Damai Aceh

Sekjen DPR Indra Iskandar: Spirit Masa Lalu Aceh dapat Diadopsi untuk Atasi Masalah Aceh Saat Ini

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Malik Mahmud yang diharapkan memberi pandangan dan pemikiran dalam acara tersebut, ternyata tidak bisa hadir mesk

Penulis: Fikar W Eda | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
: Sekjen DPR RI Indra Iskandar (ketiga dari kanan) bersama panitia Refleksi 16 Tahun MoU Helsinki. 

Laporan Fikar W Eda I Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Sekjen DPR RI Dr Ir Indra Iskandar Msi menyatakan Aceh pernah jaya seperti yang diperlihatkan oleh Sultan Iskandar Muda, dilanjutkan dengan perlawanan terhadap kolonialis Belanda.

Spirit masa lalu itu bisa diambil untuk mengatasi persoalan Aceh di masa kini.

Indra Iskandar memompakan semangat tersebut dalam “Refleksi 16 Perdamaian Aceh: Siapa Mendapat Apa, Kenapa, Bagaimana,” secara virtual, diselenggarakan Riset Politik Indonesia, Selasa (31/8/2021) malam.

Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Malik Mahmud yang diharapkan memberi pandangan dan pemikiran dalam acara tersebut, ternyata tidak bisa hadir meski secara virtual.

Sementara Gubernur Aceh diwakili Kepala Dinas Sosial Aceh Dr Yusrizal.

Baca juga: Kunjungi Pelatnas Angkat Besi, Gubernur Semangati Dua Lifter Asal Aceh

Baca juga: Ali Mughayat Syah, Pelopor Kedigdayaan Islam di Asia Tenggara

Acara yang berlangsung lebih dari dua jam, menghadirkan sederet pembicara, terdiri dari Menteri ATR / Kepala BPN. Sofyan A. Djalil, SH., MA., M.ALD, Ph.D, Sekjen DPR Dr. Ir. Indra Iskandar, M.Si, Dirjen Bina Administrasi dan Wilayah dari Kemendagri, Dr. Drs. Safrizal, ZA,M.Si, Ketua Forbes DPD - DPR RI asal Aceh. H.M. Nasir Djamil, M.Si, Ketua Komite I DPD RI, Fachrul Razi, M.IP, Wakil Ketua Komite II DPD RI, Dr. Ir. H. Abdullah Puteh, M.Si dan Politisi senior, Dr. Ahmad Farhan Hamid, M.S

Selanjutnya, juga ada Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng, Ketua DPR Aceh, H. Dahlan Jamaluddin, S.IP, Ketua Umum Pengurus Besar, Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB. HUDA), Tgk. H. Muhammad Yusuf A. Wahab, pengamat dari Malaysia Prof. Dr. Ramasamy, Wakil Gubernur Aceh, Periode 2007-2012, Muhammad Nazar, S.Ag, aktivis Kemanusian dan Founder FF De Facto, Feri Kusuma, SH., MH, Presidium Balai Syura Urueng Inong Aceh, Suraiya Kamaruzzaman, ST., MT, Aktivis Perempuan Aceh, Cut Asmaul Husna dan Pemerhati Perdamaian, Syufaini Usman.

“Semangat perlawanan terhadap kolonial menjadi spirit di masa kini dan masa datang. Melihat keadaan itu seharusnya Aceh mampu mengatasi persoalan,” ujarnya.

Lalu bagaimana Aceh bisa mencapai kemajuan? Indra Iskandar menyebutkan ada tiga syarat, yaitu kualitas sumber daya manusia terdidik dan berkeadilan, sumber daya alam, dan lingkungan budaya politik yang cukup.

“Apabila tiga hal ini tidak tersedia akan menciptakan persoalan,” ujarnya.

Ia lalu menyodorkan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi persoalan Aceh.

Pertama, perluasan akses masyarakat miskin kepada pendidikan, perbaikan infrastruktur dasar pendidikan, memberi perlindungan sosial. Kemudian perluasan

kesempatan berusaha, antara lain memfasilitasi anak muda Aceh dalam ekonomi kreatif. Ketiga adalah optimalisasi otonomi khusus Aceh.

Indra juga menyatakan, melihat realitas historis Aceh, semestinya membuat Aceh lebih baik dari daerah lain.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved