Malaysia Mail. Dia menegaskan, dalam pertemuan itu  tidak ada pembahasan tentang susunan kabinet dan siapa saja yang mungkin akan ada di dalam kabinet baru nantinya.

Dengan jumlah dukungan tersebut, artinya semua anggota koalisi Perikatan Nasional (PN) bersatu mendukung Ismail Sabri Yaakob. Dan, Muhyiddin Yassin mengakui dukungan terbanyak yang diraih Ismail Sabri. Muhyiddin Yassin juga berjanji tidak ingin menjalankan politik balas dendam. Kekuasaan Muhyiddin memang runtuh gara-gara UMNO menarik dukungan. Meski begitu, dukungan untuk Ismail Sabri juga memiliki syarat-syarat. ’’Dia harus memastikan bahwa kabinetnya terdiri dari orang-orang yang berintegritas tinggi, dapat dipercaya serta bebas dari tuntutan pidana di pengadilan.’’

Beberapa tokoh UMNO memang tersandung skandal korupsi 1MDB. Itu yang membuat kekuasaan mereka runtuh dalam pemilu 2018 lalu. Salah satu dalang utama skandal itu adalah mantan PM Najib Razak. Dia kini masih menjabat sebagai legislator Malaysia. Proses hukum persidangan kasus korupsi Najib masih berjalan. Total dia dijerat dengan 42 dakwaan kriminal mulai korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga pencucian uang.

Terlepas dari syarat dukungan tersebut, penunjukkan Ismail tetap saja akan dilihat sebagai kebangkitan UMNO. Partai tersebut memimpin Malaysia sejak merdeka dari Inggris pada 1957-2018. Terpilihnya Ismail juga berarti bahwa koalisi PN tetap berkuasa.

Di sisi lain, jika nanti Ismail terpilih, maka Anwar Ibrahim sekali lagi gagal menduduki kursi PM. Koalisi Pakatan Harapan hanya memiliki 88 kursi. Bahkan ketika semua partai oposisi bergabung, Anwar kemungkinan besar hanya memiliki 105 dukungan.

Pengamat Politik dari Singapore Institute of International Affairs Ei Sun Oh pesimis terpilihnya Ismail akan diterima penduduk Malaysia. Sebab artinya tongkat kepemimpinan masih dipegang PN, hanya beralih dari Muhyiddin ke Ismail. Di era Muhyiddin, Ismail sempat menjabat Menteri Pertahanan dan Wakil PM. ’’Penduduk yang menginginkan perubahan pada pemilu 2018 tidak akan menyukai penunjukkannya (Ismail) dan itu akan menjadi penunjukkan (PM) tanpa melalui pemilu. Jadi polarisasi bakal terus berlanjut.’’

Itulah sebabnya kita sebut “kursi goyang” PM Malaysia. Pertama seperti dikatakan pengamat politik tadi bahwa pemilihan tanpa pemilu akan tetap melanjutkan politik polarisasi. Kedua, keberadaan Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohammad tetap menjadi faktor yang membuat siapaun yang duduk di kursi PM tidak akan nyaman. Najib Razak, Muhyiddin Yassin adalah dua tokoh yang sudah merasakan bagaimana pengaruh Anwar dan Doktor M di dalam parlemen maupun di luar lembaga legislatif.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved