Senin, 20 April 2026

Luar Negeri

Baku Tembak Pecah di Bandara Kabul, Libatkan Pasukan AS dan Jerman

Insiden tersebut melibatkan orang-orang bersenjata tak dikenal, pasukan negara-negara Barat, dan penjaga Afghanistan.

Editor: Faisal Zamzami
AFP PHOTO/AHMAD SAHEL ARMAN
Seorang milisi berdiri bersama anggota pasukan pemerintah Afghanistan pada 19 Agustus 2021. Wakil Presiden Amrullah Saleh dan pemimpin milisi lokal Ahmad Massoud dilaporkan membentuk kembali kelompok perlawanan terhadap Taliban di Lembah Panjshir.(AFP PHOTO/AHMAD SAHEL ARMAN) 

SERAMBINEWS.COM, KABUL – Baku tembak dilaporkan pecah di Gerbang Utara bandara Kabul, Afghanistan, pada Senin (23/8/2021).

Insiden tersebut melibatkan orang-orang bersenjata tak dikenal, pasukan negara-negara Barat, dan penjaga Afghanistan.

Baku tembak itu meletus ketika ribuan warga Afghanistan dan orang asing memadati bandara, berusaha melarikan diri dari kekuasaan Taliban.

Akibat peristiwa tersebut, seorang penjaga Afghanistan dilaporkan tewas dan tiga lainnya terluka sebagaimana dilansir Reuters.

Militer Jerman, Bundeswehr, melaporkan bahwa baku tembak itu juga melibatkan pasukan AS dan Jerman.

 Kendati demikian, Bundeswehr tidak merinci apakah penjaga Afghanistan yang tewas itu adalah salah satu milisi Taliban yang dikerahkan untuk menjaga bandara.

Bandara Kabul menjadi kacau sejak Taliban merebut kota tersebut pada 15 Agustus.

Negara-negara Barat, termasuk AS, mencoba mengevakuasi orang-orangya dan warga Afghanistan yang bekerja untuk mereka.

Baca juga: Pentolan Al Qaeda Paling Diburu Amerika Muncul Bersama Taliban, Bahas Pemerintahan Baru Afghanistan

Baca juga: Lembah Panjshir Bakal Jadi Arena Perang, Taliban Kerahkan Pejuang Untuk Serang Pasukan Ahmad Massoud

Pada Minggu (22/8/2021), milisi Taliban mencoba membubarkan kerumunan di bandara Kabul, selang sehari setelah tujuh warga Afghanistan tewas dalam bentrokan di gerbang.

Di sisi lain, pasukan asing di Afghanistan belum berusaha untuk memperpanjang tenggat waktu untuk meninggalkan negara tersebut yang disepakati pada 31 Agustus.

Presiden AS Joe Biden bahkan sempat mengatakan, pasukannya mungkin akan tinggal lebih lama di Afghanistan guna mengawasi proses evakuasi yang dia anggap sulit dan menyakitkan itu.

Pada Minggu, Biden menuturkan bahwa situasi keamanan di Afghanistan berubah dengan cepat dan masih berbahaya.

“Biar saya perjelas, evakuasi ribuan orang dari Kabul akan sulit dan menyakitkan,” kata Biden di Gedung Putih.

Ketika ditanya apakah Washington akan memperpanjang tenggat waktunya untuk evakuasi, Biden menjawab, dia berharap tidak sampai melakukannya.

“Harapan kami adalah kami tidak perlu memperpanjang tetapi akan ada diskusi,” jawab Biden.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved