Breaking News

Berita Aceh Singkil

Warga Singkil Mulai Geluti Bisnis Ayam Broiler, Kini tak Lagi Andalkan Pasokan dari Sumut

Bisnis ayam yang biasa disebut juga ayam ras pedaging itu, mampu memenuhi kebutuhan lokal masyarakat ibu kota Kabupaten Aceh Singkil. Sehingga tidak

Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI
Ayam broiler yang dibudidayakan warga Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Rabu (1/9/2021). 

Bisnis ayam yang biasa disebut juga ayam ras pedaging itu, mampu memenuhi kebutuhan lokal masyarakat ibu kota Kabupaten Aceh Singkil. Sehingga tidak lagi mengandalkan pasokan dari wilayah Sumatera Utara (Sumut).

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Warga Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, mulai geluti bisnis ayam broiler.

Bisnis ayam yang biasa disebut juga ayam ras pedaging itu, mampu memenuhi kebutuhan lokal masyarakat ibu kota Kabupaten Aceh Singkil. 

Sehingga tidak lagi mengandalkan pasokan dari wilayah Sumatera Utara (Sumut). 

Bahkan hasil budidaya ayam broiler warga Singkil, dikirim ke Pulau Nias, Sumut. 

"Selain penuhi kebutuhan lokal Singkil, ayam yang kami pelihara dikirim ke Nias," kata Fendi Pulungan pembudidaya ayam broiler di kawasan Pulo Sarok, Singkil, Rabu (1/9/2021).

Uniknya, Fendi, budidaya ayam broiler dengan memanfaatkan bagian belakang rumahnya.

Baca juga: Tim PKM Fakultas Pertanian Unsam Langsa Latih Wanita Peternak Ayam di Medang Ara

Usahanya itu mampu membuka lapangan kerja pemuda setempat sebanyak lima orang. 

Awalnya sebut Fendi, tujuan budidaya ayam broiler untuk menyiasati kesulitan ekonomi pada masa pandemi Covid-19.

"Walau belum meraih keuntungan, namun setidaknya pada masa pandemi budidaya ayam ini cukup membantu," ujarnya. 

Sebagai dokter hewan, Fendi juga mampu siasati bau dari kotor ayam tidak terlalu menyengat.

Sehingga, tetangga sekitar tidak keberatan.

Kapasatas kandang ayam yang diusahakan secara mandiri sekitar 5.500 ekor.

Fendi mulai menjual ayam peliharaannya setelah bobotnya 1,8 sampai 1,9 kilogram. 

Per hari pasaran di Singkil habis sekitar 200 ekor.

Sementara yang dijual ke Nias sekitar 700 ekor atau kira-kira 1,5 ton sekali kirim. 

"Agar bisa kirim seminggu tiga kali ke Nias, dalam tiap kandang usia ayam dibuat berbeda," tukasnya.(*) 

Baca juga: Ternyata Bakso dan Mie Ayam Berbahaya Bagi Wanita, Hati-hati! Simak Penjelasan Dr Zaidul Akbar

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved